Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 48. Menu Spesial


__ADS_3

Keadaan di dalam mobil jadi hening seketika setelah Ferdi mengeluarkan suara, sedangkan Kevin hanya tersenyum tipis sembari sekali kali mencuri pandang terhadap wajah Nadia yang duduk di sebelah bosnya. Entah kenapa asisten itu merasa Nadia sungguh belum saatnya jika sampai harus menikah muda dengan Ferdi Fernando karena umur mereka yang terpaut sangat jauh. 


Apalagi Kevin merasa benar-benar sangat tidak rela kalau sampai Nadia menjadi milik atasannya karena bagaimanapun juga, Ferdi walaupun sebagai temannya merupakan laki-laki yang sangat sombong dan penuh ambisi dalam segala hal, entah bagaimana jadinya nanti jika Nadia masuk ke dalam kehidupan sahabatnya itu.


Tidak lama kemudian mobil yang dikendarai Kevin akhirnya sampai juga di rumah Bagas, padahal awalnya Ferdi ingin sekali mengajak perempuan itu untuk makan siang tetapi tiba-tiba saja mood lelaki itu hilang seketika dan merasa sangat jengkel dengan apa yang baru saja dikatakan sama Kevin. 


“Mas Ferdi beneran cemburu sama Om Kevin, padahal cara manggilnya aja udah beda lho?” Nadia melirik ke samping melihat wajah masam yang ditekuk sedemikian rupa hingga bibir gadis mungil itu membentuk sebuah lengkungan senyum, merasa gemas melihat laki-laki tua yang duduk di sampingnya, boleh kan dia menganggap Ferdi sebagai laki-laki yang sudah tua tetapi terlalu posesif terhadap dirinya?


“Siapa juga yang cemburu sama Kevin, mana level saya harus cemburu sama bawahan sendiri!" sahut Ferdi tanpa ingin menoleh dengan lawan bicaranya tetapi malah mengabaikan pandangannya dengan cara melihat ke arah jalanan. 


Benar-benar sangat kekanak-kanakan bahkan sepertinya Nadia jauh lebih dewasa daripada lelaki yang duduk di sampingnya.

__ADS_1


“Oh ya Nadia, kamu lapar nggak? Kalau kamu laper gimana jika seandainya kita makan terlebih dahulu, ada Cafe baru tempat tongkrongannya anak muda seperti kamu ini, mana tahu aja menu yang disediakan Cafe itu sesuai dengan lidahmu,” tawar Kevin yang membuat lelaki arogan di belakangnya mendengus kesal.  


Nadia Tentu saja tidak berani menerima tawaran asisten pribadi Ferdi tetapi matanya berpindah atensi pada lelaki yang duduk persis di sampingnya, mencoba melihat apakah pria itu bersedia menerima tawaran Kevin ataukah malah tidak mengizinkannya sama sekali. Bagaimanapun juga, semenjak Bagas meninggal dunia hidup Nadia seolah-olah dikuasai oleh pria Arogan itu, bahkan terkadang ketika dia ingin berkumpul dengan teman-temannya saja Ferdi pasti mengintimidasinya terlebih dahulu, mempertanyakan apakah perkumpulan itu bermanfaat atau tidak.


“Mas Ferdi,” panggil Nadia lembut.


“Hemm,” sahutnya begitu pelit hanya dengan deheman semata, tentu saja lelaki itu tidak mau memberi izin jika tempatnya merupakan Cafe anak muda, bisa kalah performa dong.


Bahkan lelaki itu menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari jalanan yang tadi dilihatnya.


‘Enak saja Nadia mau dibawa ke tempat tongkrongan anak muda, yang ada dia nanti bakalan celingukan ke mana-mana tebar pesona dengan sesama cowok seumuran dengannya,’ dengus Ferdi di dalam hati merasa tidak suka Nadia berkumpul dengan orang-orang yang seumuran dengannya.

__ADS_1


“Kalau kamu laper, kita sekalian aja mampir di salah satu hotel bintang lima karena di sana restorannya lebih jelas terjamin kesehatannya dan juga kehigienisan menu yang disediakan restoran hotel, daripada makan jajanan tak jelas di cafe murahan seperti itu!” Benar saja, kesombongan lelaki itu kembali diperlihatkan ke permukaan, membuat Nadia memutar bola matanya dengan malas. 


Bagaimana bisa Nadia betah bersama Ferdi kalau pria itu suka sekali menyombongkan diri. Sifat yang sangat berlawanan dengan karakter dirinya yang selama ini dibesarkan dengan kesederhanaan. Nadia malah gak yakin sama sekali dengan rencana pernikahan setelah umurnya menginjak 17 tahun nanti, toh sang paman hanya menitipkan dirinya tanpa memaksa agar mereka haru menikah.


Hanya saja Nadia kembali teringat dengan isi surat wasiat sang paman, jika Ferdi melamar dirinya maka dia harus menerima lamaran itu. Rasanya Nadia ingin sekali berontak, karena merasa tidak adil tapi apa dia mampu? 


‘Mas Ferdi lagian sombong hanya ketika ada orang lain saja, kalau lagi berdua denganku dia kan nggak pernah sombong gitu ya. Dia selalu baik dan sayang gitu, tapi kenapa harus jaim di depan orang lain?’


“Aku nggak laper!” jawab Nadia ketus.


“Bagus dong, nanti biar aku masakan menu spesial penuh cinta pakai bumbu sayang saat sampai di rumahmu,” cetus Ferdi dengan suara yang sangat halus di dekat telinga Nadia, hingga kevin pun tidak bisa mendengar apa yang dikatakan bosnya sama Nadia.

__ADS_1


__ADS_2