
Ferdi berdecak kesal saat dirinya baru saja sampai di gerbang sekolah Tunas Bangsa. Kedua matanya membulat sempurna ketika ada pemandangan yang menyesakkan dadanya. Adik kesayangan sedang bicara begitu akrab dengan gadis yang beberapa hari ini telah mengisi ruang kosong di dalam hatinya.
Bagaimana bisa dirinya melupakan jika adiknya juga seorang ketua kelas, sepertinya dia melupakan kalau ternyata sang adik satu lokal dengan Nadia. Ferdi merasa belum siap untuk mendapatkan perkataan pedas dari sang adik satu-satunya yang sudah pasti akan merasa menang karena dirinya seumuran dengan Nadia, sementara dirinya sudah pasti umurnya terpaut sangat jauh dengan gadis polos itu.
“Aghh!! Kenapa gue harus saingan sama adek gue sendiri sih? Gue gak mungkin bilang sama Rei kalau cewek yang pernah gue ceritain dan inceran gue itu adalah Nadia! Siallan … aghh!” Ferdi kembali memukul benda berbentuk bundar di hadapannya berulang kali, melampiaskan rasa marah seakan ingin menghabisi orang tapi sayang cowok yang ingin dihabisinya adalah adik kandung sendiri.
“Kenapa nasib gue harus kayak gini?!” umpatnya menggeram marah dengan suara gigi yang gemeretak. Rasanya dia tak sanggup jika harus melihat gadis yang ia suka suatu saat nanti sedang bermesraan dengan adik kandungnya sendiri. Sakit, itulah gambaran perasaan Ferdi sekarang ini. Dirinya bahkan terpaksa berbohong dan mengatakan tak bisa jemput karena belum siap untuk berhadapan langsung dengan Renaldo.
Sementara itu, Nadia berboncengan di atas motor Renaldo. Cowok itu tak berhenti mengulas senyum saat dengan sengaja menambah kecepatan laju kendaraan nya, tangan gadis itu yang tadinya berpegangan dengan cincin jok bagian belakang, berpindah ke arah pinggangnya. Ada rasa gelenyar aneh yang merasuk ke dalam jiwanya hingga menimbulkan debaran jantung yang semakin menggila.
‘Apa gue sakit jantung? Kok kayak dag dig dug gitu?’ pikirnya di dalam hati setelah tangan sang gadis singgah mesra di sana sebagai tempat berpegangan.
__ADS_1
Ingat satu hal, kalau Renaldo merupakan anak manja di rumah yang belum pernah merasakan rona cinta dan belum tau rasa jatuh cinta itu seperti apa, karena di matanya semua wanita itu menyebalkan, suka bikin rusuh dan yang paling penting rata-rata gadis itu punya sifat mengatur dan matre. Itulah sebabnya Rei tidak mau didekati dan selalu marah atau pun cuek saat digoda para gadis, kecuali sejak kenal dengan Nadia.
Tanpa terasa motor sport milik Renaldo telah memasuki pekarangan rumah sakit dan Nadia menunjukkan arah jalan agar motor milik ketua kelasnya itu bisa parkir persis di depan ruang VIP yang ditempati oleh pamannya.
“Itu yang nomor dua dari ujung merupakan tempat rawat Om Bagas, ruangan itu merupakan ruang steril ICU pamanku,” beritahu Nadia tanpa diminta dengan nada sedih.
Bagaimana mungkin Gadis itu tidak merasa sedih setiap hari hanya bisa melihat sang paman di waktu-waktu tertentu saja, itu pun harus mengenakan pakaian khusus ketika memasuki ruangan sang paman.
Saat keduanya sampai di depan ruang ICU perawatan Bagas, mata Renaldo menyipit dengan dahi yang berlipat ketika melihat seorang lelaki berbaring di atas bangku panjang sembari memainkan benda pipih di tangannya.
“Loh, Bang Kevin! Kok lo ada di sini, ngapain?” tanya Rei cengo tak menyadari situasi yang sedang dihadapi.
__ADS_1
“Eh, Rei, abang ya gantian sama Ferdi jagain Bagas lah! Ferdi mana, kok gak sama Nadia? Tadi katanya habis jemput Nadia pulang sekolah bakal langsung ke sini kayak biasa,” jawab Kevin santai karena memang tidak mengetahui kalau selama Bagas berbaring koma, CEO itu tidak memberitahukan pada Renaldo.
“Tunggu-tunggu dulu,” ucap Rei menatap wajah Nadia.
“Jadi selama ini yang kamu maksud om Bagas itu … asisten pribadi nya abangku, Nad?” tanya Rei butuh kejelasan, kedua alis Renaldo bahkan terangkat merasa tidak percaya.
“Loh, jadi om Ferdi CEO singgalang Group v … kakakmu? Kok gak pernah cerita sih?” Nadia duduk di sudut bangku panjang yang berseberangan dengan Kevin.
Fix, dunia Rei runtuh saat itu juga. Tubuh Renaldo menjadi lemah seketika saat teringat cerita sang abang yang pernah berkata, jika Ferdi sedang berusaha mendapatkan hati seorang gadis dengan usia terpaut jauh dengannya. Parahnya waktu itu, Rei malah menyemangati sang kakak agar jangan memandang perbedaan usia mereka dan menyuruh Ferdi agar segera menyatakan cinta pada gadis incaran kakaknya itu. Rei terhenyak seketika, merasakan seluruh dunia runtuh seketika, tenaganya pun hilang entah kemana.
__ADS_1