
Semoga puasa kedua selalu semangat!
“Assalamu’alaikum,” ucap Nadia saat nama Ferdi terpapar di layar utama ponselnya.
[Kamu udah pulang? Sekarang dimana? Aku sudah ada di jalan untuk menjemputmu, jadi gak usah naik taksi]
Suara bariton itu menggema di telinga Nadia hingga gadis itu berpaling melihat pada arah Renaldo yang baru saja selesai dengan satu kantong kresek warna putih penuh jajan untuk bekal selama menemaninya di rumah sakit nanti.
“Orang baca salam itu harus dijawab dulu, Om, wajib itu hukumnya!” nasehat Nadia dengan suara terdengar kesal.
Mereka berdua memang semakin akrab karena Ferdi yang selalu datang setiap hari ke rumah sakit bukan hanya sekedar bentuk rasa tanggung jawabnya pada Bagas sebagai seorang asisten pribadi tetapi lebih ada rasa yang tak sanggup melihat bola mata teduh itu merasakan hidup sendirian penuh sepi.
[Sorry, wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, Sekarang kamu di mana?]
Ferdi mengulang pertanyaan yang sama karena dirinya sudah berada di dalam mobil bahkan telah melanjutkan roda empatnya ke arah sekolah Tunas Bangsa di mana Nadia dan juga sang adik menuntut ilmu.
“Hari ini aku pulang diantar sama teman, Om, dia ketua kelasku jadi Om kalo lagi repot gak usah jemput ke sini. Nanti Temanku juga katanya mau ngantar sampai rumah. Om bisa istirahat hari ini nggak perlu jemput atau ngantar aku pulang ke rumah,” sahut Nadia dengan nada samtai karena dirinya memang menganggap Ferdi hanyalah sebatas teman dari pamannya.
__ADS_1
Ferdi menghela nafasnya begitu dalam selaras kaki yang menginjak pedal rem karena tidak kuasa dan juga tidak suka mendengar pernyataan yang baru saja dikatakan Nadia.
[Kamu bilang saja sama temanmu itu kalau aku yang akan menjemputmu. Jangan mudah percaya sama sembarang cowok di sekolahmu karena kamu adalah tanggung jawabku selagi Bagas belum sadar!]
Ferdi bicara dengan tegas lalu langsung memutus panggilan secara sepihak agar Nadia berpikir jika dirinya tidak main-main dan juga tidak suka ketika perintahnya ditolak.
“Ayo kita buruan berangkat sekarang ke rumah sakit, setelah itu kamu kan bisa beristirahat di sana!” ajak Renaldo kembali meraih pergelangan tangan Nadia hingga Gadis itu hanya menurut tetapi ketika mereka berdua telah sampai di dekat motor milik sang ketua kelas barulah Nadia kembali bicara.
“Maaf ya Rei, sepertinya aku nggak bisa deh bareng kamu ke Rumah Sakit jenguk Om Bagas. Bentar lagi sahabat Pamanku bakal datang ke sini untuk ngejemput. Dia yang selama ini jagain dan juga bantuin aku sejak kecelakaan itu, jadi aku nggak enak kalau sampai ngebantah perintah dia!” cerita Nadia dengan nada sedih karena tidak menyangka kalau Ferdi tidak membolehkannya ke rumah sakit bersama Renaldo.
Cowok itu melepaskan genggaman tangannya lalu menatap Nadia dengan senyum mengembang
“Ya udah gak papa, kalau gitu aku akan nungguin kamu di sini sampai sahabat pamanmu itu datang. Jangan sedih Gitu dong, kan masih ada hari esok dan esoknya lagi buat kita sama-sama di rumah sakit! Aku janji nggak bakal ninggalin kamu sendirian,” ucapnya kemudian membuat Nadia sontak memalingkan wajah karena merasakan hangat yang menerpa kedua pipinya.
“Bu-bukannya aku sedih tapi aku nggak enak sama kamu yang udah mau nemenin aku jagain Om Bagas di rumah sakit tapi malah harus gagal segala,” elaknya sedikit tersipu.
Mereka berdua akhirnya duduk di salah satu kursi panjang yang berada tak jauh dari area parkir, menunggu Ferdi yang akan datang menjemputnya. Renaldo bercerita banyak dengan gadis polos itu, tanpa terasa mereka telah menghabiskan waktu lebih satu jam hingga Renaldo akhirnya menyadari jika orang yang ditunggu Nadia sepertinya tidak datang.
__ADS_1
“Nad, kayaknya teman pamanmu gak jadi jemput deh!” ujarnya membuat atensi Nadia beralih pada wajahnya.
Nadia mengerutkan dahi dan memeriksa ponselnya, mendapi ada pesan yang sudah diterimanya sejak tadi tapi malah tak terdengar olehnya karena terlalu asik mengobrol dengan sang ketua kelas.
“Rupanya tadi om itu ngirim pesan, dia bilang ada meeting mendadak makanya gak jadi datang buat jemput aku. Kalau gitu … apa kamu masih mau mengantarku ke rumah sakit?” tanya Nadia merasa sungkan dan juga malu.
“Tentu saja aku mau, yuk berangkat sekarang!” ajaknya mulai berdiri.
Renaldo meletakkan kantong putih berisi jajan di depannya dan meletakkan tas ransel di bagian depan tubuhnya dengan alasan biar Nadia tidak kesempitan, tapi apakah itu benar?
“Apa kamu bisa naik?” tanya Rei dengan melirik lewat kaca spion.
“Bisa sih tapi aku harus duduk menyamping ya, rok ku panjang jadi gak bisa duduk kayak kamu,” sahut Nadia mulai naik dengan duduk mengarah ke kanan.
“Pegangan di pinggangku ya, Nad! Aku gak mau nanti malah bukan kita yang menjenguk orang sakit tapi malah kita yang masuk rumah sakit,” ucap Renaldo bercanda yang langsung mendapatkan cubitan lembut di pinggangnya.
“Aww! aduduh Nadia kamu ini namanya KDRP loh,” rajuk Renaldo sedikit menoleh ke belakang.
__ADS_1
“KDRP …? Yang ada KDRT masa KDRP sih, emang apaan tuh?”
“Kekerasan dalam ranah pacaran kalau kamu mau jadi pacarku,” jawabnya sembari terbahak dan tanpa mereka sadari, ada mata yang melihat pasangan baju putih abu-abu itu dengan tatapan tak terbaca.