Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 37. Roger


__ADS_3

“Tapi gue suka sama lo, Nadia! Gue udah tau kalau lo sebenarnya hanya terpaksa menerima kakaknya Rei kan? Apa karena demi biaya Pamannmu? Kalau gue bisa menebus seluruh biaya yang dikeluarkan Ferdi itu … apa lo mau menerima cinta gue?” tanya Rangga dengan tatapan penuh harap.


Sepertinya Rangga benar-benar sudah habis rasa malu sehingga dirinya tidak lagi mempedulikan di mana saat ini mereka berada, tepatnya di dekat lapangan basket yang terlihat dari segala arah.


Nadia tertegun mendengar pernyataan Rangga. Gadis itu sama sekali tidak pernah menyangka akan mendengar permohonan cinta yang begitu menyentuh dari ketua OSIS di sekolahnya. Padahal selama ini mereka tidak terlalu dekat kecuali semenjak sang paman masuk ke rumah sakit dan Rangga pun mulai rutin mendekatinya.


“Maaf sekali lagi ya, Kak Rangga. Hubunganku dan Mas Ferdi tidak seperti apa yang ada di dalam bayangan pikiran Kak Rangga tapi jauh lebih rumit dari apa yang terlihat, jadi lebih baik kita berteman seperti biasa karena semuanya tidak akan mungkin bagi kakak untuk mendekatiku lagi! Aku pamit dan semoga Kakak mendapatkan gadis yang benar-benar pantas untuk mu!" Nadia berusaha melepaskan genggaman tangan Rangga yang tadi sempat menahan jemarinya.


Gadis itu pergi dengan sedikit rasa bersalah karena tidak pernah membayangkan jika ada perasaan yang bakal terluka setelah dirinya berdekatan dengan Ferdi, padahal antara dirinya dan kakak Renaldo itu pun tidak memiliki hubungan yang pasti, kecuali sebagai seorang kekasih palsu. 


“Ternyata lo berani juga ya nolak si ketos, padahal yang gue tahu di sekolah ini banyak cewek-cewek yang naksir sama dia, bahkan mereka ada yang melakukan perlombaan segala dengan taruhan siapa yang bakal bisa duluan menaklukkan seorang Rangga naik ranjang maka akan mendapatkan semua mobil para petaruhnya!” cerita Renaldo membeberkan fakta baru yang belum pernah diketahui Nadia.


Saking Nadia merasa tidak percaya, Gadis itu sampai menghentikan langkah kakinya, menatap dengan menaikkan kedua alis mata, menuntut penjelasan yang lebih detail pada Renaldo. 


“Jangan ngaco ah, masa Kak Rangga segitu berharganya sampai cewek-cewek pada mau mengorbankan kesucian sendiri hanya demi seorang ketua OSIS? Murahan banget, apa mereka gak takut sama perbuatan dosa? Separah itukah gadis kota?” dahi Nadia berkerut diiringi gelengan kepala karena menurutnya itu adalah hal konyol yang paling bodo untuk dilakukan dan juga sangat rendahan.


“Sayangnya lo itu berasal dari desa yang notabene gadis-gadis di sana sangat menghormati kesucian atas kehormatan mereka. Bukankah biasanya gadis di desa hanya akan menyerahkan kesucian mereka pada sosok yang berstatus suami? Lo salah besar jika berpikir kalau gadis di kota memiliki pemikiran yang sama kayak apa yang ada di kepala lo. Gue berani bertaruh ama lo, jika disuruh cewek-cewek di sekolah ini disuruh jujur dan kita pasang alat tes kebohongan, maka perkiraan 80% para siswa di sekolah Tunas Bangsa pasti bakal ketahuan sudah tidak Virgin lagi!” tegas Renaldo meyakinkan.

__ADS_1


“Sekarang lo mengerti kan kenapa banyak cowok di sekolah ini pada demen ngincar lo? Termasuk abang gue, karena dia yakin lo adalah gadis yang bisa menjaga kehormatan dan juga kesucian hanya untuk suami lo kelak setelah menikah! Kalau masalah utamanya sih Bang Ferdi cinta sama lo bukan karena itu, tapi tulus dari hatinya sebab Dia pernah cerita sama gue ingin mengejar keponakan asistennya. Sayangnya waktu itu gue nggak ngerti kalau keponakan sang asisten yang diomongin itu adalah lo sendiri yang ternyata keponakannya Bang Bagas, teman abang gue sendiri!” Setelah bicara seperti itu Renaldo menarik lagi tangan Nadia hingga mereka berdua menjadi sorotan mata para siswa karena genggaman tangan Renaldo yang tidak lepas sama sekali dari jemari Nadia.


