Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 36. Rangga Suka Nadia


__ADS_3

Nadia menatap wajah Rangga dan Renaldo secara bergantian merasa gugup untuk menyahuti pertanyaan yang baru saja dilontarkan sang ketua OSIS. Sepertinya dia memang harus mengakui hubungan palsu itu di hadapan Rangga agar cowok itu tidak lagi mengganggunya.


“Apa yang dibilang Renaldo barusan itu memang benar, kalau aku memang kekasih dari kakaknya!” jawab Nadia dengan menundukkan kepala karena tak kuasa melihat wajah sedih sang ketua OSIS.


Nadia bukannya tidak mengerti bahasa tubuh yang sering diperlihatkan Rangga selama ini tapi gadis itu hanya berpura-pura tidak tau, perhatian yang sengaja diberikan Rangga dengan hal-hal kecil seperti membawakan minuman atau cemilan ke ruang pustaka sering kali membuat gadis itu merasa tidak nyaman karena musuhnya kembali mencuat.


Sedangkan kedua mata Rangga membola seakan tidak percaya dengan pengakuan dari bibir Nadia. Tidak pernah terpikirkan sedikit pun olehnya kalau Nadia sudah memiliki seorang kekasih, apalagi lelaki itu adalah seseorang yang super perfeksionis seperti Ferdi. Rasanya Rangga sungguh tidak percaya. Bagaiaman mungkin Nadia yang masih belia dan polos itu bisa tahan berpacaran denga pria tempramental itu?


“Lo pacaran dengan kakaknya Renaldo? Laki-laki arogan yang udah tua dengan jabatan CEO itu? Pria bermuka datar gak pandai senyum itu?” todong Rangga dengan rentetan pertanyaan plus tatapan masih belum percaya. Bahkan kedua alisnya sampai naik ke atas saing tidak percayanya.


Nadia hanya bisa menganggukkan kepala menandakan apa yang ditanyakan Rangga barusan benar adanya. Hanya Nadia tak menyangka kalau sang ketua OSIS itu ternyata suka menjelekkan orang lain padahal keliahatannya sangat lembut dan bijaksana. Apalagi gadis itu merasa tidak terima jika Ferdi dikatakan sebagai lelaki tua berwajah datar, walau kenyataannya bos pamannya itu memang terpaut jauh umur dengannya.


“Dia bukan lelaki arogan kok, bukan pria tua juga … tapi Mas Ferdi pria yang sudah matang dalam segala hal termasuk matang dalam menyikapi suatu masalah,” bantah Nadia tidak suka dengan sebutan yang dikatakan Rangga.

__ADS_1


Entah kenapa hatinya terasa sakit saat Rangga berusaha membuat seorang Ferdi jadi terlihat jelek di depan orang lain. Ada rasa tidak terima di dalam hatinya ketika mendengar orang lain ingin menjatuhkan nama lelaki baik bagai malaikat penolong dalam kehidupannya. Bahkan Nadia merasa jika tanpa adanya Ferdi, mungkin sang paman sudah lama terkubur di liang lahat karena dirinya tak punya biaya untuk merawat Bagas selama itu.


“Tapi gue gak percaya sebelum lo ngebuktiin kalau CEO itu adalah pacar asli lo bukan hanya rekayasa!” tegas Rangga dengan napas memburu seolah dirinya baru saja berlari jauh.


Ini Rangga maunya apa sih? Sudah dijawab tapi masih belum percaya juga. Memangnya apa tujuan cowok itu menyuruh Nadia untuk pakai acara harus membuktikan segala?


“Cih, lo ini kenapa sih? Emangnya Nadia cewek lo yang lagi selingkuh sampai segitu ngebetnya mau tau orang ketiga dalam hubungan kalian? Nadia itu kan cewek kakak gue trus apa hubungannya dengan lo? Apa lo mau minta bukti abang gue yang super tampan itu nyium pacarnya depan lo? Aneh banget emang sifat ketua OSIS sekarang! Rada sedeng!” Renaldo menatap Rangga dengan pandangan merendahkan.


“Maaf ya, kak Rangga, tapi apa gunanya aku harus membuktikan segala padamu? Apakah aku wajib ngasih bukti ke semua orang kalau aku pacaran sama Mas Ferdi? Memangnya ada aturan sekolah yang mengharuskan siswanya mengisi data kekasih mereka? Kamu ini ketua OSIS bukan seorang mak comblang yang harus tau kisah cintaku para siswa di sekolah ini, kan?” todong Nadia memberikan rentetan pertanyaan karena merasa bingung atas permintaan sang ketos.


“Kenapa lo diam, Kak Ketos? Apa baru nyadar kalo yang lo lakuin barusan itu terdengar aneh? Seorang Ketos mau ikut campur urusan percintaan siswa sekolah ini hahaha, asli lucu banget ini!” oceh Rei dengan sengaja mengejek.


“Kalau Nadia ketahuan bawa barang yang bisa menghasilkan asap ke sekolah dan lo menghukum dia, itu rasanya sangat wajar, atau mungkin Nadia membawa novel plus-plus yang diselipkan di dalam tasnya … lo juga bisa ngasih dia hukuman, tapi kalau Nadia pacaran terus lo ingin sok tau dan sok seperti bapaknya … lo kayaknya udah kurang aj– maksud gue lo udah kayak orang kurang kerjaan!” Renaldo mengalihkan pandang berusaha menahan umpatan yang hampir saja keceplosan.

__ADS_1


“Sekarang kita ke kantin, Nad! Abang gue baru chat ini, dia nyuruh biar lo makan di kantin mulai sekarang sama gue agar gak ada lagi cowok lain yang deketin lo!” terang Rei sembari menarik tangan Nadia yang tak ada perlawanan sama sekali.


“Jan bohong deh Rei! Mas Ferdi mana pernah ngomong begitu?” protes Nadia tak yakin.


Bagaimana gadis itu bisa percaya kalau selama ini Ferdi memanglah sedikit dingin dan tak pernah menanyakan tentang masalah makannya segala. Lagian mereka kan hanya berpura-pura, jadi tidak mungkin pria itu akan memberikan perhatian khusus padanya.


“Gue nggak bohong ,Calon Kakak Ipar! Ntar deh kalau udah sampai kantin gue kasih liat ancaman dari Bang Ferdi kalau gue sampai biarin lo didekati sama cowok lain!” lanjutnya tetap menarik tangan Nadia tanpa mau melepasnya.


“Tunggu Rei! Buku aku ketinggalan di dekat kak Rangga tadi. Aku jemput bentaran ya,” ujarnya membalikkan tubuh berjalan cepat ke arah Rangga yang masih mematung setelah mendengar perkataan Renaldo tadi.


Nadia menunduk dan mengambil buku yang tadi dijadikannya perantara saat duduk bersama Rangga.


“Maaf ya, Kak Rangga … aku membuatmu kecewa karena kita hanya bisa berteman saja tak bisa lebih. Kita itu bagai langit dan bumi dan tujuanku ke sini hanya untuk belajar, Sekali lagi maafkan jika aku tak bisa menerima perasaan Kakak,” cicit Nadia dengan suara hampir tak bisa didengar.

__ADS_1


“Tapi gue suka sama lo, Nadia! Gue udah tau kalau lo sebenarnya hanya terpaksa menerima kakaknya Rei kan? Apa karena demi biaya Pamannmu? Kalau gue bisa menebus seluruh biaya yang dikeluarkan Ferdi itu … apa lo mau menerima cinta gue?” tanya Rangga dengan tatapan penuh harap.


__ADS_2