Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 23. Janji Penjaga Hati


__ADS_3

Nadia tertidur di bangku panjang luar ruang ICU. Gadis itu sama sekali tak mau meninggalkan Bagas kecuali hanya ke toilet atau pun melakukan ibadah shalat subuh. Ferdi sudah berulang kali mengajaknya untuk beristirahat pulang ke rumah tapi Nadia kekeh ingin menemani pamannya yang menyambung nyawa dengan perantara alat-alat medis saja.


Ferdi tahu apa yang sedang dirasakan Nadia sekarang, ketakutan yang berlebihan karena akan menjalani hidup sendirian jika sampai hal buruk terjadi pada asisten pribadinya itu. Dengan lembut pria tampan itu membuka jas yang ada di tubuhnya lalu menjadikan baju kebesaran itu sebagai selimut untuk Nadia dan mengangkat kepala gadis itu berpindah ke atas pangkuannya agar Nadia merasa lebih nyaman, entah apa yang ada di dalam pikirannya sekarang.


Setelah melihat Nadia tidur dengan lelap, dia pun tanpa sadar menatap wajah yang ada di atas kedua pahanya. Cantik satu kata yang terpendam di dalam hati. Namun, ada rasa bersalah bergelayut di dalam pikirannya tentang musibah yang menimpa asisten pribadinya.


‘Bagas kecelakaan karena memaksakan diri membawa mobil pulang ke rumah. Dia pasti melihat kamera CCTV dan mengetahui gue di rumahnya. Bagas pasti takut kalau gue bakal macem-macemin keponakannya. Maafkan gue, Nadia … om lo celaka gara-gara gue. Gue janji bakal jagain lo sampai Bagas membuka mata dan jika paman lo itu tidur selamanya … maka gue bersumpah bakal ada buat lo selama-lamanya. Gue bakal jadi penjaga hati lo,’ gumamnya di dalam hati dengan mata yang mengembun berkaca-kaca.


Tanpa ia sadari, tiga temannya baru saja datang untuk melihat kondisi Bagas terkini karena baru bisa datang pagi ini ke rumah sakit. Mata mereka seakan tidak percaya saat melihat bagaimana cara tatapan penuh damba dari seorang CEO Singgalang Group pada gadis yang berbaring di atas pangkuannya.


“Ssttt, coba kalian perhatiin noh! Ferdi kayaknya suka deh ama ponakannya Bagas, iya gak sih?” celetuk Kevin saat mereka masih berjalan di koridor rumah sakit dan mendapati tatapan beda dari bos mereka.


“Bener banget eii, aduh yang beneran aja itu kayak sepasang kekasih dan tatapan Ferdi sumpah itu ada binar cinta gue yakin, swear!” sahut Rafael ikut menatap bagaimana cara Ferdi menatap keponakan sahabat mereka itu.


“Gue juga mau kalau Nadia nya juga mau sama gue hehehe, gadis polos kayak gitu siapa yang kagak mau coy! Apalagi Nadia itu gadis yang pintar dan gak neko-neko,” timpal Romeo tak mau kalah, “tapi yaudah lah, kayaknya kita hanya bisa gigit jari kalau saingan nya Bos sendiri, jadi bagusan mundur aja daripada dipecat, hahaha!”

__ADS_1


Sedangkan Farel hanya bisa menggelengkan kepala melihat ketiga sahabatnya membicarakan sikap lembut seorang Ferdi terhadap keponakan sahabat mereka yang menurut kabarnya masih dalam keadaan koma.


Mereka akhirnya berhenti bergosip setelah sampai di dekat Ferdi.


“Gimana keadaan Bagas, Bos?” tanya Kevin yang duduk di dekat kepala Nadia samping Ferdi yang sengaja dibiarkan Ferdi tertidur dengan posisi kepala gadis itu ada di pangkuannya.


Ferdi hanya menggeleng pasrah sembari tangannya tanpa sadar mengusap-usap kepala Nadia yang tertidur pulas. Kevin, Romeo, Rafael dan juga Farel jadi saling pandang melihat apa yang sedang dilakukan atasan sekaligus sahabat mereka itu.


