Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 56. Aku Butuh Kamu


__ADS_3

Ferdi membalikkan tubuhnya, menatap Bibi Upi untuk meminta penjelasan lebih lanjut tapi sang bibi malah hanya tersenyum manis, “Den Ferdi shalat aja dulu, nanti bibi lanjutkan ceritanya, ya.”


Bibi Upi langsung bergegas menuju ke arah dapur untuk menyeduhkan teh panas seperti kebiasaan atasan dari almarhum majikan nya itu ketika datang sendirian ke rumah Bagas. Sementara Ferdi sendiri mau tak mau harus menunaikan kewajibannya terlebih dahulu karena pria itu sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk mengubah segala sesuatu yang rusak di dalam jiwanya demi perbaikan kehidupannya di masa depan.


Setelah melaksanakan shalat fardhu maghrib dan juga memohon ampunan, serta minta petunjuk yang terbaik dari Sang Kholiq, hati Ferdi terasa jauh lebih tenang. Dirinya tafakur begitu lama di dalam kamar Bagas, bahkan tanpa ia sadari ada air mata yang jatuh dari pipinya. Setelah melipat sajadah, pria itu melihat di pergelangan tangannya waktu sudah melewati angka tujuh malam. Dirinya juga sangat yakin kalau Nadia tidak akan mungkin kembali dalam sesaat jika memang sengaja pergi dijemput oleh Nando yang diketahuinya sebagai salah seorang teman sekelas Renaldo dan juga Nadia.


Hatinya merasa terbakar cemburu tapi tidak mungkin diperlihatkan pada seorang bibi Upi, tapi jika hatinya dibiarkan terus terbakar seperti sekarang, dirinya takut kalau seluruh jiwanya malah hancur karena api kecemburuan itu akan terus melahap pikirannya.


“Sebenarnya ada apa sih bocah itu menjemput Nadia segala? Apa jangan-jangan mereka pergi dinner berdua lagi? Padahal saat ini Nadia adalah orang yang paling aku butuhkan. Lagian Nadia kok bisa-bisa menerima tawaran makan malam dengan bocah slenge’an itu sih?” lirihnya merasa gusar bicara sendiri masih duduk di atas Sajadah yang terbentang ke arah kiblat.


Merasa penasaran dan juga panas hati yang terbakar tanpa api, Ferdi akhirnya memutuskan untuk menghubungi gadis polos itu untuk menanyakan di mana keberadaannya sekarang. Dengan cepat pria itu mengambil ponsel yang sengaja diletakkan di atas nakas samping tempat tidur almarhum Bagas. mencari nomor kontak sang bidadarinya lalu melakukan panggilan telepon.


Tut! Tut! Tut!


Hanya butuh beberapa detik saja, panggilan teleponnya terdengar diterima Nadia.


[Halo Mas Ferdi, assalamu’alaikum. Ada apa, Mas?] sapa Nadia.


“Waalaikumsalam, kamu ada di mana sekarang, sayang?” tanya Ferdi tanpa basa-basi dengan to the point saja karena ada kobaran yang sedang menyala di dalam jiwa yang harus diredamnya.


Ferdi juga harus bisa mengendalikan diri agar suaranya tidak memperlihatkan kecemburuan yang sedang berusaha ditahannya.


[Nadia sedang ada di cafe milik Kakaknya Nando. Bukannya sebelum mas Ferdi tadi pulang dari rumah, aku sudah ngomong ya? Sebenarnya ada apa sih, Mas? Kenapa suaramu seperti orang yang lagi sedih? Apa semuanya dalam keadaan baik-baik saja?] Gadis itu terdengar jelas seperti orang yang merasa heran dengan pertanyaan Ferdi, padahal perasaannya sudah memberitahukan pria itu, jika sehabis maghrib ada keperluan bersama teman kelasnya untuk membahas dan juga mengerjakan beberapa soal prediksi untuk ikut Olimpiade sains.


“Astagfirullah … Mas tadi benar-benar lupa. Maaf ya tapi sekarang Mas ingin sekali bertemu denganmu, apa boleh?” tanya lelaki itu sedikit merasa bersalah tetapi dirinya memang benar-benar sangat membutuhkan gadis yang selalu diharapkannya setiap memiliki masalah hanya untuk membuatnya merasa lega.

