Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 76.


__ADS_3

Waktu berlalu begitu cepat hingga hari di mana keberangkatan Nadia ke Bandung sudah di depan mata. Malam ini Ferdi selalu saja cemberut di ruang tamu, menemani Nadia yang sedang packing pakaian yang bakal di bawanya esok hari.


“Aku itu pergi hanya tiga hari loh Mas, kenapa wajahmu itu seperti akan berpisah denganku seumur hidup?” tegur Nadia duduk di samping Ferdi lalu menyeruput air putih yang tadi sudah disediakan Bibi Upi di atas meja.


Gadis itu sama sekali tidak pernah mengetahui jika sifat posesifnya seorang Ferdi terlihat begitu jelas saat-saat seperti sekarang, terutama pria itu ingin menempel di dirinya terus sejak tadi pagi hingga malam ini membuat Nadia dan juga beberapa temannya menganggap Ferdi itu adalah boneka hidup kesayangan Nadia.


“Assalamualaikum,” ucap beberapa suara yang terdengar di depan pintu rumahnya membuat Ferdi yang tadi hendak merebahkan kepala di pangkuan Nadia seketika terpaksa kembali duduk sempurna.


“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh,” sahut Nadia dan Ferdi secara bersamaan, bahkan keduanya terlihat langsung saling memandang.

__ADS_1


“Siapa yang datang ke sini larut malam begini?” Nadia memandang sekilas wajah Ferdi yang langsung berdiri, lalu memberikan isyarat agar gadis itu tetap duduk di tempatnya karena lelaki itu sudah berdiri dan beranjak melangkahkan kaki menuju pintu di mana pintu itu sebenarnya sama sekali tidak terkunci dengan memperlihatkan sedikit celah dari luar atau pun dari dalam.


“Loh, kalian?” Dahi Ferdi berlipat melihat ada sekitar tujuh orang siswa teman Nadia yang datang untuk berkunjung.


Masing-masing dari mereka seperti membawa tentengan di tangan, ada yang berupa tote bag ada juga yang berupa paper bag.


“Selamat malam Kak Ferdi,” serentak mereka menyapa karena memang sudah mengetahui jika Ferdi bukan hanya sekedar kakaknya Renaldo tetapi juga kekasih dari Nadia.


Mendengar suara suara yang familiar yang ribut di depan rumahnya, tentu saja membuat Nadia merasa semakin penasaran tentang kenapa teman-temannya itu pada datang ke rumahnya di saat malam sebelum keberangkatan. Gadis itu pun memperlihatkan tubuh mungilnya berdiri diambang pintu selalu menggeleng kepala ringan sikap Ferdi yang sama sekali tidak menampakkan sedikitpun ramah pada teman-temannya.

__ADS_1


“Ayo silakan masuk!” ajak Nadia dengan sedikit menarik lengan tangan Ferdi agar lelaki itu memberi jalan dan mengajaknya kembali duduk di atas kursi sofa.


“Lo udah selesai packing belum?” celetuk Via yang biasanya selalu kalem di dalam kelas.


“Aku hanya bawa koper ukuran sedang aja satu kok, kan cuma tiga hari doang di sana, terus balik lagi ke sekolah sini!” sahut Nadia santai.


Sebenarnya Nadia sama sekali tidak merasa bahwa esok adalah hari dirinya dan Nando akan pergi berdua untuk mengikuti lomba membawa nama baik sekolahnya.


“Gue sengaja bawain vitamin buat lo, nih!” ujar salah seorang siswa cowok menyerahkan tote bag berukuran kecil pada Nadia.

__ADS_1


Satu persatu mereka semua menyerahkan hadiah untuk Nadia, berharap apa yang mereka berikan bisa membuat Nadia jauh lebih bersemangat meraih nilai tertinggi untuk sekolah mereka.


“Terima kasih banyak atas perhatian kalian semua. Aku gak tau harus membalas kebaikan kalian dengan apa? Jika saja aku bisa menebus itu semua maka aku akan dengan senang hati menunggumu pulang kembali padaku.”


__ADS_2