
Sejak bibi Upi mengungkapkan di depan seluruh temannya Bagas kalau Ferdi suka sama Nadia, sejak itu juga semua teman-temannya tidak pernah lagi mempertanyakan tentang apa saja yang dilakukan Ferdi setiap berucap akan pergi ke tempat Nadia. Mereka langsung mendukung apa pun yang dilakukan sama atasannya itu demi kebaikan keponakan dari sahabat mereka.
Tanpa terasa kejadian meninggalnya Bagas sudah genap satu bulan lamanya. Nadia sudah kembali dengan rutinitasnya seperti biasa dengan pergi dan pulang ke sekolah seperti dulu, contohnya hari ini Gadis itu baru saja mendapatkan kabar gembira karena dirinya akan diikutsertakan untuk mengikuti lomba sains tingkat nasional. Gadis itu berharap kalau dirinya akan bisa memenangkan lomba itu hingga prestasinya semakin dikenali banyak orang dan itu akan membuatnya semakin mudah dalam melangkah di masa depan.
‘Pokoknya aku akan membuat Om Bagas merasa bangga di atas sana karena aku yakin dia pasti melihatku dan ikut mendoakanku, Semoga Allah memberikan tempat terbaik dan terkait untuk Om Bagas di sisi Nya,’ ucap Nadia di dalam hati memanjatkan doa serta rasa penuh harap pada sang Maha Kuasa untuk tempat terbaik bagi adik kandung dari wanita yang telah melahirkannya itu.
Memang terkadang Gadis itu masih sering merasakan sedih luar biasa ketika masuk ke dalam kamar pamannya, melihat foto sang Bunda dan juga Omnya itu terlihat begitu tampak saling menyayangi tetapi sama-sama memutuskan untuk pergi terlebih dahulu meninggalkannya sendiri. Bahkan yang membuat Nadia merasa semakin sedih karena kecelakaan yang menimpa pamannya itu terasa sedikit janggal tapi tidak ada konfirmasi apapun dari pihak kepolisian kecuali keterangan bahwa pengemudi sedang dalam keadaan mengantuk.
“Selamat ya, Nadia, akhirnya lo terpilih jadi perwakilan sekolah kita di tingkat nasional bareng Nando,” ucap Renaldo yang langsung membuyarkan lamunan Nadia tentang kecelakaan yang menimpa pamannya di saat jam istirahat berlangsung.
“Thanks, Rei. Aku juga gak nyangka bakal punya kesempatan sebagus ini, padahal aku kan cuma anak pindahan yang masih baru sekolah di sini.” balas Nadia tentu saja dengan senyum manisnya.
Senyum yang mampu mengguncang iman beberapa cowok di sekolahnya hingga gadis itu sering kali mendapatkan surat cinta, baik dari teman sesama kelas 11 dan juga terkadang dari kakak kelasnya.
“Selamat ya, Nadia, gue seneng banget pas tadi upacara bendera pak kepsek ngasih tau pengumuman nama lo dan Nando jadi perwakilan sekolah kita, gak nyangka aja, kalo perwakilan anak-anak pintar itu satu lokal ama gue,” ucap Revan dengan mengacungkan tangan ingin menyalami Nadia tapi tangannya dengan cepat ditepis sama Renaldo.
Renaldo memang benar-benar menjaga Nadia seperti permintaan sang kakak hanya saja terkadang orang salah dalam menilai kalau apa yang dilakukan Renaldo itu persis seperti kelakuan seorang kekasih yang sangat posesif terhadap pacarnya.
“Awasin tangan lo, gak usah pake acara ngulurin tangan segala sama kakak ipar gue! Ntar pawangnya datang baru nyaho lo!” canda Rei hanya membuat Nadia tersenyum kecut karena setiap dirinya punya waktu istirahat maka disana ada Rei selalu mengikutinya bagai anak ayam yang mengikuti induknya.
Sepertinya Ferdi benar-benar menjadikan sang adik sebagai penjaga Nadia selama bersekolah. Sungguh lelaki yang sangat posesif karena adik kandungnya pun dijadikan sebagai pengawal di sekolah Nadia.
Revan terlihat sangat tidak suka dengan cara Renaldo yang membuatnya terasa malu muka, apalagi ada beberapa siswa lain di dekatnya yang melihat kejadian barusan. Tentu saja Revan harus membalas ucapan Renaldo yang menurutnya sungguh sangat keterlaluan.
__ADS_1
“Apaan sih, lo? Belum juga resmi jadi kakak lo, mana tau aja Nadia malah berjodoh sama gue di masa depan, kan urusan jodoh kagak bisa diterka sama manusia, apalagi kakak lo itu kan udah punya calon bini!” sela Revan tak mau kalah dengan tatapan mengejek Rei.
Berita tentang pertunangan antara Ferdi dan juga Firda memang sering bersileran di dunia maya, atau pun di layar televisi karena mereka semua merupakan anak-anak pengusaha terkenal. Tentu saja berita seheboh itu hampir semua anak Sekolah Tunas Bangsa juga mengetahuinya, termasuk Revan sendiri.
