Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 77. Biarkan kita Dinikahkan Malam Ini


__ADS_3

Semua teman-teman Nadia telah kembali tapi Ferdi masih saja berada di sana seolah tak ingin beranjak dari rumah itu. Pria matang itu masih memikirkan ide gila yang ada di dalam kepalanya sejak tadi. Sepertinya Ferdi akan mempersiapkan sebuah rencana agar kedatangan Nadia ke Bandung akan berkesan dan mungkin akan dibuatnya gadis itu tak lagi harus kembali ke Jakarta dalam waktu dekat.


Ferdi sedang berpikir akan mempersiapkan pernikahan setelah olimpiade selesai dilakukan.


“Aku juga balik ya, besok aku akan mengantarmu ke sekolah. Siapa guru yang akan mengantar kalian ke Bandung?” tanya Ferdi.


“Aku dan Nando langsung diantar sama kepala sekolah dan juga guru Fisika. Tapi kamu nggak usah cemburu karena mereka semua udah pada punya anak!” Nadia dengan sengaja mengatakan itu agar Ferdi tidak cemburu.


“Hari terakhir aku akan datang ke Bandung menjemputmu langsung ke tempat olimpiade, jadi pulangnya bakal sama aku,” ungkapnya menyampaikan ide.


Nadia melipat dahi, merasa bingung dengan perkataan Ferdi, “Trus gimana ijin sama sekolahku, Mas?”

__ADS_1


“Kamu tenang saja, semua aku yang akan mengurusnya jadi kamu tinggal beres bahkan kepala sekolah itu akan tersenyum waktu memberikanmu izin untuk pulang bersamaku!” sahutnya begitu sombong.


“Ya sudah kalau begitu, sekarang Mas pulang untuk beristirahat. Coba tengok jam yang ada di dinding sudah menunjukkan angka 10 malam, jangan sampai ada pak RT yang datang ke sini untuk mengusirmu,” pinta Nadia agar Ferdi segera pergi dari rumahnya.


Ferdi bukannya pergi tetapi lelaki itu malah terkekeh kecil, “Bagaimana kalau kita biarkan saja pak RT datang kemari ngegep kita berdua, biar bisa langsung dinikahkan malam ini juga?” Ferdi dengan sengaja menggoda Nadia dengan menaikkan sebelah alis matanya.


“Apaan sih, gak lucu tau. Udah Mas lebih baik balik ke apart sekarang jangan sampai kita beneran dinikahkan sama warga se RT,” protes Nadia tidak ingin mengambil resiko dengan Ferdi yang berlama-lama berada di rumahnya.


Nadia hanya tersenyum tipis mendengar gombalan receh dari Ferdi walau di dalam hati terasa ada hangat yang menjalar ke seluruh tubuhnya membuat Gadis itu merasa semakin meleleh saja walaupun perbedaan usia mereka sangat jauh tapi sepertinya, pergi mulai berubah kembali jauh lebih mudah dari usianya sekarang.


“Hati-hati di jalan ya Mas,” ujar Nadia mengantarkan lelaki itu hingga ke teras depan.

__ADS_1


“Iya sayangku, aku pulang dulu ya. Assalamualaikum,” balasnya sembari mengacak rambut Nadia yang masih tergerai.


Pria itu memang sangat suka setiap membelai rambut hitam dan tebal milik Nadia walau dia sebenarnya juga mengetahui bahwa semua itu dilanggar oleh agama tapi entah kenapa, kebiasaan yang menyenangkan itu kenapa harus diharamkan? Begitulah kira-kira di dalam pikiran seorang Ferdi yang memang lumayan jauh dari Tuhannya. Terkadang sekali-kali dia mulai memperbaiki diri agar bisa menjadi sosok suami yang pantas untuk Nadia nanti Dengan mulai mendisiplinkan diri untuk tidak lagi meninggalkan shalat fardhu lima waktu yang dulu sama sekali tak pernah dilakukannya.


“Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” sahut Nadia mengantarkan lelaki itu dengan lambaian tangan selaras senyum tipis dibikinnya hingga mobil yang dikendarai Ferdi hilang di perempatan jalan.


“Non Nadia, apa semua perlengkapan yang dibutuhkan di Bandung sudah tak ada lagi?” Bibi Upi sedang memasukkan cemilan ringan yang tadi sempat dibawakan salah seorang teman Nadia ke dalam saku koper milik gadis itu.


“Kayaknya semuanya udah cukup kok, besok tinggal berangkat aja dan Mas Ferdi akan datang ke sini untuk nganterin sampai ke sekolah karena kamu akan langsung diantar sama kepala sekolah!” sahut Nadia sambil menutup pintu rumahnya dan mengunci dari dalam, apalagi semenjak Bagas meninggal dunia Nadia hanya tinggal berdua dengan pelayannya yang bahkan sudah menganggapnya seperti anak kandungnya sendiri.


'Terima kasih ya Allah, Engkau mengirimkan orang baik seperti Bibi Upi yang akhirnya rela menjagaku hingga sekarang, berilah dia selalu kesehatan dan umur panjang, aamiin,’ batinnya di dalam hati saat melihat wanita paruh baya itu menutup kopernya.

__ADS_1


__ADS_2