
‘Ternyata aku sangat terlambat mendekatimu karena bang Ferdi seorang CEO yang nggak mungkin bisa aku saingi untuk merebutmu, semoga kamu bahagia selamanya …!’ lirih Nando dengan nada sedih.
“Apa kamu mencintai gadis itu?” tanya seseorang yang sejak tadi memperhatikannya.
Nando menoleh memperhatikan Kakak perempuannya yang sengaja menggoda dengan menaikkan sebelah alis matanya plus senyum mengejek dari bibirnya yang manis.
“Kak Kaira apa-apaan sih? Mana ada Nando suka sama Nadia, dia kan cuma teman doang di sekolah, apalagi Nadia itu disukai sama Bang Ferdi, cowok tajir yang tadi menjemputnya! Heran banget gue, masak Nadia kan belum jadi bininya tapi posesifnya udah akut parah!” Nando membalikkan tubuhnya lalu berjalan masuk meninggalkan perlengkapan belajarnya yang terbengkalai di atas meja.
Kaira hanya menggeleng pelan melihat tingkah adik kesayangannya yang ternyata sudah mulai jatuh cinta pada seorang gadis, walau dirinya tahu kalau Nando sempat disukai beberapa teman cewek sekolahnya tetapi belum ada satu pun yang disukai sang adik, kenapa malah menyukai seorang gadis yang sudah dimiliki oleh seorang Ferdi yang tidak akan pernah mungkin bisa didapatinya.
Sementara di dalam mobil menuju rumah Bagas, Nadia sebenarnya masih merasa bingung dengan kedatangan pria itu ke tempat dirinya sedang belajar bersama Nando. Nadia sangat yakin jika sahabat dari almarhum sang Paman pasti sedang memiliki masalah yang sangat rumit dan berat hingga sampai-sampai dirinya dijemput dengan kendaraan yang sangat jauh dari ekspektasinya, karena selama ini Ferdi belum pernah mengantar atau menjemputnya menggunakan sebuah mobil lewas keluaran Toyota merek Avanza.
“Mas Ferdi pasti ada masalah ya? Aku sangat yakin kalau Mas saat ini pasti sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat, apa ini semua ada hubungannya dengan Tuan Regan?” Nadia menoleh ke samping memperhatikan raut wajah Ferdi yang sudah berubah terlihat Sendu dan sama sekali tak punya semangat hidup.
Nadia yakin sudah terjadi sesuatu yang besar hingga lelaki yang sedang menyetir itu datang menemuinya. Ferdi datang pasti ingin menyampaikan sesuatu, apalagi kedatangannya tadi dengan bibir yang sudah membiru tentu saja membuat Nadia semakin meyakini, jika telah terjadi sesuatu antara Ferdi dan orang tuanya.
__ADS_1
Ferdi membelokkan mobil yang dikendarainya memasuki salah satu taman kota, di mana begitu banyak anak-anak yang sedang berlarian bersama kedua orang tua mereka walau hari telah malam tetapi cuaca begitu cerah dengan cahaya bulan bertabur Bintang.
“Ayo kita turun dulu nanti aku akan menceritakan segalanya tapi intinya aku sudah diusir dari rumah oleh papa,” ucap Ferdi sembari membuka pintu mobil setelah membuka seatbelt yang melingkari badannya.
Nadia tercenung mendengarkan kalimat yang baru saja diucapkan Ferdi, membayangkan perihal apa yang baru saja terjadi hingga lelaki itu sampai diusir oleh orang tuanya.
‘Ya Allah kuatkanlah hati dan jiwa Mas Ferdi untuk menerima apa pun cobaan yang Engkau berikan, dan berilah selalu dia jalan agar bisa lebih kuat untuk kembali bangkit seperti semula,’ lirih Nadia berdo’a di dalam hati mengharapkan sesuatu yang baik untuk lelaki baik hati seperti pria yang baru saja turun dari mobilnya.
“Kamu ingin duduk di sini saja?”
Nadia kaget dan terbangun dari lamunannya karena ternyata Ferdi telah membukakan pintu di sampingnya hingga mau tak mau gadis itu juga ikutan turun mengikuti langkah kaki Ferdi menuju sebuah bangku panjang yang ada di tengah taman. Mereka berdua duduk sedikit berjauhan, diam tak ada satupun yang memulai bicara.
“Tadi sore sebelum aku pulang ke rumah orang tuaku, kamu masih ingat kan kalau aku meminta sesuatu padamu?” Ferdi menggeser duduknya hingga jarak diantara mereka sedikit terkikis.