__ADS_1


Sepertinya lelaki itu memang sedang rapuh karena tertimpa masalah yang sangat luar biasa besar hingga lupa atas izin yang telah dimintanya tadi. Biasanya Ferdi merupakan orang yang tidak akan pernah gampang untuk melupakan janji ataupun perkataan seseorang tapi sepertinya jiwa lelaki itu sedang terguncang oleh pengusiran Tuan Regan dan juga pengambilan segala aset yang pernah dimilikinya.


[Tentu saja boleh, Mas … emang Mas ada masalah apa sih? Apa Mas kembali bertengkar dengan orang tuamu?] tanya Nadia merasa tidak sabar.


“Apa kamu masih lama di sana? Kirimkan lokasinya sekarang biar nanti langsung mas jemput ke sana!” pinta Ferdi tanpa menjawab pertanyaan Nadia, berusaha membuang rasa malu untuk mengetahui di mana keberadaan Nadia saat ini.


Dia hanya ingin menyampaikan terhadap Nadia kalau ternyata apa yang dikatakannya tadi sore benar-benar telah menjadi kenyataan pahit di dalam kehidupannya sekarang. Terusir dari rumah karena menolak perjodohan dan juga mendapatkan fitnah kejam dari perempuan ular bernama Firda, membuat moodnya malam ini benar-benar terasa sangat buruk dan dia butuh genggaman tangan Gadis itu atau mungkin sekedar pelukan hangat yang membuatnya merasa tenang dan damai.


Tanpa membalas ucapan dari Ferdi lagi, Nadia langsung saja mengirimkan lokasi keberadaannya saat ini, di mana Gadis itu sedang dinner bersama Nando. Tentu saja dinner yang mereka lakukan tidak sama dengan sepasang kekasih pada umumnya sebab Nadia dan Nando sama-sama sengaja mencari kafe untuk memecahkan soal-soal menggunakan rumus fisika yang sangat sulit dikerjakan ketika hanya sendirian. Keduanya memilih Cafe sebagai tempat belajar kelompok demi mempersiapkan diri untuk mengikuti olimpiade sains mewakili Sekolah Tunas Bangsa.


“Siapa yang menelponmu, Nadia? Apa itu pengawal pribadi mu hehehe, Rei pasti, ya?” Nando menghentikan aktivitasnya dan meletakkan pena yang tadi dipegang untuk mencoret-coret kertas buram di atas meja.


Pemuda itu memperhatikan Nadia yang terlihat begitu santai tanpa ada rasa gugup sama sekali, hal itu membuat Nando menganggap jika orang yang menelpon Nadia barusan bukanlah seseorang yang sangat spesial di hatinya.


“Bukan Rei, tapi kakaknya alias Bos Om Bagas. Kamu nggak masalah kan?” jawab Nadia apa adanya karena memang Ferdi merupakan atasan dari almarhum dari sang paman.


‘Masa iya sih Bang Ferdi nelpon Nadia, memangnya apa hubungan mereka berdua kok bisa-bisanya Bang Ferdi sampai ingin tahu di mana keberadaan gadis ini? Apa itu kakak sepupunya Rei?’ gumam Nando merasa penasaran karena Ferdi bukanlah orang sembarangan yang mudah bergaul apalagi dengan sosok perempuan seperti Nadia.


Seorang gadis pindahan sekolah dari kampung dengan tampilan sederhana dan juga apa adanya, bahkan Nadia ketika diperhatikan lebih dekat sama sekali tidak pernah menggunakan make up seperti para gadis Jakarta pada umumnya.


“Tunggu dulu, aku masih sedikit bingung nih. Maksudnya yang nelpon kamu barusan itu, Bang Ferdi ya?” ulang Nando untuk meyakinkan dirinya jika orang yang baru saja menelpon Nadia adalah seorang CEO Singgalang Group, tapi yang menjadi pertanyaan pria muda itu kenapa pengusaha sekelas seorang CEO mau bersusah-susah menelepon seorang Nadia yang hanya gadis polos pindahan dari desa?


“Hmm,” sahut Nadia dengan anggukan kepala tanpa menoleh, gadis itu kembali melanjutkan apa yang tadi sempat tertunda dikerjakannya.


Dia kembali mencari solusi dari soal-soal yang terpapar jelas di atas meja di mana keduanya sedang berbagi tugas mengerjakan 60 butir soal fisika sebagai prediksi yang akan keluar saat mengikuti Olimpiade nanti dan itu baru dari salah satu rekomendasi. Sementara ada 10 rekomendasi yang akan mereka kerjakan. Keduanya bahkan sudah berjanji akan menyelesaikan semua soal-soal itu malam ini juga. Bukankah kedatangan Ferdi nanti akan mengganggu konsentrasi Nadia jadinya?

