Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 41. Firasat Buruk


__ADS_3

Kedua bola mata Nadia terbelalak seketika karena ternyata pria itu benar-benar memberlakukan ancamannya dengan meraup bibir merah muda miliknya. Gadis itu berusaha mendorong tubuh jangkung dan kekar milik Ferdi tetapi laki-laki itu bukannya menjauh malah menekan tengkuk sang gadis dan memperdalam apa yang sedang dilakukannya hingga tangan Nadia beberapa kali memukul-mukul bagian dadanya yang bidang.


Parahnya ketika tautan bibir mereka belum terlepas, tiba-tiba saja pintu ruang kerja Ferdi menampilkan sosok cantik sang sekretaris perusahaan yang masuk menerobos ke ruangan itu dengan tubuh yang membeku seketika, saat melihat adegan yang tak pantas disaksikannya.


‘Mampusss gue! Bakalan dapat SP satu nih, ya Tuhan … ngapain juga tadi gue masuk gak ngetuk pintu dulu sih? Padahal gue udah tau kalau bos sedang bersama seorang gadis,’ gumamnya di dalam hati.


"Ma-maaf, Pak, saya akan kembali nanti!" sesal sekretaris itu dengan cepat membalikkan tubuhnya tanpa menutup pintu berlalu dari sana. Tubuhnya terasa menggigil karena ketakutan akan kesalahan yang terlupakan sebab lupa akibat buru-buru ingin mengingatkan Ferdi tentang meeting yang akan dilakukan lima menit lagi. Sementara Kevin telah duluan ke sana tanpa menunggu atasannya.


Sementara Nadia sendiri ingin sekali rasanya menghilang dari bumi ini setelah merasakan debaran yang belum pernah dialaminya seumur hidup, apalagi tautan bibir antara miliknya dan juga laki-laki yang selama ini dipanggilnya sebagai 'om' itu terasa begitu aneh. Ada rasa nikmat yang menjalar merasuki jiwanya tapi dia sendiri tidak mengetahui entah kenikmatan semacam apa yang sedang dirasakannya saat ini, hingga ada gelenyar aneh yang tidak jelas itu seolah menyentak-nyentak di seluruh pori-pori kulitnya yang masih belia.


"Aku nggak akan minta maaf padamu karena ini adalah bentuk hukuman dariku! Sekarang masuklah ke kamar itu dan beristirahat di sana sebab aku akan pergi meeting sebentar atau kalau kamu mau, aku tidak akan malu membawamu ke ruangan meeting dan memperkenalkan kamu sebagai calon istriku!" Lelaki itu kembali mendekatkan wajahnya hingga jarak itu kembali terkikis dan membuat Nadia berusaha mengalihkan wajah ke arah lain selaras tangannya yang membekap mulut, karena merasa takut kalau hal yang tadi dilakukan Ferdi kembali terulang. Rasanya Nadia benar-benar sangat malu ketika matanya berserobok pandang dengan sekretaris perusahaan Singgalang Group.

__ADS_1


"Om eh Mas jangan kayak gini dong, kita itu kan hanya pacaran pura-pura tapi kenapa Mas Ferdi mencuri First Kiss milikku? Harusnya semua itu aku berikan di malam pertama sama suamiku tapi Mas sangat jahat udah mengambilnya dengan paksa malah tempat izin lagi!" Suara Nadia terdengar sedikit bergetar dan serak, serta bulir-bulir itu mulai menumpuk di pelupuk matanya merasa sedih karena Ferdi semena-mena terhadapnya.


Langkah Ferdi terhenti mendengar kalimat yang diungkapkan Nadia, First Kiss? Garis bibir laki-laki itu terangkat ke atas merasa bahagia bercampur bangga karena ternyata hingga usia Nadia hampir menuju 17 tahun, bibir gadis belia itu masih suci dan terjaga hingga dirinya sendirilah yang mengambilnya secara paksa walau berdalih sebuah hukuman.


Pria taipan tampan dengan sejuta pesona itu kembali melangkahkan kaki mendekati Nadia, berjongkok di hadapan gadis itu lalu menggenggam kedua tangan teman sekelas adiknya. Ada Rasa Sesal yang terlihat dari laut wajah Ferdi ketika melihat air mata Nadia yang meluncur deras hanya karena sesuatu yang diambilnya dengan dalih hukuman tetapi sebenarnya murni merupakan salah satu modus yang dilakukan pria itu agar bisa lebih dekat dengan Nadia.


“Kalau begitu … jadikan aku sebagai orang yang akan mendapatkan gelar sebagai suamimu,” tutur Ferdi dengan suara mendayu merdu seperti sedang merayu, bahkan nada suara itu terdengar di telinga Nadia begitu indah serta menyenangkan. Oh tidak … kenapa rasanya Nadia bahagia sekali mendengarnya? Apakah gadis itu juga merasakan hal seperti yang dialami Ferdi selama ini? Entahlah semoga saja Perasaan dari kami memang sama.


Pria itu berdiri setelah mengusap sisa air mata yang ada di pipi sang gadis, lalu berdiri meninggalkan Nadia dengan perasaan luka yang tak terlihat. Hatinya kecewa karena gadis itu tak menanggapi perkataan penuh ajakan darinya sedikit pun. Apa dirinya memang sama sekali tidak menarik di mata Nadia? Atau apa yang dikatakan adiknya memang benar, kalau Nadia tidak akan mungkin suka dengan pria yang berumur jauh lebih tua darinya.


Lelaki itu berjalan gontai menuju ruang meeting diikuti sama sang sekretaris cantik yang merasa bingung saat melihat raut sedih terpancar jelas di wajah Ferdi.

__ADS_1


‘Pak Ferdi kenapa ya? Apa jangan-jangan dia tadi memaksa gadis itu untuk mendapatkan bibirnya terus kena gampar sama si putih abu-abu tadi? Tapi masa iya sih, kan Pak Ferdi tampan banget … aku aja mau juga sama dia, sayangnya Pak Ferdi gak pernah ngelirik sedikit pun untuk melihat sedikit kecantikan yang aku punya!’ lirihnya di dalam hati.


Sementara itu, Nadia akhirnya masuk juga ke ruangan yang ditunjukkan Ferdi tapi gadis itu masuk ke sana hanya untuk ke kamar mandi membasuh mukanya yang terasa sedikit lengket akibat air mata. Tiba-tiba saja ponsel yang ada di saku rok abu-abunya bergetar.


“Halo, assalamualaikum suster Ayu. Ada apa dengan Omku? Apa Om Bagas udah siuman?” Nadia bertanya beruntun dengan tergesa tetapi jantungnya entah kenapa berdegup kencang merasakan ada firasat buruk yang akan terjadi lagi.


‘Ya Tuhan … lindungi omku,’ lirihnya di dalam hati.


[Maaf, Nona Nadia … sebaiknya Anda segera datang ke rumah sakit!]


Suara suster itu langsung menghilang karena panggilan itu sudah terputus begitu saja. Ada kecemasan yang dirasakan Nadia setelah mendengar permintaan suster barusan. Gegas gadis itu pergi dari ruangan Ferdi setelah mengirimkan pesan lewat aplikasi berwarna hijau.

__ADS_1


{Maaf, Mas … aku kembali ke rumah sakit}


__ADS_2