Nadia menoleh ke samping, memperhatikan raut wajah Ferdi yang benar-benar terlihat sangat sedih. Padahal tadi sewaktu mereka berada di cafe Nando, wajah tampan itu masih terlihat sedikit ceria dengan hiasan senyum di bibirnya. “Bukankah waktu di cafe kakaknya Nando tadi, aku juga sudah menjawabnya! Apa pun yang terjadi sama Mas Ferdi … aku akan berusaha untuk menerimanya, tapi katakanlah apa yang sebenarnya terjadi pada mas Ferdi?”
__ADS_1
“Aku menolak perjodohan dengan Firda dan papa telah menarik semua fasilitas yang ku punya hingga sekarang hanya mobil jelek itulah yang ada padaku,” terang Ferdi dengan suara yang benar-benar sangat pelan hingga hampir saja Nadia tak bisa mendengarnya jika tidak melihat gerakan bibir sang pria.
“Kenapa Mas Ferdi lakukan semua itu? Apa sebelum meninggalkan rumah tadi, Mas benar-benar sudah memikirkan konsekuensi apa saja yang bakal Mas terima ketika keluar dari rumah orang tua sendiri? Apa Nyonya Regan tidak menahanmu?” Nadia Masih betah menatap wajah tampan lelaki yang sekarang terlihat begitu rapuh di hadapannya.
Tak ada lagi wajah sombong penuh arogan yang sering kali terbaca dari raut muka seorang Ferdi, di mata Nadia sekarang yang ada hanya sosok laki-laki rapuh yang butuh pendengar setia ketika dirinya menyampaikan keluh dan kesah agar bisa melapangkan jiwanya.
“Aku melakukan semua ini karena tak mau jauh darimu dan aku sudah memikirkan dengan matang konsekuensi apapun yang akan terjadi ke depan, aku sudah siap asal kamu selalu berada di sisiku.” Ferdi meraih jemari Nadia lalu meletakkan di bagian dadanya, memejamkan mata beberapa saat, seolah menyuruh sang gadis untuk merasakan detak jantungnya sekarang yang sungguh terasa mendebarkan.
“Aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu, wahai gadis kecil! Izinkan aku untuk selalu menjaga hatimu sampai kita sama-sama menjadi tua nanti. Apa kamu setuju membersamai ku sampai tua nanti, walau mungkin mulai dari sekarang statusku bukan lagi seorang CEO Singgalang Group,” ucapnya tanpa mengedipkan mata saat melihat Nadia yang sedikit terlonjak kaget.
“Mas … aku sudah pernah bilang akan menerima apa pun kelebihan dan kekuranganmu, uang itu bisa dicari tetapi kebahagiaan itu takkan pernah bisa untuk dibeli! Hanya saja aku masih ragu, apa Mas Ferdi akan bisa sabar untuk menghadapi seorang gadis kecil sepertiku yang masih punya sifat kekanak-kanakan? Aku juga saat ini hanya seorang gadis Sebatang Kara yang sudah tak punya keluarga siapapun lagi di dunia ini.” Nadia pun akhirnya memberanikan diri menatap lekat dua bola mata lelaki bermanik hitam yang duduk di sampingnya tetapi tubuh mereka sama-sama menyamping dan saling menghadap.
Nadia menyunggingkan senyum walau sebenarnya kisah hidupnya jauh lebih pahit dari pria yang ada di dekatnya tapi dirinya berusaha terlihat tegar karena ternyata Ferdi jauh lebih rapuh dibandingkan dirinya sekarang.
Ferdi akhirnya tak kuat lagi menahan diri lalu merengkuh tubuh kecil itu untuk masuk ke dalam pelukannya, tanpa sadar pria itu meneteskan air mata untuk pertama kalinya di depan seorang gadis.
__ADS_1
“Akulah yang akan menjadi keluargamu dan aku yang akan bertanggung jawab dengan hidupmu apapun sifat kekanak-kanakan yang kamu punya maka aku akan menerimanya seperti kamu menerimaku apa adanya,” ucap Ferdi kemudian mengurai pelukan mereka, lalu memindahkan kedua telapak tangannya pada pipi Nadia.
“Ayo kita menikah setelah kamu kembali dari Olimpiade sains! Aku berjanji tidak akan menyentuh tubuhmu sebelum kamu tamat dari SMA tapi paling tidak, aku sudah sah untuk bisa menjaga dirimu dimanapun! Apa kamu setuju?”