“Widih, ada yang lagi kasmaran nih kayaknya!” celetuk Nando dengan sengaja menaik turunkan kedua alisnya mengarah pada tangan Rei dan juga Nadia yang masih saling terlihat bertautan. 


“Sirik aja lo!” dengus Renaldo sembari melepaskan tautan jari itu karena sejak tadi sebenarnya Nadia berusaha melepaskannya tapi urung dilakukan Rei hanya sekedar ingin memperlihatkan pada teman-temannya, jika Nadia bukanlah gadis yang bisa mereka ganggu.


‘Sorry bang Ferdi, Gue hanya berusaha untuk menjaga cewek yang lo suka walau dalam hati gue sebenarnya juga suka sama Nadia!’ rintihnya bergumam sendiri merasa sedih dengan nasib yang sedang dialaminya, berusaha mengalah demi fasilitas yang telah diberikan Ferdi selama ini untuknya.


“Kamu mau makan apa, Sayang?” tanya Renaldo kembali mengubah sebutannya memanggil nama Nadia di depan teman-teman gengnya. 


“Astaga jantung gue ada yang melihat jatuh nggak, kok tiba-tiba rasanya sakit bener ya ngedengar suara bucin ketua kita, apa mungkin karena gue jomblo kali, ya?” celoteh Revan yang tiba-tiba saja memicingkan mata lalu meletakkan kedua tangannya saling berhimpitan di bagian dadanya sendiri. 


“Hahaha, lebay banget gaya lo, Revan!” kekeh Roland hingga terbahak.


Sementara Nadia sendiri berusaha menetralkan emosi karena tidak suka dipanggil sayang sama Renaldo yang terlalu berlebihan. Cowok itu mendekatkan bibirnya ke dekat telinga Nadia, “Sorry ya Nadia, gue terpaksa melakukan ini semua hanya demi abang gue agar tak ada lagi cowok yang gangguin lo di sekolah!”


“Hem,” jawab Nadia hanya mendehem kesal. 

__ADS_1


“Cie cie … makin mesra aja tuh, dari bibir ke kuping nanti lama-lama tuh bibir pindah ke bibir,” sela Romi tak mau kalah ikut menggoda mereka.


“Hahaha! Muka Nadia kok gak merah ya? Biasanya kalo cewek lagi malu itukan biasanya wajah mereka memerah, tapi kenapa ini malah wajah Renaldo yang udah kayak tomat busuk, buahaha,” sela Roland lagi dengan kejahilannya.


“Hahaha, lo ini, Roland. Orang kalo tersipu itu wajahnya merona merah kayak kepiting rebus atau minimal kata-katanya jan ngehina gitu napa? Sabar Rei, orang sabar itu bakalan selalu kesal, hahaha!” sambung Nando tak ayal malah membuat mereka kembali terbahak.


Nadia hanya bisa menggelengkan kepala ketika mendengar semua teman geng Renaldo berusaha menggodanya dengan adiknya Ferdi itu. 


“Nad, ini gue tadi cuma mesenin lo nasi goreng aja ama teh es, gak apa kan?” tanya Rei yang baru saja kembali setelah mengambil makan siang pada ibu kantin.


“Makasih,” jawab Nadia singkat.


“Sama-sama, Sayang,” timpal Rei kembali membuat kedua bola mata Nadia berputar jengah. 


Bisa-bisanya Renaldo mengambil kesempatan begitu banyak untuk memamerkan kedekatan mereka. Nadia mulai fokus pada nasi goreng yang ada di dalam piringnya. Gadis itu tidak ingin hanyut dengan semua obrolan unfaedah dari mereka semua.


Saat mereka semua sedang menikmati makan siang di kantin, tiba-tiba saja terdengar pengumuman dari pihak sekolah yang mengatakan bahwa seluruh siswa diperbolehkan untuk pulang setelah jam istirahat selesai. Berita itu tentu saja membuat seisi kantin menjadi heboh dengan sorakan riang para siswa yang ada di sana.

__ADS_1


Roger yang sejak tadi hanya diam, ternyata mengirimkan chat sama Ferdi– kakaknya Renaldo.


[Bang, Nadia udah boleh dijemput karena ada rapat guru dadakan. Gue udah kasih info dengan baik sama abang, jadi tolong jangan bilangin sama ibu gue tentang apa yang gue kerjain, dan gue juga dari tadi sama adek lo dan Nadia. Renaldo sejak tadi selalu manggil Nadia dengan sebutan sayang!]


__ADS_2