Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 22. Aku Akan Menjagamu


__ADS_3

#Segala yang hidup pasti akan mati suatu saat, setiap manusia yang sehat pasti akan mengalami sakit nantinya dan setiap yang datang pasti akan pergi juga#


Nadia bolak balik di depan ruang UGD tanpa henti dan sekali-kali matanya melirik ke arah pintu, berharap ada dokter atau perawat yang muncul di sana untuk memberikan konfirmasi tentang keadaan pamannya. Satu jam kemudian terdengar deritan pintu dibuka dari dalam, terlihat seorang dokter pria paruh baya dengan kaca mata yang bertengger di pangkal hidungnya ditemani seorang perawat perempuan yang masih terlihat gadis.


“Keluarga pasien atas nama Pak Bagas,” ucap sang suster yang langsung membuat Nadia buru-buru mendatangi dokter bersama perawat itu, “Saya keluarganya, Dok. Saya ini keponakan kandungnya. Bagaimana kondisi om saya sekarang, Dok?” tanya Nadia dengan wajah yang masih terlihat pucat akibat kecemasan berlebihan. 


Dokter itu menghela napas sesaat sebelum menjawab pertanyaan dari Nadia, “Maaf, kami sudah melakukan yang terbaik untuk pasien. Namun, walau pasien sudah melewati masa kritisnya tapi kondisi pasien saat ini masih dalam keadaan koma.” Pria paruh baya itu menepuk pelan pundak Nadia yang terlihat membekap mulutnya tak percaya.


“Gak … om gak mungkin koma, Dok … om udah janji bakal bareng aku terus sampai besar dan sukses. Enggak! Om Bagas gak mungkin koma,” racau Nadia menggelengkan kepala beberapa kali merasa tidak bisa menerima kenyataan yang menimpa Bagas saat ini.


Ferdi memicingkan kedua matanya lalu berusaha mengusap-usap punggung Nadia, memberikan support yang bisa dia lakukan sekarang karena hanya itu yang mampu diberikannya saat ini. 


“Kamu harus tenang Nadia jangan seperti ini, Bagas nggak bakalan suka kalau sampai melihatmu bersedih,” hibur Ferdi yang merasa bingung harus melakukan apa.  

__ADS_1


Nadia kembali menggelengkan kepala dan menatap sang dokter lagi.


“Sa-sampai ka-kapan om saya bakal koma seperti itu, Dok? Apakah om Bagas bakal bisa sembuh lagi? Dia gak bakal kenapa-napa kan?” Gadis remaja itu kembali meneteskan air mata yang sejak tadi tak bisa berhenti membasahi pipinya.


Bagaimana mungkin dia bisa menjalani hidup tanpa sang paman yang telah menggantikan tugas Bundanya sejak meninggal, bahkan pria itu menjadi penyokong dan juga mengulurkan tangan menggandengnya menuju masa depan tapi sekarang Bagas tak ubahnya hanya bagai mayat hidup yang bernapas dengan bantuan alat paramedis.


“Saya sebagai dokter yang memeriksa tubuh paman Anda belum bisa memastikan sampai kapan pasien akan bergantung dengan peralatan medis kecuali ada keajaiban dari Allah subhanahu wa ta’ala yang bakal membuka matanya. Kalau begitu saya permisi dulu,” sahut dokter itu tersenyum dan berlalu pergi.


Tubuh Nadia langsung terasa lemas seketika hingga hampir saja ambruk jika Ferdi tidak sigap menangkapnya. 


Gadis itu butuh sandaran saat ini sampai lupa kalau Ferdi bukanlah siapa-siapanya kecuali beberapa saat lalu resmi menjadi kekasih pura-pura dari CEO itu. Hati Ferdi terasa berdenyut sakit bagai diiris sembilu, mendengarkan cicitan suara Nadia yang terisak begitu menyedihkan. Pria dewasa itu mengusap-usap punggung Nadia dengan lembut seiring pelupuk matanya yang juga ikut berkaca mendengarkan


“Kamu tidak sendiri, Nadia, saya yang akan selalu menjagamu,” ucapnya sembari tetap mengusap lembut punggung perempuan itu hingga dirasakannya kepala Nadia lunglai tak berdaya.

__ADS_1


“Nadia! Bangun, Nadia, kamu jangan seperti ini!” Ferdi langsung panik saat gadis remaja itu diam tanpa merespon, akhirnya dengan gerak cepat CEO tampan itu menerobos masuk ke ruang UGD sembari berteriak minta tolong, membaringkan Nadia di salah satu brankar rumah sakit persis di samping tubuh Bagas yang sedang dipersiapkan untuk dipindahkan ke ruang ICU.


“Suster, tolong Nadia, sepertinya dia terlalu shock mendengar penjelasan dokter tadi,” ungkapnya memberitahukan pada suster yang tadi juga ikut mendampingi dokter menjelaskan tentang kondisi terkini Bagas.


“Mas nya tenang aja, pacar Anda pasti akan baik-baik saja,” sahut suster itu membuat jantung Ferdi malah kelimpungan tak karuan.


‘Pacar? Apa gue masih dipandang pantas menjadi pacar gadis polos nan lugu ini? Astaga, otak gue eror!’ rutuknya yang sempat berpikiran gak jelas saat genting seperti sekarang.


Suster itu mengira kalau Ferdi adalah pacar Nadia karena dirinya melihat mereka tadi saling menguatkan dengan berpelukan erat, jadi siapa yang salah dengan prediksi semacam itu?


“Tensi darah pasien menurun drastis hingga tinggal 80/70, tapi pasien akan cepat siuman kok,” jelas perawat itu yang dengan cekatan mulai memasangkan jarum infus di salah satu titik nadi gadis yang masih setia menutup mata.


“Jangan tinggalin Nadia, Om Bagas… Nadia takut hidup sendirian ….” igau Nadia yang mampu membuat kelopak mata Ferdi kembali berair.

__ADS_1


“Nadia, ada aku di sini, kamu gak sendirian. Aku akan selalu menjagamu hingga Bagas membuka matanya,” lirihnya dengan menggenggam tangan Nadia dan menarik jemari itu hingga menempel di bibirnya, bahkan tanpa ia sadari telah mengubah panggilannya sendiri dari saya menjadi aku.


__ADS_2