
Suasana pemakaman umum sudah terlihat mulai sepi. Para pelayat yang tadi hadir menyaksikan penghormatan terakhir terhadap Bagas mulai pulang satu-satu ke rumah mereka masing-masing, termasuk banyaknya karyawan yang bekerja di Singgalang Group, tempat Bagas mencari nafkah selama ini.
Cuaca terlihat begitu gelap karena mendung yang mendominasi angkasa raya, seolah ikut sedih dan ingin menumpahkan airnya di bumi ini. Nadia masih terdiam di dekat pusara pamannya – keluarga satu-satunya yang masih tertinggal di dunia ini akhirnya juga ikut menyusul seluruh keluarganya yang telah duluan pergi menghadap sang Ilahi.
“Nadia, kita pulang sekarang ya, besok aku akan mengantarmu ke sini lagi karena sekarang akan turun hujan. Aku nggak mau gara-gara terlalu lama di sini kamu malah masuk angin dan kamu bisa sakit. Memangnya kamu nggak sayang sama Bagas yang baru saja dikebumikan karena dia pasti akan sedih melihatmu seperti ini?” tanya Ferdi yang sejak dari tadi tak pernah sedikit pun meninggalkan gadis polos itu sendirian.
Pria itu sedang berusaha membujuk Nadia agar mau pulang ke rumah. Gadis itu terlihat sangat lelah sekali, matanya juga sembab karena kebanyakan menangis. Belum lagi dari tadi Nadia banyak menerima tamu sang paman dari kantor Bagas yang sengaja menyalaminya untuk memberikan dukungan moril, agar gadis itu tetap kuat menjalani kehidupan.
Bahkan beberapa temannya yang datang dari sekolah Tunas Bangsa ikut menghadiri pemakaman untuk pamannya Nadia, para guru dan juga Kepala Sekolah juga ikut hadir di rumah duka pun ikut mengucapkan belasungkawa atas kepergian orang yang sangat disayangi Nadia itu untuk selama-lamanya.
“Aku masih mau di sini. Mas pulang aja duluan nanti aku akan menyusul,” cicit Nadia ketika menjawab pertanyaan Ferdi.
Gadis itu terlihat sangat terpukul akibat goncangan musibah yang melandanya walau jauh-jauh hari Ferdi sudah sering membahas masalah tentang seandainya Bagas lebih disayang sama Tuhan dan dipanggilnya duluan. Namun, ternyata ketika eksekusi yang sudah dilakukan oleh malaikat maut itu datang, tetap saja Nadia merasa belum sanggup untuk berdiri di kaki sendiri karena sekarang dirinya tinggal Sebatang Kara.
Ferdi bukannya pergi meninggalkan sang gadis tetapi dirinya malah ikut duduk di samping Nadia dengan posisi bersimpuh seperti gadis itu. Mana mungkin dirinya akan tega meninggalkan keponakan sahabat baiknya, apalagi Bagas telah menitipkan Nadia terhadapnya. Waktu itu Kevin tiba-tiba saja menemukan sebuah kotak kecil berwarna hitam di dalam laci kerja Bagas dan ternyata ketika kotak itu dibukanya, ada Sepucuk Surat yang dikhususkan untuk CEO Singgalang tempatnya bekerja.
Flashback on
“Kotak apa nih?” monolog Kevin dengan tangan lancangnya langsung membuka benda berwarna hitam yang belum pernah dilihat sebelumnya. Pria itu benar-benar tak kuat jika tidak melihat isinya, berharap hanya sebuah hadiah yang mungkin saja untuk Nadia tapi lupa diberikan sama Bagas.
Saat pria itu membuka kotak, ternyata di dalamnya terdapat sepucuk surat yang diperuntukkan untuk Ferdi sang CEO. Merasa surat itu bukan untuknya, tentu saja Kevin bergegas pergi ke ruangan Ferdi untuk menyampaikan temuannya yang didapatkan di dalam laci meja kerja milik Bagas. Pria itu langsung menuju ruangan CEO perusahaan, mengetuk pintu lalu masuk dan menemukan Ferdi sedang asyik melihat salah satu figura yang ada di atas meja kerjanya.
__ADS_1
“Wow, sejak kapan bos suka mandangin foto di figura? Emang itu foto siapa sih, jadi kepo saya Bos?” tanya Kevin ingin merebut benda yang tadi ditatap Ferdi. Pria itu dengan cepat menyimpan foto berukuran sedang itu ke dalam laci kerjanya.
“Ada apa sih, Kevin?” tanya Ferdi tanpa menoleh.
Kevin langsung meletakkan kertas yang masih terbungkus amplop serta satu kotak berwarna hitam di atas meja kerja Ferdi.
“Saya menemukan benda ini di dalam laci meja kerja pak Bagas dan ternyata surat itu diperuntukkan untuk Bos!” ungkap Kevin jujur apa adanya karena memang di amplop itu masih terlihat judul surat serta nama penerimanya.
Mereka memang lebih sering menggunakan kata formal ketika masih berada di areal perkantoran walau kadang-kadang ada kalanya saat-saat tertentu Ferdi dan sahabatnya kembali pada mode pertemanan dengan bahasa gaulnya.
Ferdi langsung mengalihkan atensinya pada wajah Kevin yang tak lain saat ini sudah menjadi asisten pribadinya pengganti Bagas selama pria itu masih terbaring di rumah sakit.