__ADS_1


Huft!


“Kamu kenapa sih, perasaan sejak menerima telepon dari Bang Ferdi tadi kayaknya kamu kurang fokus deh ngerjain soal-soalnya? Awalnya terlihat santai tapi kok sekarang kayak orang lagi banyak pikiran?” tanya Nando menutup bukunya, memperhatikan wajah Nadia yang sekarang dengan sengaja menyimpan udara di dalam kedua pipinya hingga terlihat mengembung.


Gadis itu hanya menggeleng pelan walau Nadia sebenarnya merasa sudah kurang nyaman semenjak mendapatkan telepon dan juga permintaan Ferdi yang ingin datang ke cafe di mana dirinya bersama Nando saat ini.


“Kalau kamu memang ada masalah ngomong aja deh! Lagian kita ini belajar bukan untuk mendapatkan tekanan makanya aku sengaja mengajakmu belajar di cafe kakakku biar kita belajarnya jauh lebih santai! Aku juga nggak bakalan marah kok kalau kamu cerita jika memang lagi punya masalah,” ucap Nando diiringi senyum manis pemuda itu.


“Mas Ferdi kayaknya lagi punya banyak masalah deh, soalnya dia nggak biasanya sampai nelpon aku, padahal kami baru ketemu beberapa jam yang lalu,” jelas Nadia membuat dahi Nando langsung berlipat kaget karena tidak menyangka kalau ternyata Nadia memang sedekat Itu dengan Ferdi.


Bagaimana mungkin dirinya tidak merasa bingung karena selama ini di sekolah semua orang hanya mengetahui bahwa Nadia itu pacarnya Renaldo bukan pacar sang CEO sombong itu.


“Jadi gosip kamu pacaran sama Renaldo itu bohong belaka dan ternyata yang sebenarnya kamu pacaran sama Bang Ferdi?” Nando semakin dibuat penasaran sampai-sampai pemuda itu meraih gelas jus jeruk yang ada di hadapannya, serta diteguknya hingga tinggal separuh.


Padahal sebenarnya beberapa sahabat Renaldo sudah sangat mengetahui jika Nadia adalah gadis yang selalu memiliki tempat spesial di hati Ferdi sampai menyuruh adiknya sebagai pengawal dan juga penjaga sang gadis ketika belajar di sekolah.


“Sebenarnya aku sama Mas Ferdi itu kayak mana ya? Aku sendiri aja bingung mau ngejawabnya. Aku merasa nyaman sama dia, orangnya baik walau umurnya jauh di atasku dan dia juga merupakan orang yang diwasiatkan sama Om Bagas untuk menjagaku! Mas Ferdi selalu ada saat aku memiliki begitu banyak masalah, bahkan tanpa dia, mungkin sekarang aku sudah kembali ke desa menempati rumah dari orang tuaku,” lanjut Nadia sembari memainkan selang pipet yang ada di dalam gelasnya.


Nando terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya, sekarang pemuda itu yakin kalau Ferdi sesaat lagi pasti akan datang ke sini menilik pria dewasa itu yang sangat arogan dan juga sedikit sombong pasti akan merasa cemburu padanya. Namun, yang membuat Nando merasa aneh, kenapa Ferdi bisa lengket begitu dengan gadis di hadapannya? Apa sebenarnya keistimewaan seorang Nadia di mata Ferdi hingga mau bela-belain datang ke cafe nya padahal Ferdi bukanlah seseorang yang suka masuk ke dalam Cafe murahan seperti milik kakaknya.


“Apa bang Ferdi pernah ngungkapin perasaannya sama kamu?” Sepertinya Nando ingin menginterogasi teman sekelasnya itu sampai tuntas, tapi sayang baru saja Nadia ingin menjawabnya seorang pria yang sejak tadi jadi topik pembicaraan mereka, sudah berdiri di ambang pintu cafe.


“Mas Ferdi …!” panggil Nadia sembari berdiri untuk menghampiri.


Gadis itu sedikit kaget saat menatap wajah sendu pria itu yang selama ini tidak pernah memperlihatkan kesedihan sedikit pun. Ferdi mempercepat langkah kakinya lalu meraih tubuhmu itu serta mendekatnya dengan mata yang terpejam.

__ADS_1


“Mas ….”


“Biarkan aku memelukmu seperti ini lima menit saja, aku butuh pelukan darimu.”


__ADS_2