Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 61. Pinangan


__ADS_3

“Ayo kita menikah setelah kamu kembali dari Olimpiade sains! Aku berjanji tidak akan menyentuh tubuhmu sebelum kamu tamat dari SMA tapi paling tidak, aku sudah sah untuk bisa menjaga dirimu dimanapun! Apa kamu setuju?” Ferdi menatap kedua bola mata Nadia dengan Intens menunggu jawaban penuh debar di dalam dadanya merasa deg-degan Apakah Gadis itu bersedia menerimanya ketika statusnya malah dalam keadaan rendah alias bukan lagi sebagai seorang CEO.


"Apa Mas Ferdi bakalan sanggup untuk menerima semua kekurangan dan kelebihanku?" Nadia dengan Baby eye yang lucu, bukannya langsung menjawab tetapi malah balik bertanya pada laki-laki yang baru saja melamarnya di tengah-tengah taman di bawah sinar bulan.


Lamaran yang terkesan aneh karena Ferdi tidak memberikan cincin buat calon istrinya. Namun, di kala moment ini belum selesai, dirinya beruntung bisa mencuri waktu dengan mengetik pesan untuk Kevin saat dirinya saling berpelukan tadi. Sungguh, ini merupakan hal yang tak terduga olehnya karena Nadia mau hidup miskin bersamanya. Miskin di dalam kategori Ferdi tentu saja sangat berbeda dengan yang ada di dalam pikiran Nadia.


"Aku sudah sangat yakin dengan keputusanku untuk hidup menua denganmu dan membina rumah tangga yang semoga saja sakinah mawaddah warohmah hingga sampai ke Jannah!" Ferdi mengajak Nadia berdiri lalu mengarahkan jarinya menunjuk bulan sabit yang sedang bersinar di angkasa dengan ribuan bintang yang ikut mengelilinginya.


"Semua yang kita ucapkan akan disaksikan oleh bulan sabit dan juga ribuan bintang di atas sana dan aku yakin ada malaikat juga yang akan mendengar janji kita berdua, kamu benar-benar bersedia menikah denganku kan?” Ferdi tiba-tiba saja bertekuk lutut di hadapan Nadia.


Lelaki itu pernah melihat salah satu sinetron yang ditonton mamanya. Ketika seseorang melamar wanita, maka sang lelaki akan dengan sengaja Bertekuk lutut di hadapan perempuan yang dicintainya sebelum mengucapkan kata-kata untuk melamar sang calon istri. Ferdi pun melakukan hal yang sama seperti apa yang pernah dilihatnya pada tontonan kesukaan sang mama.

__ADS_1


“I love you, Nadia. Will you marry me?" ungkapnya kembali mengulangi perkataan yang sama.


Nadia membekap mulutnya dengan mata yang membola karena tidak percaya kalau seorang CEO bernama Ferdi benar-benar telah jatuh cinta padanya.


Nadia terharu hingga kedua bola matanya berkaca-kaca, “Yes, I do,” sahutnya menganggukkan kepala.


Ferdi berdiri lalu menarik tubuh mungil sang gadis hingga mereka saling berpelukan, “Makasih karena kamu bersedia menerima lamaran di saat aku sedang menjadi orang yang miskin, padahal waktu itu aku masih berstatus sebagai seorang CEO tapi kamu malah selalu memintaku untuk bersabar menunggu hingga umurmu 17 tahun. Terima kasih karena sebelum ulang tahunmu yang ke-17 kamu malah menerima pinanganku,” ungkap Ferdi tak tahu lagi harus berkata apa karena dirinya benar-benar merasa bahagia bisa memiliki seorang perempuan yang dewasa dengan umur yang sangat belia.


“Sekarang kamu tutup mata sebentar!” pinta Ferdi.


Nadia menurut lalu memejamkan kedua matanya dan saat yang bersamaan Kevin melangkah perlahan memberikan apa yang dipesan Ferdi lewat aplikasi hijau.

__ADS_1


Ada tiga cincin berlian dengan beda ukuran karena Kevin sangat bingung ukuran jari mungil milik Nadia hingga dia memberanikan diri memilih tiga-tiganya yang langsung membuat dahi Ferdi mengerut meminta penjelasan, tapi Kevin dengan acuh mengedikkan kedua bahunya.


Meraih jari kiri milik Nadia lalu melihat sesaat jari manis sang gadis. Mengambil salah satu cincin emas dengan permata kecil dari berlian lalu melingkarkan di jari manis Nadia yang ternyata sangat pas. Kevin terlihat puas dengan hasil kerjanya lalu pergi dengan perlahan meninggalkan taman diiringi senyum tipis di bibirnya.


“Sekarang bukalah matamu!” pinta Ferdi, “Semoga cincin itu bisa mengikat hati kita berdua walau itu hanyalah sebagai simbol, kalau kamu sudah kupinang dan terikat hidup denganku selamanya.”


Nadia membuka matanya lalu mengangkat jari yang telah dilingkarkan cincin begitu indah apalagi di bawah sinarnya Rembulan. Kali ini kedua bola matanya tidak hanya berkaca-kaca tetapi dengan sendirinya turun bulir-bulir bening tanda bahagia.


“Aku sang–”


“Dia takkan pernah bisa menikah dengan Anda karena Nadia hanya milik saya!”

__ADS_1


__ADS_2