Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 42. Sebatang Kara


__ADS_3

Nadia berlari tergesa ketika baru saja memasuki pelataran rumah sakit. Perasaannya benar-benar dipenuhi pikiran yang buruk semenjak suster itu menghubunginya tetapi tidak mengatakan apa yang sedang terjadi pada pamannya. Langkah kakinya terhenti ketika melihat seorang perempuan berwajah cantik dengan tubuh tinggi semampai mengenakan rok selutut.


‘Siapa perempuan itu, apakah dia adalah Rossa yang dikatakan sama Mas Ferdi?’ Nadia membatin di dalam hati.


Nadia melihat gadis yang berada di depan ruang rawat pamannya sedang menangis terisak, membuat jantung Nadia semakin terasa tidak karuan. Nadia melangkahkan kaki semakin cepat karena tak sabar ingin mengetahui apa yang sedang terjadi dengan Bagas.


“Assalamu’alaikum, maaf … ada apa dengan Om Bagas dan siapa tante ini?” sapa Nadia diiringi tanya menatap perempuan cantik dengan rambut sebahu itu.


Rosa menoleh. Dia sangat yakin kalau gadis belia yang sedang menyapanya pastilah keponakan sang mantan kekasih yang bernama Nadia.

__ADS_1


“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Kamu pasti Nadia kan? Aku Rosa, kekasihnya pamanmu. Maaf kalau tante baru bisa balik ke Indonesia karena ada pekerjaan di luar yang tak bisa ditinggalkan,” beritahu Rosa tanpa diminta.


Dirinya hanya ingin Nadia tau kalau masih ada dirinya yang akan menggantikan posisi Bagas jika memang terjadi sesuatu yang buruk pada mantan kekasihnya itu.


Ceklek!


Pintu ruang ICU itu terbuka. MemperlihPintuatkan sosok sang do ruangkter yang selama ini menangani Bagas, matanya memandang sendu pada Nadia dengan helaan napas yang sangat berat.


“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun … Om Bagas gak mungkin ninggalin aku karena dia udah janji bakal ngeliat aku sampai sukses, dokter.” Nadia membekap mulutnya, merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan sang dokter.

__ADS_1


“Sabar, Nadia … kamu harus bisa menerima dengan apa yang digariskan takdir untuk pamanmu,” lanjut dokter itu mengusap punggung Nadia.


Dokter itu tau persis bagaimana perjuangan sang gadis merawat pamannya hingga mau begadang sepanjang malam menjaga Bagas, mengajaknya bicara sesuai arahan dokter demi memicu kesadaran Bagas. Sayangnya garis takdir akhirnya memilih Nadia untuk menjadikan gadis itu sebatang kara hidup di dunia.


“Gak mungkin … gak mungkin setelah sekian lama Om Bagas bertahan akhirnya menyerah, aku gak percaya!” Nadia mendorong tubuh lelaki yang mengenakan jas kebesaran berwarna putih itu dan berlari memasuki ruang ICU tempat rawat Bagas selama ini.


Gadis itu menubruk tubuh ringkih sang paman yang sudah tak bernyawa. Meraung sedih karena tak pernah menyangka kalau akhirnya semua orang yang ia cintai pergi dari dunia ini.


“Bangun, Om! Jangan tinggalin Nadia sendirian di dunia ini … Nadia udah gak punya siapa-siapa lagi, ayo bangun Om, aku gak sanggup sendirian,” rintih gadis itu menangis tergugu di atas tubuh lelaki yang sudah tak bernyawa itu. Dia sama sekali tak pernah menyangka kalau kedatangannya ke Jakarta sama sekali tidak membuatnya bahagia sekarang. Untuk dirinya diajak pindah ke kota metropolitan ini kalau akhirnya omnya itu pergi?

__ADS_1


“Nadia, kamu yang tenang ya, Sayang.” Rosa coba menghibur keponakan sang mantan.


__ADS_2