
“Apa menurut Bibi saya ini tak ada harganya hingga papa ingin menjual saya pada rekan bisnisnya?” tanya Ferdi dengan raut muka yang begitu menyedihkan.
Hampir setiap dirinya memiliki masalah, Sang Bibi asistennya lah satu-satunya orang yang mengetahui bagaimana tersiksanya menjadi seorang Ferdi, pria kaya raya yang memiliki segalanya tetapi tidak punya kebebasan bahkan untuk sekedar urusan percintaannya sendiri. Keluarga Regan hanya mementingkan uang dan kekayaan serta perusahaan yang selalu ingin maju dan lebih berkembang terus tanpa memikirkan perasaan anak-anaknya. Beberapa kali Ferdi dan Renaldo memberontak pada sang papa tetapi ujung-ujungnya mereka selalu kalah karena belum berani melawan secara totalitas.
Hati kedua kakak beradik itu selalu saja luluh apabila sang Mama mulai memperlihatkan mata yang meneteskan air bening melewati pipi, ditambah Mama mereka yang lebih sering mengalami sakit-sakitan entah itu karena sikap papanya juga, ataukah karena banyaknya permasalahan dalam rumah tangga orang tuanya.
“Coba Den Ferdi bicara empat mata dengan Tuan Regan lagi, mana tahu beliau mau mengerti kalau Aden sama sekali tidak mencintai si Firda itu! Bibi saja yang orang kampung nggak suka dengan non Firda yang centilnya mengerikan, apalagi Den Ferdi yang tampan begini.” Bibi Upi mencoba memberikan saran walau dirinya sedikit ragu dengan sedikit memuji pria itu, sebab sedikit banyak pelayan itu mengetahui sosok Regan Atmaja yang sering warawiri di televisi dengan wajah tegas dan selalu berwibawa.
“Bibi bisa aja becandanya. Saya juga sudah sering mengajak papa bicara empat mata Bi, tapi otaknya memang udah sengklek dan baiknya dia itu cepat mati aja! Aneh memang, tuh manusia satu nggak mati-mati juga padahal udah sering disumpahin sama anak-anaknya!” kesal Ferdi menjawab pertanyaan pelayan dari asisten pribadinya itu.
“Astagfirullah Den Ferdi, nggak baik nyumpahin orang tua sendiri! bagaimanapun juga, tuan Regan itu papanya dan Ferdi, jadi nggak boleh nyumpahin jelek kayak begitu!” protes Bibi Upi menasehati Ferdi yang terlihat benar-benar sudah kehabisan kata saking marahnya pada sang papa.
__ADS_1
Pelayan itu menggeleng pasrah karena tidak mungkin terlalu memaksakan kehendak menasehati pria yang sudah sangat dewasa seperti Ferdi, apalagi dirinya hanya seorang pembantu yang tidak boleh terlalu ikut campur urusan atasan majikannya.
“Ya sudah, terserah menurut Den Ferdi ajalah yang penting sekarang kita masuk ke rumah dulu! Nggak baik lama-lama di luaran nanti dan Ferdi bisa masuk angin dan sakit, kasihan nanti belum ada istri yang ngurusin hehehe,” goda sang bibi tersenyum ramah memberikan rasa hangat untuk seorang CEO Singgalang Group. Pria itu akhirnya mau mengikuti perkataan pelayan itu dan turun dari mobilnya, bahkan bibi Upi lah yang mengunci mobilnya karena lelaki itu langsung berjalan memasuki rumah Bagas begitu saja.
Ferdi sudah duduk di ruang tamu, Bibi Upi pamit sebentar ke belakang untuk menyeduhkan coklat panas karena pelayan itu sangat yakin jika meminum lelehan coklat mampu meredakan emosi seseorang. Saat sang pelayan membuat coklat panas di dapur, tiba-tiba saja Nadia muncul di sana untuk mengambil air mineral karena Gadis itu sedang merasa kehausan setelah berkutat dengan pekerjaan rumah dari sekolahnya.
“Bibi kok bikin coklat panas sendirian nggak ngajak-ngajak sih?” Nadia berjalan lebih dekat lalu melihat secangkir coklat panas yang masih mengepulkan asap, mengeluarkan aroma harum menggoda selera.
“Kayaknya minum coklat hangat malam-malam begini, enak juga ya, Bi. Tapi sayangnya Om Bagas nggak ada di rumah, jadi kurang seru kalau minum coklat sendirian,” sahutnya dengan bibir manyun ke depan karena tidak terlalu mendengarkan penjelasan Bibi Upi barusan.
Bibi Upi melebarkan senyumnya lalu mengusap kepala Nadia dengan lembut, “Siapa bilang non Nadia bakal minum coklatnya sendirian? Kan tadi bibi udah bilang kalau coklat ini bukan buat bibi. Soalnya di ruang tamu ada Den Ferdi tuh yang bisa jadi temennya Non Nadia. Sepertinya bosnya Den Bagas lagi banyak masalah. Bibi ini kan udah tua, nggak ngerti dengan masalah anak muda jadinya bingung untuk ngasih saran kayak apa? Apa Non Nadia mau bantu nemenin Den Ferdi minum coklat bersama, mana tau itu bikin hatinya jadi lebih baik, kasian dia … dipaksa nikah sama wanita matre yang kecentilan.” Bibi Upi mengambil gelas satu lagi tanpa bertanya dan menyeduh coklat yang sama untuk Nadia.
__ADS_1
“Hah …? Maksud Bibi, Om Ferdi bosnya pamanku?” tanya Nadia untuk meyakinkan.
Tatapannya meminta kejelasan dari sang pelayan kalau yang didengarnya itu tidak salah.
“Iya, Non … dulu kalau baru-baru kenal, Den Ferdi itu suka mabuk-mabukan kalau lagi ada masalah tapi sejak dekat dengan Den Bagas, katanya sudah jauh lebih baik,” jelas pelayan itu yang disahuti Nadia hanya dengan ber ‘oh’ saja.
“Ini dua gelas coklat panas, tolong bawain aja sama Non Nadia ya!” pinta pelayan itu yang langsung diangguki sang gadis remaja.
Nadia membawa nampan berisi dua gelas coklat panas beserta sepiring cemilan kering, berjalan menuju ruang tamu untuk menemani atasan pamannya.
“Om Ferdi …!”
__ADS_1
Ferdi perlahan memutar lehernya saat mendengar namanya dipanggil, bibirnya tertarik ke atas saat menyadari gadis yang mulai mengisi ruang kosong di dalam hatinya ternyata sedang melangkahkan kaki mendekatinya.