
“Tunggu, Nad … bisakah mulai dari sekarang kamu biasakan memanggilku dengan sebutan selain ‘om’ walau aku ini sahabat pamanmu, tapi aku masih pantas kan untuk menjadi kekasihmu seperti yang sering kita dengar saat jalan bersama dari orang-orang? Panggil aku mulai sekarang dengan sebutan mas Ferdi?” Ferdi dengan sengaja menahan jemari Nadia untuk menunggu jawaban dari bibir gadis itu.
Nadia mengerutkan dahi. Bagaimana mungkin teman pamannya itu minta dipanggil dengan sebutan mas? Apakah itu pantas? Namun, dirinya tak ingin membuat Ferdi merasa sedih jika menolak permintaan sahabat pamannya itu. Ferdi sudah terlalu banyak membantunya dan Bagas selama ini, bahkan berkat pria itu umur pamannya masih dinyatakan sebagai manusia hidup walau bergantung pada peralatan medis.
‘Mas Ferdi … ya, aku akan melakukan apa saja yang dimintanya selagi mampu melakukannya. Mana mungkin aku menolak permintaan Om Ferdi hanya untuk memanggilnya dengan sebutan Mas, apalagi kami sudah memiliki perjanjian untuk pura-pura menjadi sepasang kekasih,’ ujarnya dalam hati.
“Baiklah, Om, eh Mas Ferdi … Nadia ke sekolah dulu, assalamu’alaikum,” ucapnya sebelum turun dari mobil dan sedikit berlari memasuki gerbang sekolah.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Ferdi menyunggingkan senyum dengan sedikit menggigit bibir bagian bawahnya karena merasa gemas saat mendengar suara Nadia memanggilnya dengan sebutan ‘mas’ pria itu menatap punggung Nadia yang makin lama makin menghilang hingga tak terlihat lagi.
Tanpa Ferdi sadari kalau adiknya sebenarnya sejak tadi memperhatikan pergerakan sang kakak dengan mobil yang lumayan lama berhenti tetapi sang penumpang yang diantar belum juga turun. Ada rasa curiga yang sempat masuk dan terlintas di dalam kepala Renaldo. Apa sebenarnya yang dilakukan Abangnya bersama Nadia di dalam mobil hingga gadis polos itu belum juga turun dari mobil kakaknya? Apakah mereka sudah jadian?
“Ekhem, kayaknya ada yang lagi kasmaran nih sampai nggak nyadar diperhatiin dari tadi juga tapi gadisnya Abang malah nggak turun-turun dari mobil, emang kalian habis ngapain berdua?” Renaldo dengan sengaja menggoda sang kakak selaras alisnya yang sengaja dinaik turunkan, membuat Ferdi spontan melemparkan kotak tisu yang ada di atas dashboard mobilnya.
__ADS_1
“Apaan sih omongan lo? Emang gue ngapain ama Nadia dalam mobil? jadi bocah Sok tau banget! Bilang aja lo iri kan karena bentar lagi Abang lo yang super tampan ini bakal punya gendengan jauh lebih muda dan wajahnya super duper cantik, betul nggak sih yang Abang omongin?” Ferdi dengan sengaja memperbaiki kerah bajunya yang sebenarnya sudah rapi.
“Ngapain juga gue iri sama Nadia, tapi kalau nanti Abang sia-siain dia baru bakal gue rebut dari lo, Bang! Gue sengaja nungguin abang nih, soalnya lo disuruh sama papa untuk pulang! Katanya acara pesta tunangan lo ama kak Firda mau dipercepat,” beritahu Renaldo yang memang dengan sengaja menunggu Nadia datang ke sekolah sebab menurut Kevin waktu dihubungi sama Rei, asisten abangnya itu mengatakan kalau pagi-pagi sekali Ferdi telah pergi ke rumah sakit menemui Nadia.
“Bilang sama papa biar lo aja yang tunangan sama Firda, gue bakal ngejar temen lo dan bakal nikahin dia. Lo setuju kan kalau gue nikah ama Nadia? Gue hanya butuh Nadia untuk dampingin hidup gue sampai mati nanti karena gue nggak pernah ada rasa sama cewek lain,” ucapnya sembari membuka laci dashboard begitu santai untuk mengambil sesuatu.