“Udah-udah, kita juga tau kok, kalau Nadia kagak bisa digangu, jadi jangan bermain-main dengannya daripada lo entar dapat masalah sama abangnya Rei! Emangnya lo punya apa mau saingan sama Bang Ferdi? Uang aja masih menengadahkan tangan sama nyokap atau bokap malah berani-beraninya saingan sama seorang CEO hahaha,” kekeh Roger terbahak membela Rei agar Revan segera tau diri dan menjauh.
“Lo lagi, heran gue kok jadi pada negebelain tuh CEO sih, gak ada yang kasian apa sama Nadia? Masa berhubungan sama om-om tua sih?” dumel Revan merasa belum puas.
Revan terkadang berpikir sendiri kenapa Nadia mau menerima seorang Ferdi yang umurnya jauh di atas gadis polos itu.
“Emangnya lo nggak malu Nadia, jalan barengan sama seorang om-om?” Revan menatap wajah Nadia dengan menaikkan sebelah alis matanya seolah sedang mengejek Gadis itu tentang pasangan yang akan dijadikannya sebagai pelampiasan segala rasa yang ada di jiwa.
Nadia menggeleng cepat saat mata Revan masih menatapnya dengan tuntutan atas pertanyaannya, karena perdebatan itu tak akan pernah selesai jika tak ada yang mau mengalah.
“Ini hidupku dan kalian sebenarnya gak tau yang sedang kualami dan juga apa yang terjadi antara aku dan Mas Ferdi, jadi ku harap jangan lagi mengusik apa pun yang aku lakukan. Mau aku pacaran sama om-om kek, mau sama kakak kelas kek, bukan urusan mu kan, Revan? Tolong hargai orang lain dan jangan selalu menyalahkan seseorang di belakangnya!” ucap Nadia panjang lebar.
***
Saat pulang sekolah wajah Nadia sedikit ditekuk, aura mukanya kurang ceria dan itu terbaca sama Ferdi yang masih saja setia mengantar jemput gadis itu setiap hari.
“Kok mukanya ditekuk begitu, Neng?” goda Ferdi saat mobil yang dikendarai Kevin itu baru saja bergerak meninggalkan area sekolah.
Ferdi memang sengaja mencairkan suasana agar sang gadis mau bicara.
__ADS_1
“Apaan sih, Mas? Gak lucu deh!” sahut Nadia tanpa menoleh dengan bibir yang masih saja komat kamit tak jelas.
Gadis itu memang membolehkan Ferdi mendekatinya asalkan tidak mengganggu waktu belajarnya. Mendengar jawaban Nadia membuat Kevin hanya terkekeh geli karena wajah Ferdi yang terlihat kesal.
‘Kapan lagi bisa melihat bos sendiri bucin sama gadis kecil hahaha,’ gumam Kevin menahan tawa cukup di dalam hati saja atau bisa-bisa gajinya hilang beberapa persen nantinya.
“Selamat ya, Nadia, aku tadi udah mendapatkan kabar kalau kamu dapat kesempatan untuk mengikuti olimpiade Fisika tingkat nasional. Hebant emang, ga nyangka aja gadis pindahan dari desa ternyata sangat pintar sampai bisa ngalahin ratusan siswa lainnya di sekolahmu,” ungkap Kevin tanpa peduli sama Ferdi yang mengerutkan dahi tak mengerti.
“Kamu mau ikut lomba, Nad?” tanya Ferdi merasa ketinggalan informasi.
Bukankah seharusnya Gadis itu langsung memberitahukan apapun aktivitas yang dilakukannya termasuk keputusan pihak sekolah yang akan mengirimnya sebagai perwakilan dalam mengikuti Olimpiade sains tingkat nasional. Sayangnya Ferdi mana ditinggalin informasi bahkan sang asisten lebih dahulu mengetahui tentang prestasi yang diterima Nadia bukankah itu sangat memalukan?
“Iya, Mas, seminggu lagi akan diadakan di Bandung. Jadi mulai dari sekarang, Nadia harus giat lagi belajar tentang seluruh pelajaran MIPA, mungkin aku juga akan kolaborasi sama Nando agar kami bisa sering belajar bersama,” jawab gadis itu jujur.
Ferdi terdengar berdecak lidah merasa kesal karena ada dia tidak memberitahukannya sejak awal bahkan dirinya malah seperti orang yang sangat bodo, sebab Kevin malah lebih dulu memberikan Nadia selamat.
“Kok gak ngasih tau aku? Emangnya Kevin lebih penting dalam hidupmu dibandingin aku?” tanya Ferdi kesal.
Pria itu sungguh memiliki tingkat kebucinan yang sudah akut, bahkan cemburu pada asisten pribadinya sendiri yang memang sengaja melakukan itu semua agar Ferdi semakin merasa di bawahnya.
"Mas merasa cemburu sama om Kevin?" tanya Nadia dengan mimik wajah curiga tapi sungguh bibir gadis itu berkedut menahan tawa.
"Mungkin bos merasa tersaingi, Nad hahaha! Secara om Kevin kan jauh lebih up date berita terkini hahaha, tentunya juga lebih tampan dog!" celetuk Kevin dari balik kemudi.
__ADS_1
"Diam lo!"
Nah loh, kok jadi kayak begini sih?