
Nadia tersimpuh di lantai berbahan granit rumah sakit itu dengan suara yang terisak setelah kepergian Regan. Inilah hal yang paling ditakutinya, menjadi perusak hubungan antar keluarga seseorang walau tak pernah ada niatnya sama sekali membuat keluarga Ferdi jadi terganggu.
“Ya Allah … apa aku nggak berdosa kalau memberi ijin pada dokter untuk mencabut semua peralatan medis yang melekat di tubuh Om Bagas? Bukankah ajal itu ada di tangan Mu? Lalu kenapa rasanya hati ini teramat sakit jika mengingat semua perkataan pedas dari Tuan Regan tadi.” Nadia berusaha tegar dengan kondisinya yang semakin terasa rapuh.
Bagaimana tidak rapuh karena dirinya merasa sendirian tanpa ada orang yang bisa diajaknya untuk berbagi selain tuhannya. Tidak punya kekasih dan juga belum memiliki teman untuk saling cerita sedih.
“Kenapa rasanya begitu sakit walau yang diucapkan tuan Regan tak ada salahnya? Aku memang hanya gadis miskin yang tak punya apa-apa dan terlalu tinggi untuk bermimpi. Apa orang miskin tak boleh mengubah nasibnya menjadi orang yang sukses? Apa orang miskin juga tak layak mendapatkan pelayanan kesehatan hingga tuan Regan begitu kejam mengatai Om Bagas? Padahal omku orang yang berjasa di perusahaannya. Ya Allah, apa yang harus aku lakukan demi mencari biaya tambahan untuk Om Bagas, aku tau tak ada yang mustahil kalau Engkau sudah berkehendak,” lirihnya masih dengan suara serak menahan sedih.
__ADS_1
Gadis itu tergugu di atas lantai yang bisa digunakan untuk berkaca saking bersih dan berkilaunya tapi sayang yang terlihat malah wajah seorang gadis sembab penuh air mata.
Ingin sekali rasanya gadis itu mengubah posisi menjadi pasien yang terbaring menggantikan sang paman tapi garis takdir memang sudah ditetapkan sama Tuhan. Tanpa ia sadari sepasang kaki sejak tadi sudah berdiri di ambang pintu, mendengar semua keluh kesah yang ada di dalam Nadia. Kaki itu mendekat dan ikut berjongkok di dekatnya.
“Apapun yang dikatakan orang tadi padamu, jangan pernah membuatmu merasa rendah karena sebenarnya dialah orang yang paling rendah di dunia ini. Saking rendahnya dia berusaha menjual harga diri anaknya sendiri pada seseorang hanya untuk digantikan dengan bisnis!” bisik Ferdi di dekat telinga Nadia hingga gadis itu sontak menoleh ke samping karena kaget dan hampir membuat bibir mereka saling menyapa.
Semua itu terjadi juga karena kesalahan Ferdi yang berbisik di dekat telinganya hingga hangatnya napas pria itu saja bisa terasa masuk ke lubang telinganya. Sungguh kali ini apa yang dilakukan Ferdi mampu membuat suara detak jantungnya jadi berubah naik drastis seketika dan itu semua tidak baik untuk kesehatan jantungnya.
__ADS_1
‘Astaghfirullah … ini gak mungkin! Mana mungkin aku bisa deg-degan kayak begini dekat om Ferdi? Aku pasti hanya terbius deru napasnya saja, ya … aku gak mungkin suka sama teman om ku sendiri,’ gumamnya berusaha menepis perasaan janggal yang singgah di hatinya.
“Ayo, kamu harus berangkat ke sekolah kan? Pagi ini biar aku yang antar!” Ferdi memegangi kedua pundak Nadia agar sang gadis ikut berdiri, membawa perempuan itu untuk duduk di tepi tempat tidur.
“Ikuti saja kata hatimu, jangan pernah dengarkan perkataan orang yang tidak menyukai kita, karena mereka akan tertawa saat mengetahui dirimu telah kalah hanya dengan ancaman murahannya!” sambung Ferdi berusaha mempengaruhi Nadia agar tidak mendengarkan semua yang diucapkan papanya.
“Mana bisa! Aku ini manusia yang punya hati, punya mata dan juga telinga. Aku mendengar semua yang dikatakan papamu, dan aku harus tau diri!” tepisnya berusaha mulai menjaga hati dengan melawan perkataan Ferdi.
__ADS_1