
Dukung dengan like, komen dan vote ya. Terima kasih.
“Mana bisa! Aku ini manusia yang punya hati, punya mata dan juga telinga. Aku mendengar semua yang dikatakan papamu, dan aku harus tau diri!” tepisnya berusaha mulai menjaga hati dengan melawan perkataan Ferdi.
Namun, bukan Ferdi namanya jika harus mengalah dan membiarkan Gadis itu pergi begitu saja tanpa mendapatkan keuntungan sedikit pun karena Ferdi sudah bertekad di dalam hati walau apapun yang terjadi dirinya tidak akan pernah melepaskan Nadia sedikitpun!
“Oke, jika kamu memang tahu diri, terus memangnya apa yang bisa kamu lakukan sekarang?” Ferdi menaikan satu kakinya hingga tubuh pria Jangkung itu mengarah dan melihat wajah Nadia dari samping yang duduk di atas ranjang dengan kedua kaki di lantai. Dia bisa merasakan bagaimana sakitnya perasaan Gadis itu saat ini dan entah kenapa, hatinya juga ikutan merasa sedih dan sakit seperti yang dirasakan Nadia ketika mendengar perkataan papanya sendiri.
“Nanti pulang sekolah aku nggak bakal langsung ke rumah sakit dulu tapi mau nyari kerja, jadi pelayan pun tak apa … yang penting uangnya halal dan bisa untuk nambah biaya rumah sakit Om Bagas!” lirih gadis itu kemudian menoleh ke samping memperhatikan wajah Ferdi yang masih menatapnya begitu intens.
“Dengar Nadia, Jakarta tidak sebaik Desa tempat tinggalmu dulu dan manusianya sangat beragam dan lebih memikirkan diri masing-masing bahkan kejahatan ada di mana-mana. Apa kamu yakin bisa jaga dirimu ketika bekerja menjadi seorang pelayan? Aku hanya ragu kalau kamu nanti bukannya menjadi seorang pelayan untuk … Ah sudahlah, kamu nggak bakalan mengerti! Kalau kamu memang hanya ingin menjadi seorang pelayan maka jadilah pelayan khusus untukku, mengikuti ke mana saja dan mempersiapkan semua kebutuhanku maka kamu akan kuberikan gaji yang sepadan untuk tambahan biaya rumah sakit pamanmu! Bagaimana?” tanya Ferdi.
CEO Singgalang itu hanya tidak ingin Nadia berteman dengan orang yang salah dan melakukan pekerjaan yang juga tidak dimengertinya karena bagaimanapun Gadis itu terlalu polos untuk tinggal di lingkungan orang-orang asli Jakarta yang tidak memiliki rasa berkasih bahkan pada temannya sendiri masih mau mengambil keuntungan demi tujuannya.
Ferdi hanya tidak ingin Nadia salah melangkah dan merusak hidupnya hingga menyesal selama-lamanya.
__ADS_1
“Nadia nggak mungkin bisa jadi pelayan Om Ferdi,” sahut Nadia ikut menatap wajah laki-laki itu.
“Coba kamu ingat, bukankah kita sudah menyetujui Perjanjian Kalau kamu akan pura-pura menjadi kekasihku dan itu sudah ada gaji 10 juta untukmu setiap bulan bahkan sudah kunaikkan jadi 15 juta, Jadi kalau kamu merangkap jadi pelayanku juga maka aku bisa memberimu gaji yang lebih dari itu! Aku rasa kamu nggak bakalan bisa mendapatkan gaji sebesar ini di tempat manapun kalau hanya menjadi seorang pelayan restoran ataupun pelayan Cafe, bahkan kalau kamu melamar jadi pelayan di salah satu diskotik atau bar sekalipun gajimu tidak akan sebanyak itu, Percayalah padaku!” bujuk Ferdi berusaha memberikan alasan silogis mungkin agar gadis lugu itu mengerti tujuannya.
Ferdi tidak ingin Nadia menjadi gadis yang rusak karena salah lingkungan dan juga salah pekerjaan, jadi dirinya lebih memilih Nadia selalu berada di sekitarnya karena itu akan lebih membuatnya fokus dalam menjalankan pekerjaan dan juga fokus mengontrol perasaan.
Perempuan itu terlihat menunduk memikirkan baik buruknya yang dikatakan Ferdi barusan, “nanti aku pikirkan dulu!” jawab Nadia singkat.