“Memangnya Dokter bilang apa, Bos? Apa kita nggak bisa masuk untuk melihat keadaan Bagas?” tanya Romeo dengan mata yang melirik pada wajah gadis yang sedang tidur dengan posisi kepala di atas paha Ferdi.


“Wajah Nadia juga terlihat lumayan pucat, mending bos bawa aja dia pulang sekarang selagi masih tertidur kayak gini. Sepertinya tidurnya nyenyak banget jadi nggak bakalan terbangun kalau dibawa pulang daripada dia di sini tidur dengan tubuh seperti itu pasti nggak enak! Nanti kalau Gadis itu bangun bilang saja kalau kami yang sedang menjaga Bagas di sini biar dia jadi lega,” ujar Romeo memberi saran agar Ferdi segera membawa pulang gadis remaja yang masih mengenakan pakaian semalam dengan motif bergambar doraemon.


Ferdi menatap tiga temannya secara bergantian, memikirkan kembali jika apa yang Romeo katakan ada benarnya. Mungkin ada baiknya sekali-kali dia memang harus sedikit keras pada keponakan sahabatnya itu daripada nanti Nadia menjadi sakit sementara pamannya juga sedang terbaring seperti mayat hidup di ruang ICU.


“Oke, kalau gitu gue ke mobil dulu. Rafael tolong lo antar gue pulang ke tempat Nadia biar gue sekalian Istirahat di sana dan lo yang antar jemput gue mulai sekarang selama Bagas belum sadar!” Ferdi menyerahkan kunci mobil pada salah seorang karyawannya itu dan langsung menjadi kan Rafael sebagai sopir pribadinya. Padahal selama ini Rafael hanyalah karyawan biasa di perusahaan milik orang tuanya.

__ADS_1


“Dengan senang hati bos, kalau perlu gue juga mau kok menggantikan posisinya Bagas untuk sementara jadi asisten seorang bos,” sahut Rafael yang langsung mendapatkan pukulan ringan di bahunya.


“Emangnya lo kira jadi asisten pribadi itu bisa dengan otak lemot kayak lo! Udah bagus juga disuruh jadi sopir malah ngelunjak minta jadi Aspri, sadar dikit lo jadi orang!” sela Farel meledek Rafael.


“Syirik bilang Bos, gue cabut dulu ya mo nganter sepasang kekasih,” lanjutnya dengan nada sedikit berbisik karena takut terdengar sama bosnya. Rafael akhirnya berlari agar bisa lebih duluan sampai dekat mobil guna membantu pergi membuka pintu mobil agar lebih mudah masuk ke dalamnya dengan Nadia yang tetap berada di gendongannya.


Ferdi tak henti memandang wajah pucat Nadia, apalagi semalam gadis itu sempat menghabiskan satu botol cairan infus tapi buru-buru minta dilepas karena ingin melihat keadaan pamannya.


“Rafael, lo yang jadi saksi, jika terjadi hal buruk sama Bags maka gue yang akan bertanggung jawab sama kehidupan Nadia selamanya!” ucapnya dengan tetap memandangi wajah tidur Nadia.


“Siap, Bos, gue akan memegang janji lo itu dan gue bersumpah bakal ngebunuh lo kalau sampai nyakitin hatinya Nadia. Jika Bagas tiada maka kita harus menjaga dan melindungi nya bersama-sama,” sahut Rafael melirik Ferdi lewat kaca spion.


‘Dan gue bakal menjadi penjaga hati Nadia sampai mati,’ lanjut Ferdi di dalam hati.


Pria itu ingin sekali mendekatkan wajahnya pada wajah pucat gadis dengan kepala yang tetap berada di atas kedua pahanya, memberikan kecupan lembut di atas kening Nadia dan mengatakan ... jika semuanya pasti akan baik-baik saja tetapi semua itu hanya terpaksa dipendam di dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2