
“Hust, udah diam. Kalian jangan ngompor deh! Entar pacar Nadia ngintil beneran hihihi.” Rina Kembali bersuara dengan melirik wajah Ferdi yang telah berubah masam.
Parahnya obrolan para siswi cantik itu tepat terdengar di telinga Ferdi dan itu membuat dirinya terpaksa memejamkan mata sesaat hingga lupa nama pesanan sarapan untuk Nadia.
Ferdi kembali ke dekat bangku Nadia untuk menanyakan menu sarapan yang diinginkan gadis tersebut karena baru saja dirinya merasa kesal dengan ucapan para siswa yang sempat-sempatnya bergosip di pagi hari. Sebenarnya ingin sekali Ferdi menegur Siswi itu tetapi dirinya tidak ingin membuat gaduh seisi kantin, apalagi dirinya bukanlah siswa di sekolah Tunas Bangsa melainkan hanya seseorang yang dianggap bukan bagian dari warga sekolah.
“Loh Mas, mana sarapannya? Kok balik lagi ke sini dengan tangan kosong?” Nadia melipat dahi, merasa heran dengan perbuatan Ferdi yang kembali duduk di sampingnya tanpa membawa apa-apa ditambah lagi wajahnya begitu muram seolah mendung yang begitu gelap dan sebentar lagi pasti akan turun hujan.
“Kamu aja yang pesan. Soalnya di dekat sana banyak sekali para siswi yang liar menatapku dan aku sama sekali nggak suka!” elaknya membuat alibi agar Nadia percaya, padahal dirinyalah yang saat ini merasa sedang tidak baik-baik saja akibat rasa cemburu yang membabi buta, terlebih dia juga mengetahui kalau Nadia akan berangkat ke Bandung bersama Nando – teman sekelasnya.
Gadis itu pun melihat ke arah yang ditunjukkan Ferdi barusan. Dia melihat semua yang ada di sana ternyata rata-rata teman sekelasnya semua dan mereka memang para gadis yang haus ketampanan cowok.
__ADS_1
“Ya udah deh, kalau begitu,” sahut Nadia mengalah dengan senyum diiringi gelengan kepala.
Baru saja beberapa saat yang lalu Ferdi mengatakan akan menjadikannya ratu tapi sekarang pria itu malah terlihat sedang memberengut entah kenapa. Ingin bertanya rasanya sangat tidak pantas karena jumlah siswa yang memasuki kantin semakin banyak saja jelang jam masuk sekolah.
Lima menit kemudian, pesanan mereka sudah siap dan Nadia hendak membawanya ke bangku dimana Ferdi menunggu.
“Nadia, itu cowok kamu bukannya CEO Singgalang Group ya?” tanya ibu kanti yang memang terkenal suka kepo.
Nadia tersenyum. Sebenarnya gadis itu malas untuk membahas hal privasi seperti ini tapi jika didiamkan maka ibu kantin akan semakin gencar menanyakannya.
Gadis itu tidak ingin berlama-lama bicara dengan ibu kantin karena sudah sangat dengan karakter wanita itu, “Ini uangnya, Bu … kembaliannya ambil aja!” Nadia gegas pergi meninggalkan sang ibu kantin sebelum wanita itu melanjutkan pertanyaan berikutnya.
__ADS_1
“Loh, tunggu dulu, Nadia!” panggil ibu Kantin mengekori gadis itu.
Nadia sudah sampai di bangkunya lalu meletakkan menu sarapannya dan juga Ferdi.
“Ada apa lagi ya, Bu?” tanya Nadia sembari duduk persis di samping Ferdi.
Pria itu menoleh pada ibu kantin, merasa keberatan karena telah mengganggu acara sarapannya. Pria itu pun menatap ibu Kantin dengan tajam.
“Kalau anda mengganggu pelanggan seperti ini maka kantin anda akan segera sepi pengunjung! Tau kenapa? Itu semua karena anda terlalu kepo dengan urusan orang!” Ferdi yang terbiasa memarahi seseorang di dalam kantor tanpa sadar sudah menganggap jika semua lingkungan sekolah itu akan sama seperti apa yang pernah dilalui.
“Eh maaf, Tuan Ferdi, kalau tadi perkataan saya ada yang mengusik perasaan Anda. Sebenarnya saya hanya ingin mengatakan kalau ada surat untuk Nadia tapi kamu udah pengen cepat-cepat saja menemui tuan Ferdi.”
__ADS_1
Ibu kantin meraih sepucuk surat yang ada di saku daster yang dikenaknnya.
“Surat, dari siapa?”