Gadis itu berdiri dan masuk ke kamar mandi karena Ferdi juga yakin nah dia pasti merasa malu untuk pergi ke sekolah dengan wajah sembab bekas air mata, dirinya duduk lalu mengambil salah satu bantal meletakkannya di atas pangkuan dan menghubungi Kevin yang sudah diangkatnya menjadi asisten pribadi untuk menggantikan Bagas selama sahabatnya itu belum siuman.
“Halo Vin, reschedule semua jadwal meeting yang sudah ada karena saya masih ada urusan dan mungkin tidak ke kantor pagi ini. Pindahkan jamnya ke arah sore hari karena mungkin setelahnya dia pulang sekolah baru saya bisa datang ke sana!” titah Ferdi.
“Bisakah lo nggak nyebut gue dengan tuan? Jijik banget dengernya,” umpat Ferdi yang dibalas tawa terbahak di ujung telepon sana.
Ferdi merasa sangat beruntung memiliki beberapa orang teman yang sangat baik bahkan rela melakukan apa saja untuknya.
__ADS_1
Ceklek!
Nadia keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah yang jauh lebih kelihatan segar. Ferdi tersenyum menyambut gadis itu, mengambil tas ransel sekolah Nadia untuk dibawanya, “Ayo, sebentar lagi bel sekolahmu akan bunyi!”
Nadia hanya bagai robot yang langsung mengangguk, mengikuti langkah kaki Ferdi dengan tangan yang menarik dirinya menuju mobil. Apa mereka tidak menyadari kalau semua perawat yang silih berganti menyaksikan keakraban keduanya sudah punya spekulasi sendiri terhadap hubungan mereka? Bahkan dokter jaga yang juga silih ganti ikut mengira kalau mereka merupakan pasangan beda usia yang sangat romantis.
“Enak ya jadi keponakannya pasien bernama Bagas itu, walau om nya terbaring sakit tapi pacarnya selalu setia nemenin. Aku malah sering liat kalau cowok tampan itu suka tidur di sofa nungguin kekasih nya hampir tiap malam,” ucap salah seorang suster.
“Aku juga iri liat kesetiaan yang cowok, kayaknya dia itu cinta banget ama tuh bicil SMA, sampai rela bolak balik kantor dari rumah sakit, tapi tuh cowok kayaknya punya jabatan tinggi deh di kantornya. Aku sering dengar kalau dia suka main perintah gitu lewat telepon.” Perawat bernama Lala ikut menimpali.
“Aku malah kasian ama tuh cowok cakep. Udah mapan tapi jatuh cinta malah sama anak ABG yang belum ngerti apa-apa. Maklum aja, aku sempat dengar kalau ceweknya itu masih kelas dua SMA. Kayaknya juga ponakan Pak Bagas yang bernama Nadia itu masih sangat polos banget. Soalnya aku sempat dengar waktu kawan-kawannya pria tampan itu pada datang mereka semuanya terlihat dewasa tapi kok bosnya malah jatuh cinta sama remaja kayak Nadia. Aku yakin 100% kalau pria bernama Ferdi itu pasti tersiksa banget ama lato-latonya yang nggak bisa masuk sarang saat hasrat memuncak! Kan pacarnya kelewat Bocil yang gak ngerti apa-apa.” Si Karu kelas VIP di sana pun tak terlepas dari hobi bergosip.
“Hilih Kak Nindy omongannya frontal banget sih! Kalau aku malah senang melihat pasangan saling setia kayak begituan karena dia tahu menjaga kekasihnya dengan baik, bukan mentang-mentang masih polos terus langsung dirusak untuk mengambil keuntungannya sendiri! Ya nggak sih guys?” Ranti malah memberikan celetukannya memihak Nadia dan juga Ferdi yang mereka anggap punya hubungan spesial.
“Lagian kenapa kita harus kepo dengan hubungan percintaan orang, sadar diri nggak sih kalau kita semua sekarang masih pada jomblo hahaha!” lanjut Meranti terbahak seketika yang diikuti semua perawat yang jaga.
__ADS_1
“Hust! Ayo pada balik kerja, yang ada malah aku nanti nih diturunin lagi jabatannya gara-gara bergosip sama kalian semua!” Nindy ternyata baru sadar kalau dirinya seorang Karu yang harus bertanggung jawab.
Baru saja seluruh perawat yang tadi bergosip membubarkan diri, terlihat seorang wanita dengan pakaian seksi mengintip keadaan Bagas lewat dinding kaca ruang ICU.