“Buset deh, Abang ngomong nggak kira-kira, masak gue mau dijodohin sama tante-tante kayak dia hahaha anjir lo, Bang … gue jijik liat tuh wajah tante Fifir eh Firda maksudnya. Liat bibir merahnya aja kek mirip pantatt monyet, mana merah menyala lagi!” Renaldo mengibaskan tangannya memperlihatkan wajah tak suka.
Rei yang sudah menduga semua itu, sama sekali tidak terkejut mendengar pengakuan kakaknya yang menolak bertunangan dengan Firda entah untuk yang ke berapa kalinya. Apalagi sejak dekat dengan Nadia, Abangnya itu memang secara tidak langsung sudah sering memperlihatkan isyarat bagaimana bucinnya dia pada keponakannya asistennya sendiri, terlebih sejak Renaldo mengantar Nadia ke rumah sakit hingga membuat Abangnya itu cemburu tak menentu.
“Tapi Nadia itu kan seumuran ama gue Bang, emangnya lo nggak takut dibilangin Pedofil sama orang?” tanya Renaldo mencari keseriusan lewat mata kakaknya.
Dia hanya tidak ingin Ferdi menjadikan Nadia sebagai gadis untuk sekedar permainan semata, walau dari cara dan sikap sang kakak begitu sangat berbeda ketika memperlakukan Nadia dengan lembut, berbeda sekali dengan caranya memperlakukan wanita lain karena Ferdi terkenal dingin, arogan dan begitu cuek terhadap seorang perempuan.
__ADS_1
“Yang penting Nadia itu kan udah lewat masa remajanya, lagian ngapain lo kepo banget sama Nadia? Jangan bilang lo juga suka sama calon kakak ipar lo sendiri!” Ferdi menatap tajam wajah adiknya, memindai wajah sang adik tentang apa yang dirasakan Renaldo terhadap Nadia.
“Awas aja kalau lo sampai suka sama Nadia, motor ama seluruh fasilitas dari gue bakalan gue tarik lagi, dan lo biar jadi gembel plus sengsara hidup sama papa - mama! Tugas lo sekarang jagain Nadia baik-baik, jangan sampai dia dekat sama cowok lain atau jangan sampai ada cowok yang naksir ama dia!” tegasnya memberikan sang adik perintah seolah-olah Renaldo adalah karyawannya saja, membuat cowok dengan pakaian putih abu-abu itu berdecak lidah dengan kesal.
Renaldo tersenyum licik ingin sekali menjahili kakaknya yang terlihat begitu bucin pada Nadia hingga bisa cemburu terhadap dirinya sendiri yang hanya sekedar berteman dengan Nadia. Walau jauh di dalam lubuk hati Renaldo, tentu saja cowok itu juga ikut kagum akan kepintaran dan juga kepolosan seorang Nadia dengan wajah sederhana tanpa pernah mengenakan make up tebal seperti teman-teman cewek yang lainnya.
“Bagaimana kalau seandainya bukan gue yang suka sama dia tapi Nadia yang duluan nyatain cinta sama gue, Bang Ferdi nggak bakalan ngelarang kan kalau seandainya Nadia suka ama gue terus jadi kekasih gue?” Renaldo menaikkan sebelah alisnya, melihat ekspresi Ferdi yang langsung berubah dingin.
‘Kayaknya gue harus kabur sekarang deh ketimbang nanti kena libas, terus motor ditarik lagi ama dia. Ditambah ATM gue nanti nggak bakal nambah di awal bulan jika bikin bang Ferdi marah!’ Renaldo bergumam di dalam hati dengan tangan sebelah membuka pintu mobil dan berlalu pergi meninggalkan Ferdi yang terpaku mengingat kalimat yang dipertanyakan adiknya.
“RENALDO!!”
Uni baru nerbitin buku baru di sini juga dengan judul RAHIM SEWAAN TUAN MUDA
__ADS_1