
“Pantas saja aku merasa seluruh isi yang ada di dalam kulkas di rumah ini jadi pindah ke meja makan semua!” sewot Nadia memberikan tatapan horornya.
Ferdi terlihat sedikit salah tingkah karena memang perbuatannya sangat disengaja dan dia berjanji akan mengganti dengan mengajak gadis itu belanja ke supermarket.
“Ehh, hehehe nanti kita bisa belanja lagi untuk mengisi kulkasmu dengan bahan makanan ya! Jangan cemberut dong, ntar mas janji deh, mau ngelakuin apa aja asal kamu tersenyum lagi,” tawar Ferdi sembari menarik salah satu kursi untuk sang pujaan hati.
“Yuk kita makan sekarang, perutku sebenarnya benar-benar sudah sangat lapar karena tadi sengaja melewatkan makan siang gara-gara melakukan meeting dan juga menjemputmu ke sekolah,” cerita Ferdi sembari juga menarik salah satu kursi untuk dirinya sendiri persis berada di hadapan Nadia.
“Siapa juga yang minta dijemput, mana sok-sok an pake acara ngegendong segala lagi! Takut amat aku ditaksir ama cowok yang lebih cakep di sekolah,” sahut Nadia asal tapi memang kenyataan.
“Kalau aku bilang takut kamu diambil sama cowok lain itu memang benar! Aku nggak bakalan ada Jaim-jaim segala dan akan mengakui apapun yang ada di dalam pikiranku!” sahutnya santai, “Oh iya, kamu mau makan yang mana dulu nih?” lanjutnya lagi menawarkan menu yang memang lumayan banyak tersedia di atas meja hasil karya tangannya sendiri.
Nadia hanya tersenyum lalu dengan sengaja meraih piring yang ada di depan Ferdi, mengisinya dengan secentong nasi lalu mengambil satu persatu sayur dan juga lauk yang telah dimasak lelaki itu serta meletakkannya ke dalam piring pria yang sekarang sudah dipanggilnya dengan sebutan Mas Ferdi.
__ADS_1
“Terima kasih, Sayang,” ucap Ferdi dengan senyum mengembang.
‘Ya Allah hamba mohon padaMu, jadikanlah Nadia sebagai penyemangat hidupku yang akan menjadi pakaian kehidupanku di masa depan dan satukanlah kami untuk selamanya walau mungkin takdir yang aku pinta sangat berlebihan karena ingin memiliki gadis yang terlalu jauh perbedaan usia dengan hamba,’ batinnya di dalam hati sembari menatap begitu lama wajah polos tanpa dosa gadis manis di depannya.
“Aku yang seharusnya mengucapkan makasih sama Mas Ferdi karena udah repot-repot masakin aku menu sebanyak ini dan sepertinya semuanya terlihat lezat. aku incip ya?” sahut Nadia tanpa sungkan memuji hasil masakan pria dewasa yang duduk persis di depannya.
Gadis itu mulai meraih piring dan mengisinya seperti yang tadi dilakukannya untuk piring Ferdi, duduk kembali dan mulai memakan masakan hasil karya tangan dari teman sang paman setelah membaca basmalah.
Ruang makan terdengar hening hanya sekedar bunyi peraduan piring yang bertemu garpu dan juga sendok makan. Sekali-kali keduanya terlihat saling beradu pandang tanpa mengucapkan sepatah kata pun hingga akhirnya Ferdi mengucapkan sesuatu yang membuat Nadia dengan susah payah menelan makanan yang sudah ada di mulutnya.
“Mmmhh, rasanya sangat sangat enak sekali, aku bakalan bisa gendut nih kalau Mas Ferdi sering masakin, hehehe. Aku suka masakan yang Mas buat, enak dan bikin nagih,” sahutnya jujur.
“Alhamdulillah kalau kamu suka. Oh ya, Nadia, apa kamu mau menjawab dengan jujur pertanyaanku tentang sesuatu?” Ferdi menatap dalam wajah perempuan yang duduk di depannya.
__ADS_1
“Tentu saja bisa, jika memang pertanyaan Mas Ferdi masuk akal dan bisa kujawab. Lagian untuk apa juga menjawab pertanyaan seseorang kalau kita sendiri memberikan kebohongan karena dusta hanya akan membuat kita punya penyakit baru yaitu kegelisahan! Itu sih kata Bunda yang dulu pernah mengucapkannya padaku, karena aku diberi pesan lebih baik dibenci orang karena kejujuran daripada disayang seseorang karena kebohongan yang suatu saat ketika terbongkar maka rasa sayang itu akan berubah dengan benci!” Gadis itu kembali memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
“Maaf kalau aku seperti sedang memaksamu untuk berkata jujur karena jawaban darimu akan menentukan masa depanku sebab kata Renaldo papa akan mempercepat pertunanganku dengan Firda. Jika kamu memang nanti merasa keberatan maka aku sama sekali tak akan pernah memaksamu!” Ferdi menjeda kalimatnya menatap dalam kedua bola mata gadis yang duduk di hadapannya, berusaha menyelami dan juga memahami apakah Gadis itu benar-benar memang sudah tercipta untuknya.
“Maksudnya?” Nadia merasakan detak jantungnya tiba-tiba saja terasa begitu kencang menunggu kalimat yang akan dilontarkan Ferdi selanjutnya.
“Nadia, aku mencintaimu dan juga menyayangimu, tapi sampai sekarang aku belum tau, bagaimana perasaanmu terhadapku?” Ferdi bertanya tanpa mengalihkan atensinya sedikit pun dari wajah Nadia.
Nadia bingung harus menjawab apa karena dirinya masih bimbang dengan perasaannya sendiri. Apalagi gadis itu belum melakukan shalat istikharah untuk minta petunjuk. Namun, sepertinya dia harus bisa mengambil keputusan sekarang walau umurnya benar-benar terasa belum cukup untuk menerima seorang pria di dalam hidupnya.
“Aku nggak tahu tapi jika Mas bertanya apakah aku merasa nyaman dan aman berada di dekatmu maka jawabannya Mas Ferdi adalah orang yang selalu terpikirkan di dalam kepalaku untuk pertama kalinya setiap ada masalah. Aku juga merasa khawatir saat Mas Ferdi telah berjanji tetapi tiba-tiba saja telat memberikan konfirmasi. Apakah itu artinya sudah jatuh cinta?” Nadia bukannya langsung menjawab apakah dia mencintai Ferdi ataupun tidak tetapi malah mengatakan apa yang ia rasakan terhadap pria tersebut.
“Boleh nggak kalau aku menggenggam tanganmu? Nanti kau akan mengetahui apakah kita memang memiliki perasaan yang sama atau enggak maka kamu akan mengetahuinya.” Dengan sopan Ferdi minta izin pada Gadis itu hanya sekedar ingin mengetahui apakah Nadia punya rasa terhadapnya ataukah tidak.
__ADS_1
Nadia menganggukkan kepala, membuat Ferdi langsung berdiri dan berpindah duduk persis di samping sang gadis. Pria itu meraih kedua tangan Nadia, menempelkan kedua telapak tangan si gadis mungil ke pipinya hingga beberapa detik. Lelaki itu dengan sengaja memejamkan kedua matanya seolah sedang meresapi apa yang tersalurkan ke dalam tubuhnya lewat telapak tangan Nadia yang sekarang menempel di pipinya.
“Sekarang, apa ya kau rasakan terhadapku?” Tatapan mata Ferdi seolah menghujam hingga ke jantung Nadia. Apakah gadis itu sudah merasakan jatuh cinta?