Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 15. Pelelangan Diri


__ADS_3

Bantu uni beri like sama komentar ya, terima kasih.


“Maaf ya, Om Ferdi, kenapa Om gak menyuruh orang lain aja untuk menggantikan Pamanku pergi ke Papua? Apa karyawan di perusahaannya Om Ferdi sibuk semua hingga harus Om Bagas yang berangkat ke sana?” tanya Nadia merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan atasan Bagas sebab walaupun dirinya dari kampung tetapi Gadis itu masih mampu untuk membaca situasi.


Dia hanya merasa sedikit curiga dengan sikap Ferdi sejak pertama kali mereka jumpa di rumah Pamannya itu. Nadia bukannya tidak tahu kalau Ferdi suka sekali mencuri pandang padanya tetapi sebagai gadis kecil dirinya merasa tidak pantas untuk menegur perbuatan Ferdi yang dirasa masih wajar karena tidak melakukan hal-hal yang buruk terhadapnya.


“Sebenarnya di perusahaan banyak karyawan yang lain tetapi yang pintar seperti Bagas hanya dia sendiri, atau bagaimana kalau kamu ikut saja dengan ommu itu?” tanya Ferdi membalikkan tanya karena dia yakin Bagas bukanlah orang yang suka membawa keponakannya untuk dinas ke luar kota hingga mengorbankan pendidikan Nadia.


Nadia langsung mengerucutkan bibir dengan wajah cemberut karena merasa ucapan Ferdi sangat tidak masuk akal, apalagi dirinya yang baru saja memasuki sekolah dan tidak mungkin langsung minta izin hingga hampir seminggu lamanya. Dia mungkin akan langsung menerima tawaran itu jika masih sekolah di tempat yang lama dan minta izin sesuai yang dibutuhkan sang Paman untuk bekerja di daerah Papua tetapi ini merupakan sekolah baru, ditambah lagi Nadia belum merasa bisa beradaptasi dengan baik.


“Nadia nggak bisa ikut ke Papua, terlalu beresiko meninggalkan sekolahnya. Apalagi dia baru saja masuk di Sekolah Tunas Bangsa, masa udah harus minta izin dengan waktu lama.” Bagas menaikkan tangannya ke udara, memanggil pelayan karena mereka telah selesai makan.


Pria itu memberikan kartu yang selama ini dipergunakan untuk kepentingan sang atasan, karena kali ini yang mengajak makan di sore hari adalah Ferdi itu sendiri maka biaya sudah pasti dari rekening sang bos.


Malam harinya di rumah Renaldo, remaja itu sedang berjalan menuju meja makan karena mendadak saja mama dan papanya mengajak mereka untuk makan bersama sebab ada hal penting yang harus dibicarakan.

__ADS_1


“Bagaimana perkembangan usaha yang ada di Papua, Ferdi? Apa kamu jadi berangkat ke sana dengan asistenmu itu?” tanya Regan menatap putra sulungnya.


Pria paruh baya itu meraih sepotong ayam kecap dan kembali menambahkan ke dalam piringnya. Menggigit paha ayam dengan nikmat lalu kembali bicara pada anaknya.


“Menurut Papa sebaiknya kamu berangkat sendiri saja biarkan Bagas yang mengurus perusahaan di sini, toh dia sudah sangat bisa dipercaya kok, kinerjanya juga bagus dan paling utama … Bagas itu laki-laki yang sangat jujur dan bisa dipercaya, tidak sama dengan kawan kamu yang lain!” Regan memasukkan makanan lagi ke dalam mulutnya sembari menunggu jawaban dari Putra sulungnya itu.


Ferdi mengambil air putih di dalam gelas dan meneguknya sedikit, melanjutkan memasukkan santapan yang ada di piring ke dalam mulutnya. Hal seperti inilah yang disukai Ferdi, kehangatan keluarga yang jarang sekali terasa karena kesibukan sang papa atau pria itu yang selalu saja ada alasan tidak bisa.


