
Pagi ini cuaca terlihat begitu cerah selaras dengan senyum Nadia yang baru saja memasuki pekarangan sekolah bersama sang paman menuju ruang kepala sekolah. Setelah bertemu ramah sesaat dengan bapak kepala sekolah, Nadia pun keluar dari ruang itu ditemani salah seorang guru dan juga pamannya yang hendak berpamitan pergi ke kantor.
“Om pamit ke kantor dulu ya, Sayang. Ingat, jadilah siswa yang baik dan jangan pernah membuat masalah di sekolah ini,” ucap Bagas memberikan pesan lagi untuk ke sekian kalinya pada sang keponakan.
“Baik, Om, Nadia pasti jadi anak yang baik kok. Om hati-hati di jalan,” sahut gadis itu dengan menciumi punggung tangan Bagas.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawabnya sembari menatap kepergian sang paman hingga menghilang dari pandangan.
Harin in Nadia akan bertemu dengan wajah-wajah baru yang sama sekali belum dikenalnya dan mungkin dia akan membutuhkan banyak waktu dalam beradaptasi.
“Ayo, kamu ikut ibu dulu ke ruang guru sebentar karena ada buku ibu yang tadi ketinggalan, padahal ibu harus langsung pergi mengajar yang juga bakal lewat dekat kelasmu,” ajak ibu guru bernama Putriana.
“Baik, Bu.” Nadia menganggukkan kepala mengikuti langkah kaki sang guru berkaca mata dengan pandangan mengedar ke seluruh apa saja yang bisa dilihat dan diingat nya agar nanti tidak sampai lupa ketika melewati tempat yang sama.
“Nanti Nadia duduk sebentar di ruang guru hingga terdengar lonceng tanda masuk berbunyi karena kamu harus datang setelah semua siswa masuk ke dalam kelas, Jadi kamu datang ketika sudah ada guru di dalam muka,” terang Ibu Putriana menjelaskan yang ternyata memang sengaja berlama-lama.
Tujuan guru itu hanya satu, Nadia bisa langsung diperkenalkan oleh wali kelas yang tentu saja sudah berada di dalam lokal sehingga bisa langsung memperkenalkan Nadia sebagai murid baru di sekolah Tunas Bangsa.
***
__ADS_1
Tak lama berselang lonceng berdentang terdengar begitu jelas menandakan waktunya para siswa sekolah menengah atas Tunas Bangsa untuk masuk ke dalam lokal masing-masing. Sekolah yang selalu menjadi favorit itu mengenakan seragam warna putih bagian atas dan biru kotak-kotak untuk bagian bawahnya.
Seorang siswa bernama Renaldo baru saja menerobos masuk dengan cara memanjat tembok pagar, tetapi kelakuannya itu malah selalu menjadi inspirasi untuk para siswa yang lain dalam melakukan bolos sekolah dengan berani, sebab Renaldo merupakan ketua kelas 11 IPA 3 di sekolah itu.
“Hai, Rei,” sapa salah seorang siswi yang kebetulan berpapasan dengannya jelang masuk kelas.
“Hemm,” jawabnya acuh tanpa menoleh.
Begitulah sikap seorang Renaldo dalam sehari-hari setiap bertemu dengan para siswi yang kecentilan menggoda ingin mendekatinya. Renaldo merupakan anak bungsu dari seorang pengusaha terkenal pendiri Singgalang Group yang berarti adik dari Ferdy Fernando.
“Huuu!” sorak para siswa seisi lokal saat melihat sang siswi yang diabaikan Renaldo barusan. Dia adalah Cynthia Salsabila, Putri satu-satunya seorang pengusaha dagang terkenal yang tidak kalah dengan Singgalang Group bernama MX Corporation – memiliki banyak minimarket di berbagai cabang.
“Oke, semua anak-anak, tolong diam sebentar, ya!” suruh sang wali kelas bernama Ibu Maryam.
