
Ferdi mengantar Nadia pulang ke rumah peninggalan Bagas, rumah yang sudah terlihat sepi kecuali hanya tinggal teman-teman dekat Bagas saja yang masih berada di sana, plus seorang gadis yang sempat dipanggil Nadia dengan sebutan tante Rosa. Gadis itu masih saja diam seribu bahasa tanpa ada sepatah kata pun yang keluar dari bibirnya sejak Gadis itu memasuki mobil Ferdi jelang pulang dari pemakaman tadi.
“Nadia, istirahatlah! Aku akan nginap di sini bersama teman yang lainnya, kalau kamu butuh apa-apa jangan sungkan mengatakannya,” ujar Ferdi memberitahukan.
Pria itu bahkan tidak sungkan membantu Nadia membukakan pintu kamar dan menggandeng gadis itu agar duduk di tepi ranjang. Sebegitu perhatiannya Ferdi terhadap gadis yang menjadi keponakan sahabatnya itu.
“Aku akan keluar dulu, kamu jangan lupa langsung mandi sebelum tidur,” pesannya sebelum berdiri tapi dengan cepat Nadia menarik ujung kemeja yang dikenakan Ferdi.
“Apa maksud Mas Ferdi mengatakan hal tadi di depan pusara Om Bagas? Apakah ada sesuatu yang gak Nadia ketahui? Kenapa Mas sampai harus mengatakan kalau Mas mencintaiku segala di depan kuburan pamanku?” todong Nadia menatap tajam Ferdi.
Gadis itu mengira kalau Ferdi hanya sedang ingin sekedar menghiburnya saja tapi cara yang digunakannya sudah terlalu melewati kalau sampai berjanji di depan pusara pamannya.
__ADS_1
“Karena aku memang jatuh cinta padamu sejak pertama kali kita bertemu dan Bagas mengetahui itu, makanya aku berjanji padanya untuk menjagamu sampai maut memisahkan kita. Nadia, menikahlah denganku dan sudahi pacaran pura-puranya karena sebenarnya itu hanya salah satu caraku agar bisa selalu dekat denganmu.” Ferdi menghela nafas dengan dalam lalu meraih jemari Nadia.
“Mungkin semua ini tidak waktunya untuk ku ucapkan karena dirimu masih berduka, tapi aku tak mau kamu malah pergi jauh dan kembali balik ke desa meninggalkanku. Aku ingin menjadi penjaga hatimu seumur hidupku. Maukah kamu menua bersamaku?” tanya Ferdi menatap fokus pada satu titik wajah yang terlihat masih sendu.
Nadia menggelengkan kepalanya, “Aku ini keponakan sahabatmu, bahkan umurku saja belum genap 17 tahun dan masih duduk di bangku SMA kelas 11. Apa Mas gak merasa risih kalau sampai nanti dikatakan orang membawa adik sendiri? Apa Mas gak malu dengan perbedaan sifat kita yang bakal sangat mencolok karena diriku yang masih bocah?” Nadia membalas tatapan Ferdi tanpa berkedip.
Ingin sekali rasanya pria itu meraup dan mencicipi bibir ranuh berwarna merah muda yang sekarang tinggal ditempelkannya, sayangnya itu hanya akan membuatnya mendapatkan sebuah tamparan di muka. Dasar kepala Ferdi mulai diisi sesuatu yang meshum.
Nadia hanya tersenyum karena mungkin buatnya itu adalah bentuk perhatian Ferdi dalam menghiburnya. Padahal lelaki itu sudah merasakan hal yang tidak biasa dan itu sungguh akan membuatnya terlihat kurang ajar kalau sampai Nadia mengetahuinya. Sesuatu yang seharusnya tidak bereaksi hanya karena ulah nya sendiri yang iseng meraih jemari Nadia.
‘Mati aku, kenapa juga dia harus bereaksi di saat waktu seperti ini? Apa kepalaku sudah dipenuhi pikiran kotor yang meshum? Sungguh tak punya malu kalau malah berdiri di saat hari meninggalnya Bagas, dasar burung tak punya akhlak!’ rutuknya sembari menatap sesuatu yang menggembung di bawah pusarnya.
__ADS_1
Ferdi benar-benar merasa sangat kesal dengan dirinya sendiri yang selalu saja tak bisa menahan setiap berada di dekat Nadia, padahal jelas-jelas saja Gadis itu masih sangat bocah dan bisa dibilang sebagai anak di bawah umur. Namun, apa yang baru saja disampaikannya pada Gadis itu ketika berada di depan kuburan sahabat sekaligus asisten pribadinya?
Ferdi dengan berani berjanji akan menjaga Nadia sampai mati. Apakah Ferdi benar-benar mampu untuk melakukan semua itu? Entahlah, hanya dirinya sendiri yang tahu bersama Tuhan yang diajaknya melakukan kerjasama dalam memegang janji setia.
“Tapi aku belum jatuh cinta sama Mas Ferdi, umurku masih belasan juga,” ucap Nadia dengan polosnya, berkata jujur di depan lelaki yang sudah mengajaknya menikah.
Sakit hatikah Ferdi mendengarnya? Tentu saja ada rasa sakit sedikit menyentil kesombongan hatinya yang sering dielu-elukan para wanita tetapi tidak begitu dengan Nadia yang malah dengan jujur mengatakan tidak jatuh cinta padanya. Sungguh kali ini Ferdi merasakan sebagai orang tak berharga di depan Nadia tapi dia bisa memaklumi gadis yang sangat lugu dan begitu polos itu.
“Aku tahu umurmu belum kenal 17 tahun tapi bukankah itu hanya tinggal menghitung hari saja? Setelah itu aku akan membantumu mengurus KTP dan kita bisa melangsungkan pernikahan secepatnya agar aku selalu bisa menjagamu dan juga melindungimu dari kerasnya dunia!” tegas Ferdi dengan mengukir senyum di bibirnya.
“Kamu mau kan, menikah dengan pria arogan dan kaku sepertiku? Pria yang tak punya rasa cinta pada orang lain tapi sedang tergila-gila padamu ini? Aku janji akan selalu membuatmu tersenyum dan bahagia.”
__ADS_1