
“Assalamu’alaikum, Nadia. Maaf, tadi aku gak bisa menjemputmu.” Ferdi melangkahkan kaki semakin mendekat dan kalimat yang diucapkan pria itu sontak membuat tubuh Nadia berbalik.
Gadis itu tersenyum seiring dengan anggukan kepala sembari menjawab salam yang diucapkan sang CEO.
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Gak apa kok, Om … tadi aku diantar sama Renaldo. Apa benar kalau Rei itu adiknya Om Ferdi?” tanya Nadia tanpa mengubah posisi tubuhnya yang tadi mengarah pada sosok sahabat pamannya.
Ferdi tersenyum tipis, dirinya merasa lega karena ternyata tidak ada raut wajah kesal pada wajah Nadia karena dirinya yang gagal menjemputnya tadi.
“Ya, Renaldo memang adikku. Kami ini dua bersaudara dan dia adik kesayanganku. Kenapa memangnya, apa kamu suka sama adikku?” tanya Ferdi santai padahal di dalam hati dirinya berdo’a semoga saja ketakutannya tidak terjadi kalau mereka berdua saling suka tetapi hanya gengsi untuk berucap seperti yang sedang dilakukannya sekarang.
__ADS_1
“Suka? Nggak, bahkan aku belum ada suka sama siapa pun sejak datang ke kota ini. Aku hanya ingin menjadi orang sukses dan bisa membuat Om Bagas bangga padaku tapi koAkuntennya di luar aku yang udah menerima Om sebagai pacar pura-puraku. Kenapa gak pernah cerita kalau Rei itu adik Om Ferdi?” tanya Nadia dengan mengerutkan dahinya.
Tentu saja gadis itu merasa penasaran karena Ferdi seharusnya mengatakan kalau dirinya memiliki adik yang sekolah di tempat yang sama dengannya tapi pria itu malah terkesan dengan sengaja menutupi itu semua darinya.
“Untuk apa? Kan Rei juga ada gak hubungannya denganmu, atau apa kamu sebenarnya jatuh cinta sama dia, hem?” Pria itu duduk di sebelah Nadia, membuka topi yang tadi sengaja dikenakannya untuk menyemar karena tidak ingin Rei dan Nadia melihatnya saat datang menjemput tadi.
“Om Ferdi apaan sih? Mana mungkin aku suka sama adikmu yang jelas-jelas kurang bermutu hehehe. Eh maaf, maksudnya aku itu lebih suka cowok yang pintar bukan cowok pemalas belajar seperti adikmu itu, apalagi aku juga udah dengar kalau dia rupanya si Raja telat tukang panjat pagar tembok,” ujarnya memberitahukan yang langsung membuat Ferdi terkekeh.
“Masa …? Sorry kalau Om akan kecewa karena aku gak termasuk dari salah satu dari gadis itu. Aku sama sekali gak suka sama ketua kelas adikmu itu. Tampangnya memang aku akui tampan, tapi Om Ferdi juga tak kalah tampan kok, hebat lagi. Aku yakin Renaldo tidak akan sanggup melakukan apa yang Om Ferdi kerjakan,” puji Nadia tanpa menyadari kalau kalimat yang ia lontarkan telah membuat pria itu merona bahagia.
__ADS_1
“Aku juga tau kalau tipe cowok seperti adikmu itu lebih suka menghabiskan waktu untuk bermain game karena selama aku mengenalnya, Rei lebih banyak bermain-main dengan teman cowoknya daripada pergi ke pustaka dan keseringan aku hanya melihatnya nongkrong di kantin,” lanjut Nadia menceritakan sosok Renaldo di matanya.
Perempuan itu mengambil masker dari dalam tas ransel miliknya, duduk dengan sedikit menyamping agar bisa mengarahkan tubuhnya pada sosok sahabat pamannya. “Oh iya Om, aku titip tas ini dulu ya, soalnya aku mau masuk ke dalam tapi harus ganti baju dulu!” ujarnya berpamitan karena memang setiap dirinya ingin melihat sang paman, Nadia harus mengenakan pakaian khusus ketika berada di ruang ICU.
“Aku akan menunggumu di sini, oh ya, Nadia … gimana dengan tawaranku kemarin? Daripada kamu susah bolak balik pulang ke rumah, lebih baik tinggal sekalian di rumah sakit sampai Bagas siuman.” Ferdi menatap gadis yang tak jadi beranjak dari duduknya setelah berpamitan tadi.
“Maaf, Om … aku hanya tak ingin orang lain salah paham akan kedekatan kita dan aku tak ingin nanti keluarga om Ferdi tau dan malah menyalahkan aku,” jawabnya.
“Aku nemuin Om Bagas dulu,” lanjutnya melangkah pergi untuk melapor terlebih dahulu pada perawat jaga.
__ADS_1
Ferdi langsung menganggukkan kepala karena rutinitas Nadia sudah hafal di luar kepalanya sebab pria itu memang menemani keponakan sahabatnya itu setiap hari di rumah sakit tanpa pernah mengeluh, apalagi merasa kesal.
‘Kapan gue akan berani mengatakan cinta dan perasaan sesungguhnya sama Nadia. Kayaknya gue benar-benar tak tahu tempat dan waktu jika sekarang mengungkapkan perasaan sama gadis polos itu karena pamannya sendiri sedang berbaring lemah tak berdaya bahkan mungkin akan pergi selamanya jika seluruh peralatan itu dicabut dari tubuhnya. Apa gue memang terlalu pengecut karena takut cinta gue ditolaknya?’ Ferdi menghembuskan nafas kasar ke udara, membayangkan sesakit apa perasaan Nadia jika sampai Bagas benar-benar meninggalkan Gadis itu selamanya ditambah dirinya yang sudah tinggal sebatang kara.