Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 57. Matahari Kedua


__ADS_3

Gadis itu sedikit kaget saat menatap wajah sendu pria itu yang selama ini tidak pernah memperlihatkan kesedihan sedikit pun. Ferdi mempercepat langkah kakinya lalu meraih tubuhmu itu serta mendekapnya dengan mata yang terpejam.


“Mas ….”


“Biarkan aku memelukmu seperti ini lima menit saja, aku butuh pelukan darimu,” bisik Ferdi di telinga Nadia.


Pria itu sedikit menunduk menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang gadis belia. Dia tau ini sangat berlebihan tapi dirinya merasa sangat membutuhkan pelukan hangat dari Nadia. Nando yang duduk sampai melongo melihat bagaimana sifat seorang pria arogan dan pongah itu berubah bagai anak kucing yang sangat jinak di dekat Nadia.


‘Gue nggak lagi mimpi kan ngeliat bang Ferdi sangat rapuh dan manja di hadapan Nadia?’ Cowok itu mengucek kedua matanya beberapa kali sembari berdiri dan melangkahkan kaki mendekati sepasang manusia yang masih menyatu dalam sebuah dekapan hangat mendamaikan.


‘Ini sangat nyata … ternyata Bang Ferdi benar-benar takluk di hadapan Nadia. Gue kirain selama ini Renaldo cuma membual doang!’ Nando dengan cepat mengambil smartphone miliknya untuk mengabadikan kejadian langka yang belum pernah dilihatnya selama ini.


Ferdi terlihat memejamkan kedua matanya dengan mempererat pelukan bersama gadis yang saat ini benar-benar membuatnya merasa jauh lebih tenang.


“Makasih Nadia, kalau tadi sore kamu tak menjawab pertanyaanku mungkin malam ini aku tak tahu harus melabuhkan kesedihan hati ini pada siapa? Makasih karena kamu mau menerimaku apa adanya tanpa ingin melihat seberapa banyak harta benda yang dipegang oleh kedua orang tuaku.” Ferdi mengurai pelukannya dan memegangi kedua pipi Nadia, menatap Gadis itu yang ternyata juga ikutan berkaca-kaca karena mungkin sudah bisa menembak apa yang sedang terjadi dengan lelaki yang sekarang terlihat begitu sedih.


“I-ini bibir Mas Ferdi kenapa bisa biru begini, dan ini juga,” ucap Nadia dengan kedua jari kiri dan kanannya mengusap sudut bibir lelaki matang di hadapannya.

__ADS_1


Tanpa diduga air mata Gadis itu tiba-tiba saja turun melewati pipinya membuat Ferdi langsung mengusap anak sungai yang baru terbentuk itu.


“Kamu jangan pernah menangis karena sebuah kesedihan karena aku yang akan selalu membuatmu bahagia di masa depan!” Ferdi berusaha memberikan senyum dengan terpaksa walau sungguh jauh dari kata sempurna.


Sementara Nadia sendiri menggelengkan kepalanya merasa tidak percaya jika pria yang sekarang ada di hadapannya, benar-benar terlihat begitu jauh berbeda dari biasanya.


“Apa Mas Ferdi berantem dengan Tuan Regan? Apa Mas benar-benar menolak untuk menikah dengan Nona Firda?” Gadis itu mencari jawaban langsung dari pancaran yang terlihat begitu jelas di kedua bola mata Ferdi.


“Itu semua karena hatiku hanya memilihmu, Nadia! Sampai kapanpun cintaku takkan pernah terbagi dengan siapa pun kecuali dengan mamaku sendiri, dan kamu adalah gadis pertama yang berhasil membuatku merasakan semangat untuk menjadi seseorang yang berbahagia,” ucap laki-laki itu kembali menarik tubuh Nadia yang ada di hadapannya hingga membuat gadis itu akhirnya mencoba untuk mengusap punggung sahabat dari almarhum pamannya Itu.


“Tadi sore kamu udah janji sama aku, kalau nggak bakalan pernah ninggalin laki-laki yang sekarang berdiri tegak di hadapanmu walau pria ini benar-benar menjadi seseorang yang sangat miskin. Apakah Mas boleh menagih janji itu sekarang?” Suara Ferdi terdengar bergetar karena tidak menyangka jika perjanjian yang tadi sore baru mereka ucapkan harus dimintanya begitu cepat karena takut ditinggalkan sama Nadia.