“Kapan Bagas menulis surat, dia saja udah lebih dua bulan ini terbaring, di rumah sakit jadi rasanya tak mungkin dia sempat menulis surat itu,” jawab Ferdi dengan tangan meraih surat yang baru saja diberikan Kevin.
“Gue rasa Bagas waktu itu udah punya firasat buruk kali ya, bakal ngalami kecelakaan makanya sengaja nulis surat buat lo!” ucap Kevin sembari mengedikkan kedua bahunya.
Ferdi menatap wajah sahabatnya itu sesaat lalu mengalihkan atensinya pada surat yang sudah dipegangnya.
“Coba lo buka dulu, biar gue jadi saksi kalau nanti seandainya surat itu mana tahu saja sebuah wasiat. Astaghfirullah … orangnya masih hidup kok gue malah ngomong kayak beginian,” cecar Kevin pada dirinya sendiri yang menganggap seolah-olah Bagas sudah meninggal saja, padahal pria itu masih tergores dengan alat-alat medis di seluruh tubuhnya.
Ferdi melemparkan Amplop yang baru saja dibukanya setelah diremukkan pada wajah Kevin yang bicara seolah Bagas sudah tak ada padahal orang itu yang masih hidup. Kevin yang terlalu kepo dan penasaran tidak sanggup menunggu Ferdi selesai membacanya hingga lelaki itu pindah dan berjalan ke arah belakang tubuh kekar jangkung milik Ferdi, agar lelaki itu juga bisa ikut langsung membaca surat yang ditinggalkan Bagas.
__ADS_1
Kevin pun akhirnya bisa ikut membaca apa saja isi surat yang ternyata ditulis tangan oleh Bagas sendiri, dan ketika matanya melihat tanggal yang tertera, ternyata surat itu ditulis pada tanggal yang sama di mana hari kecelakaan pria itu terjadi.
“Allahu Akbar, itu tanggal Bagas waktu nulis surat bukannya sama persis saat dia mengalami kecelakaan? Apa waktu itu Bagas punya firasat buruk kali ya, kok bisa-bisanya dia sampai nulis surat segala buat lo?” Kevin berbicara sendiri tetapi matanya mulai menelusuri kalimat demi kalimat yang ditulis oleh sahabatnya itu.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Hai Ferdi, sobat gue yang paling baik di dunia. Gue nggak tahu kenapa tangan ini ingin sekali rasanya membuat sebuah surat untuk lo, entahlah. Gue merasa ada sesuatu yang ngedorong dari dalam jiwa gue buat nulis pesan yang mungkin aja nggak guna tapi nggak tahu juga lah. Gue aja sebenarnya bingung mau nulis apa untuk lo tapi satu yang paling penting dalam hidup gue saat ini, Jika sampai terjadi sesuatu sama gue tolong lo jagain ponakan gue dengan baik karena gue juga tahu lo sayang sama Nadia.
Eits, lo jangan senang dulu, Gue nitipin Nadia kalau bisa sih Lo jagain dia sampai ke surga. Lo juga gak perlu malu kalau gue sebenarnya tahu sebab dari gerak-gerik lo aja Gue tau kalau lo suka ama ponakan gue, karena di kamar waktu lo sembunyi tepatnya di dalam lemari Nadia, diam-diam lo liatin Nadia tak berkedip hahaha. Gue gak marah kok kalau lo jatuh cinta sama ponakan gue. Gue nulis apa lagi ya? Oh iya Hampir aja gue lupa, gue juga nitipin kotak warna hitam untuk Nadia tapi gue nggak tahu apakah kota itu udah dibuka apa belum ama ponakan gue dan gue harap lo bisa jagain ponakan gue – paling nggak kalau lo nggak cinta sama dia minimal jagain dia sampai menikah. Makasih banyak ya Ferdi, gue utang Budi paling banyak sama lo dan semoga saja Tuhan ngebalas kebaikan lo.
Tertanda asisten pribadi lo, Bagas.
Entah kenapa setelah membaca surat itu Ferdi selalu saja dihantui ketakutan akan kepergian Bagas untuk selama-lamanya, maka sebab itulah dirinya tak segan-segan menggelontorkan biaya rumah sakit yang begitu besar guna mengusahakan kesembuhan bagan tapi sayang Asisten kesayangannya itu ternyata tetap juga diambil sama sang pencipta.
Hujan mulai turun rintik-rintik, sementara Nadia masih betah duduk di samping pusara pamannya, Gadis itu bergeming sejak tadi membuat Ferdi merasa bingung.
“Nadia bentar lagi adzan maghrib, kita pulang ya,” ajak Ferdi lagi.
Kali ini pria itu terpaksa mengubah posisi dan menarik dagu Nadia yang terus saja menunduk.
“Liat aku!” titahnya.
Nadia mengangkat wajahnya, membuat mereka jadi saling pandang pada netra masing-masing.
__ADS_1
“Di sini, di pusara Bagas ini biar dia jadi saksi kalau aku akan selalu menjagamu. Aku janji akan menjaga hatimu di dunia sampai akhirat kelak,” ucapnya lalu menggenggam jemari Nadia dan kembali mengarahkan wajahnya pada pusara Bagas.
“Gas, sekarang lo bisa tenang di sana, mulai dari detik ini, gue yang akan melindungi keponakan lo. Gue akan menjaga Nadia sampai akhirat sesuai pesan lo karena lo emang bener, kalau gue cinta sama Nadia.”