“Hari ini kita akan kedatangan teman baru,” ucap Ibu Maryam mulai kembali bicara.
Matanya mengelilingi seisi ruang kelas untuk memindai apakah masih ada siswa atau siswi yang tidak sopan dan berbuat sesuka hati di dalam ruangan yang menjadi asuhannya satu tahun ke depan.
Tak lama kemudian, diambang pintu kelas terlihat ibu Putriana bersama seorang gadis berambut kepang dua dengan kacamata besar bertengger di tulang hidungnya. Hampir seisi kelas langsung saja tertawa melihat penampilan Nadia yang terkesan cupu dan kampungan, apalagi baju yang dia kenakan ternyata berbeda dengan semua pakaian siswa-siswi SMA Tunas Bangsa, maklum saja karena dia merupakan anak pindahan dari kampung.
“Selamat pagi Ibu Maryam, Saya ingin mengantarkan siswi pindahan baru sesuai dengan apa yang dikatakan kepala sekolah tadi!” Beritahu ibu Putriana pada wali kelas yang tersenyum ramah padanya.
__ADS_1
Guru wanita itu mengalihkan pandang pada Nadia, “Ayo kamu silakan masuk ke kelasmu yang baru, Nadia! Semoga kamu betah sekolah di sini ya nak,” ucapnya.
“Terima kasih banyak Ibu Putri,” jawab Nadia membalas senyum Ibu Putriana, setelah itu guru perempuan yang terlihat masih sangat cantik itu kembali tersenyum pada ibu Maryam.
“Kalau begitu saya permisi dulu ya Ibu Maryam, selamat pagi,” katanya sembari membalikkan tubuh dan berlalu pergi meninggalkan Nadia yang sekarang masih berdiri dengan tatapan gugupnya.
Ibu Maryam berdiri dari bangkunya lalu menghampiri Nadia yang masih terlihat sangat gugup sekali diambang pintu kelas, menarik Gadis itu kebahagiaan dekat bangkunya setelah itu Ibu Maryam kembali duduk.
Sementara itu suara siswa-siswi di dalam lokal semakin terdengar riuh.
“Tolong diam semua ya! Jangan sampai Ibu ngasih kalian surat tanda cinta untuk orang tua di rumah!” ancam Ibu Maryam yang langsung membuat para siswa jadi bungkam seketika.
“Assalamu’alaikum, semua,” sapa gadis yang hanya mengenakan pakaian putih abu-abu seperti SMA pada umumnya.
Gadis berpenampilan sederhana dengan baju putih lengan panjang serta rok semata kaki, memberikan senyum yang terpaksa karena belum terbiasa dengan tatapan mereka yang terlihat berbagai rona, belum apa-apa dirinya sudah merasa tertekan saat mendapatkan tatapan ketidaksukaan hampir dari seluruh pancaran mata-mata siswa yang melihatnya.
“Wa’alaikumsalam,” jawab seisi kelas dengan antusias tetapi ada juga beberapa bisikan yang mulai terdengar menjijikkan.
Ibu Maryam terlihat mengulas senyum lagi ke arah siswi baru yang terlihat cupu.
“Ayo Nadia sekarang kamu perkenalkan diri sedikit ke tengah!” pinta Ibu Maryam pada siswi yang merupakan pindahan dari salah satu sekolah yang ada di pedesaan. Gadis itu tidak akan pernah pindah sekolah jika bundanya masih hidup tapi sekarang mau tak mau dirinya harus bisa membawakan diri sebagai anak baru.
__ADS_1
“Baik, Bu,” sahut Nadia dengan senyum manisnya selaras anggukan kepala kepada sang wali kelas.
Nadia melangkah agak ke tengah kelas dengan jantung berdegup kencang akibat rasa gugup yang mendera. Matanya mengelilingi seisi kelas sebelum memulai bicara. Bahkan gadis itu sampai menghela napas dan menghembuskannya.