“Aku janji akan berusaha membuatmu bahagia walau mungkin aku harus memiliki usaha dan bisnis dari nol lagi. Apa kamu mau membersamaiku untuk membangun bisnis masa depan kita?” Ferdi menatap dengan pandangan yang begitu dalam pada wajah cantik yang baru saja menerimanya sebagai seorang lelaki yang akan melindungi Nadia selama-lamanya.


Nadia yang akan selalu membuatnya bersemangat dalam setiap meraih impian di masa depan. Nadia yang sudah mengubah pola hidupnya selama ini untuk menjadi orang yang jauh lebih bersahabat dengan lingkungan serta lebih bisa menghargai orang lain.


“Aku hanya bisa berusaha untuk selalu memberikan mas Ferdi semangat karena Allah itu tidak akan memberikan cobaan kepada seorang hamba jika memang hamba itu tak mampu untuk melaluinya, dan aku sangat yakin kalau Mas Ferdi pasti bisa bangkit walau tanpa campur tangan Tuan Regan,” ucapnya memberikan semangat lalu jarinya kembali mengusap sudut bibir Ferdi yang terlihat sedikit membengkak.

__ADS_1


“Aku kompres ya?” tanya Nadia merasa cemas dengan sudut bibir Ferdi yang terlihat membiru dan juga lebam.


Ferdi langsung menggelengkan kepala, tentu saja pria itu sangat mementingkan harga dirinya dan tidak mau terlihat begitu manja dengan Nadia, apalagi sedang berada di tempat umum seperti ini. Namun, tiba-tiba saja sebuah ide brilian muncul di dalam kepalanya, ingin mengabadikan momen jika memang Nadia mau mengobati sudut bibirnya yang sedikit lebam akibat ulah Papa kandungnya sendiri dan juga tuan Winata.


“Kalau Mas Ferdi nggak mau aku kompres sudut bibirnya maka sebaiknya Mas pulang aja dan jangan ganggu aku sama Nando yang ingin belajar!” usir Nadia dengan nada suara yang begitu kesal hingga membuat sudut bibir sang CEO berkedut merasa gemas melihat wajah Nadia yang sedang kesal karena khawatir akan dirinya.


Nadia membalikkan tubuhnya ingin kembali ke meja dimana Nando berada, tetapi dengan cepat Ferdi kembali menarik dan melingkarkan kedua tangannya di perut gadis itu, meletakkan kembali dagunya di atas pundak Nadia hingga membuat sang gadis tertahan tak jadi berjalan.


“Aku ini lagi sedih karena Papa sudah mengusirku dan juga mengambil seluruh fasilitas yang selama ini aku gunakan. Aku sudah tak punya lagi mobil sport yang sering mengantar jemputmu ke sekolah, yang ada hanya tinggal mobil jelek rakyat biasa. Apakah kamu juga akan meninggalkanku seperti papa dalam keadaan hatiku yang sedang terluka?” Laki-laki itu sebenarnya sudah bisa mengetahui apa jawaban dari seorang Nadia.


Gadis yang selalu merasa kasihan pada siapa saja dan dia juga yakin gadis ini akan tetap mendampinginya walau pun sudah tak punya apa-apa.


Merasakan kedua tangan kekar itu berada di perutnya membuat jantung Nadia merasa sangat tidak sehat dan ketakutan akan terjadi sesuatu yang lebih. Gadis itu sangat tahu kalau dirinya saat ini mengalami suatu rasa yang belum pernah melekat di dalam tubuhnya, dan rasa itu semakin menggila saat dagu sang CEO sedikit diarahkan ke lehernya hingga membuat mata sang gadis terpejam sangat dalam.


‘Astagfirullah, aku ini apa-apaan sih? Mas Ferdi jelas-jelas sangat membutuhkanku sekarang karena dia baru saja diusir orang tuanya tapi aku malah menikmati rasa yang menjalar di sekujur tubuhku!’ Beruntung Nadia dengan cepat menyadarinya lalu berusaha melepaskan kedua tangan Ferdi yang sudah melingkar di perutnya.


“Kalau begitu Mas Ferdi harus mau ku obati!” paksa Nadia setelah kembali membalikkan tubuhnya dan menatap wajah pria yang benar-benar saat ini terlihat begitu rapuh.

__ADS_1


“Aku akan melakukan apa saja yang membuatmu merasa nyaman dan aku tak ingin melihatmu khawatir! Mulai sekarang kamu itu adalah bahagiaku karena seorang Nadia merupakan matahari kedua dari Ferdi Fernando,” jawab Ferdi membuat hati Nadia merasa bagai memiliki ribuan kembang api..


__ADS_2