“Ferdi ada kegiatan mengantar Mama ke rumah sakit, jadi yang pergi ke Papua besok ini hanya Bagas sendiri,” jawabnya sembari melirik sang Mama yang terlihat memberikan anggukan kepala menandakan setuju dengan perkataan Putra pertamanya itu.


“Maksud Papa, kalau kamu jadi pergi ke Papua sekalian ajak Firda, agar kalian bisa lebih dekat lagi dan tidak memiliki hubungan yang kaku seperti sekarang. Papa ingin kalian segera melangsungkan acara pertunanganan,” lanjut Regan yang ternyata memiliki ide tersendiri menyuruh putranya itu pergi ke Papua.


Mendengar perkataan sang Papa, sontak saja membuat selera makan Ferdi sudah hilang tiba-tiba, nafsu makan yang tadi terasa menggebu menguar entah kemana. Apalagi tadi sore dirinya sudah memasukkan beberapa makanan ketika sebelum melakukan meeting dengan klien di salah satu cafe yang juga membuat perutnya semakin kenyang. Sempurna sudah untuk dirinya agar segera meninggalkan meja makan karena tidak tertarik lagi jika sang Papa kembali mengungkit masalah Perjodohan dengan Firda.


“Papa bisa nggak sih kalau kita sedang berada di meja makan tidak membicarakan masalah bisnis ataupun hal-hal lain yang membuat nafsu makan anak-anak jadi hilang?” gerutu sang mama yang dianguki Renaldo – si bungsu.

__ADS_1


“Bener tuh yang dibilang mama, Papa udah kebiasaan kadang malah bicarain bisnis di meja makan, padahal Renaldo aja nggak ada minat dengernya! Udah yuk Bang, kita main game berdua siapa yang menang traktir martabak mesir, gimana?” tantang Renaldo menaikkan sebelah alis pada kakaknya itu.


“Lo kira Abang ini bocah apa diajak main game segala? Abang mau balik aja ke apartemen, udah nggak enak setiap pulang ke rumah ini yang dibahas selalu masalah Firda dan Firda lagi. Kalau Papa emang terlalu menginginkan kerjasama dengan keluarga wanita itu … kenapa nggak Papa nikahin aja si Firda tak tau malu itu sekalian!” kesal Ferdi yang langsung berdiri tapi malah menyulut kemarahan Regan.


“Ferdi!! Lancang kamu!!” tegur Regan meraung marah.


Sang Mama melihat situasi yang sudah mulai menegang berdiri mendekati Ferdi lalu menyuruh anaknya itu duduk kembali, “jangan melawan papamu, Ferdi … tolong dengarkan mama!” titahnya pada Sang putra dengan menahan pergelangan tangana Ferdi yang langsung membuat CEO itu kembali duduk dengan malas.


“Papa melakukan semua ini untuk masa depanmu juga. Kenapa sih jadi anak nggak bisa nurut sama orang tua? Kalau kamu menikah dengan Firda maka otomatis perusahaan kita akan semakin besar dan yang beruntung itu tetap keluarga kita juga. Kamu itu anak papa yang sangat berharga dan papa nggak mau kehebatanmu tidak menguntungkan untuk perusahaan kita, Ferdi paham?!” bengis Regan dengan suara meninggi.


Deg! Jantung Ferdi rasanya mau copot mendengar perkataan sang papa yang ternyata selama ini tidak menyayanginya dengan tulus, tapi membesarkannya hanya demi sebuah keuntungan.


Ferdi menghela nafasnya dengan berat, tidak ingin di dalam hatinya menentang semua keinginan sang Papa tetapi kali ini dirinya benar-benar tak mau menerima perjodohan ini, apalagi dia sama sekali tak pernah ada rasa pada sosok wanita bernama Firda. Bahkan secuil pun tidak.


“Kenapa Papa nggak sekalian aja menjual Ferdi di tempat pelelangan untuk mendapatkan harga tertinggi?”

__ADS_1


__ADS_2