
[Bang, buruan ke rumah sakit! Gue ada acara sama Nando gak bisa jagain lama-lama cewek inceran lo! Dilariin cowok lain baru tau rasa, lagian udah jemput ke sekolah ngapa gak langsung nyamperin sih? Untung Nadia sam gue, coba kalo sama ketos kami, dia suka loh sama Nadia]
Send
Renaldo sengaja mengirimkan pesan seolah dirinya tahu kalau sang abang pasti batal menjemput Nadia setelah mengetahui kalau dirinya sedang bersama dengan gadis itu.
Abangnya itu sangat sayang padanya, tentu saja hal seperti itu langsung bisa terbaca sama Renaldo, karena dia tau persis sifat sang abang yang selalu mengalah demi kebaikannya. Namun, kali ini Rei ingin sekali saja membuat senyum sang kakak mengembang sempurna dan tidak mengira kalau dirinya juga menyukai gadis yang jadi incaran kakaknya.
Rei melihat pesannya dibaca tapi tidak mendapatkan balasan, cowok itu jadi gemes sendiri sama sikap abangnya.
[Kalau Abang gak mau dateng juga, gue bakal nelponin Rangga si ketos SMA Tunas Bangsa, biar dia punya celah ngungkapin cintanya ama Nadia daripada lo yang pengecut!]
Send
__ADS_1
Ternyata pesan yang dikirimkan Renaldo barusan langsung mendapatkan respon dari sang kakak, terbukti dengan adanya Ferdi sedang mengetik yang menandakan sang kakak langsung akan membalas pesannya, rupanya Ferdi tersulut emosi dengan chat yang baru dikirim adiknya.
[Awas aja lo kalo sampe jadi mak comblang si ketos sekolah lo itu, bakal gue setop uang jajan lo! Dalam lima menit gue sampe sana, jangan sampe Nadia lecet deketan ama lo, bakal gue ambil motor itu balik biar lo jalan kaki keman pergi!]
Pesan yang menyelipkan kata penuh ancaman itu membuat lengkungan senyum di bibir Rei. ternyata gak sia-sia dia mengorbankan rasa yang dia punya demi sang kakak. Renaldo juga merasa tidak keberatan memiliki calon kakak ipar sepantaran umur dengannya, karena Nadia adalah gadis yang sangat tepat bersama kakaknya. Nadia yang selalu suka bicara walau pun harus akrab dulu dengannya akan sangat serasi dengan abangnya yang irit bicara, terkesan dingin dengan orang lain. Bukankah itu bakal jadi pasangan yang serasi dan klop?
‘Sekarang gue tinggal nyari alasan buat pergi dan menjauh dari Nadia, kayaknya gue harus nyuruh Nando nelpon gue deh,’ gumamnya di dalam hati dan mulai mengirim pesan sama Nando.
[Nan, tolong telpon gue sekarang, penting!]
Send
Nad, aku jawab telepon dari Nando dulu ya?” ujar nya sembari melangkah sedikit jauh.
__ADS_1
“Halo, Nando, thanks ya udah nelponin gue!”
Tut-tut-tut
Panggilan pun langsung diputusnya secara sepihak tanpa ingin mendengar celotehan cowok pintar berkaca mata di kelasnya itu. Rei yakin kalau Nando pasti sedang mengumpatnya sekarang. Renaldo hanya ingin menghilang sebelum sang kakak datang, dirinya pun sudah punya alasan untuk pulang sekarang.
“Sorry ya, Nadia. Kayaknya aku gak jadi bisa menemanimu sampai sore di sini, barusan Nando nelpon minta datang ke rumahnya. Biasalah, urusan anak cowok,” katanya memberitahukan dengan sedikit cengiran walau hatinya terasa sakit karena merasa masih belum rela mundur dari sang kakak, tapi demi kebaikan semua dirinya harus mengalah.
“Ya udah deh, gak apa-apa kok, salam ya buat Nando ama teman yang lain,” sahut Nadia sembari melengkungkan bibir ke atas.
“Ya udah, kalau gitu aku ke rumah Nando dulu,” pamitnya mengambil ransel sekolah, “jaga dirimu ya! Ntar lagi abang gue palingan juga datang kemari.” Nando beranjak dan mulai pergi meninggalkan Nadia yang menatap cowok itu naik ke atas motor sport miliknya.
Nando melambaikan tangan dan memasang helm full face ke kepalanya, menstarter motor dan melaju meninggalkan sang gadis yang tinggal sendirian menatap kepergiannya.
__ADS_1
Baru saja Nadia mulai duduk di bangku panjang besi, Ferdi datang dengan senyum mengembang di bibir melihat punggung gadis yang tadi dilihatnya melambaikan tangan pada sang adik. Ada perasaan tidak suka saat melihat gadis itu tersenyum begitu manis pada sang adik tapi dirinya sendiri pun belum berhak karena mereka baru hanya sekedar punya perjanjian pura-pura berpacaran, tapi apa salah kalau dirinya merasa cemburu?
“Assalamu’alaikum, Nadia. Maaf, tadi aku gak bisa menjemputmu.”