Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 6. Membully Sang Bos


__ADS_3

Bagas tidak menjawab pertanyaan atasannya tapi langsung pergi begitu saja meninggalkan Ferdy yang terlihat kesal. Saat lelaki itu keluar dari dalam kamar, tubuh jangkungnya malah tanpa sengaja menabrak seseorang yang sedang membawa buah jeruk.


“Astaga! Maaf Bi, saya nggak sengaja tadi,” kata Ferdy merasa bersalah.


Pria itu buru-buru karena penasaran dengan wajah Nadia yang sedikit terlihat di dekat dapur. Katakan lah kalau dirinya menyukai gadis yang masih terlalu muda dan tidak pantas bersanding dengannya tapi wajahnya kan tidak terlihat seperti seorang bapak-bapak. Ferdy hanya ingin melihat wajah asli gadis yang tadi hanya memperlihatkan punggung mulusnya sebagian.


Justru rasa penasarannya makin berlipat ganda ketika belum bisa melihat wajah asli Nadia dan itu sungguh membuatnya merasa tersiksa. ‘Ada apa sih dengan pikiran gue? Apa gue terserang penyakit berbahaya? Ngapain gue berubah jadi orang sekepo kayak remaja begini? Astaga apa yang terjadi ama jantung gue?’ Ferdy menutup rapat kedua matanya lalu membuka lagi setelah mengambil nafas dan mengeluarkannya ke udara begitu kasar.


Huft!


“Aduh, Den Ferdy jalan kok gak liat-liat, Aden lagi melamun ya? Jangan bilang kalau aden sekarang lagi jatuh cinta hehehe,” goda Bibi Upi sembari memungut jeruk yang berserakan di lantai. Ferdy pun ikut membantu sang pelayan mengambil buah jeruk yang menggelinding kemana-mana.


Pria itu benar-benar tidak menyangka jika rasa keponya yang terlalu mendominasi di dalam jiwa mampu membuat tubuhnya oleng, hingga tanpa sadar malah menabrak Bibi Upi yang hendak mengantarkan jeruk ke ruang tamu.


“Bibi nggak apa-apa?” tanya Nadia yang terlihat ikut membantu sang pelayan mengambil satu persatu jeruk yang masih beberapa buah terletak di lantai.


Mendengar suara Nadia saja sudah mampu membuat nyawa Ferdy seakan melayang ke udara merasa senang luar biasa.


‘Oh my God, kenapa jantung gue semakin berdebar tak karuan kayak begini? kayaknya gue harus periksa nih ke dokter, takutnya malah gue kena sakit jantung!’ ucapnya di dalam hati dengan wajah terpana mengarah pada sosok gadis dengan rambut panjang terurai sampai ke pinggang.


Nadia ikut membantu bibi Upi untuk meletakkan kembali jeruk yang sudah jatuh dan menggelinding ke mana-mana di lantai rumahnya, tanpa sengaja tangannya meraih jeruk yang juga sedang diambil Ferdy secara bersamaan.


“Maaf, Om … Nadia nggak sengaja,” ucap Gadis itu menarik jarinya dengan cepat setelah sempat saling bersentuhan dengan jari Ferdy.

__ADS_1


"Om ...?" Ferdy melotot menatap tajam wajah Seruni.


"I-iya, sekali lagi maaf ya, Om," ulang Nadia dengan rasa gugup bercampur takut.


Ferdy diam tanpa jawaban karena tubuhnya terasa benar-benar menjadi beku seketika setelah merasakan sentuhan tanpa sengaja dari Nadia, entah kenapa degup jantungnya malah semakin kencang saja sepertinya sudah tidak normal untuk manusia. Satu hal lagi yang membuat Ferdy mengerutkan dahi karena tiba-tiba saja celana kain yang dipakainya di bagian bawah, tiba-tiba saja berubah mengetat hanya karena sedikit sentuhan dari jemarinya Nadia.


‘Ah ****, ini benar-benar gak beres!’ rutuknya melihat si junior di balik celana tiba-tiba saja terbangun dengan semangat. Sepertinya ada sesuatu yang ingin terlepas dari dalam sana dan Ferdy meruntuki sentuhan jari Nadia yang mampu membuat adik kecilnya seolah-olah ingin menggila.


Ferdy menggeleng cepat, merasa dirinya benar-benar menjadi seorang Pedofil saja karena hanya dengan sentuhan tanpa sengaja dengan kulit Nadia, burung tanpa bersayap miliknya ingin terbang dengan gagah dan mempesona ke sarang yang tak pantas. Dasar burung lunak sialan!


Sementara Nadia sendiri malah langsung pergi ke arah dapur karena tidak mendapatkan balasan dari kata maafnya terhadap salah seorang teman pamannya.


‘Om yang satu itu kok sombongnya kebangetan ya, padahal aku tadi kan nggak sengaja nyentuh jari nya! Masa orang minta maaf malah dicuekin, dasar om-om sombong!’ kesal Nadia dengan mulut komat kamit yang juga terlihat oleh Bibi Upi.


Pelayan itu kembali ke arah dapur untuk mencuci buah jeruk yang tadi sempat terjatuh karena bertabrakan dengan Ferdy.


“Itu loh Bi, temannya om Bagas yang bikin Bibi hampir aja jatuh tadi … orangnya ngeselin banget deh. Masa cuma gara-gara Nadia tadi nggak sengaja nyentuh jarinya si Om itu pas waktu mengambil buah jeruk … eh si Om sombong itu nggak ada ngejawab waktu Nadia minta maaf. Songong bener kan orangnya?” tanya Nadia dengan nada penuh kekesalan.


Bibi Upi malah menggelengkan kepala, meletakkan jeruk ke atas meja dan berjalan mendekati Nadia, “Namanya bukan Om songong loh, non Nadia … tapi yang tadi itu bosnya Den Bagas! Namanya Ferdy apa gituuu setau bibi dia itu CIO … COE apa CEO gitu lah pokoknya di tempat kerjanya Den Bagas. Orangnya baik dan suka bawa makanan kalau datang ke sini,” beritahu Bibi Upi berusaha menghilangkan kesan jelek terhadap Ferdy agar Nadia tidak buruk sangka.


“CEO, Bibiii … bukan sio apa lagi sue hahaha.” Nadia menggelengkan kepala sementara Bibi Upi hanya tersenyum malu karena ternyata dia salah menduga tentang nama jabatan Ferdy.


“Nah iya, Bibi jadi ingat jabatannya itu CEO sementara Den Bagas jadi asisten pribadinya den Ferdy, tapi mereka itu sahabatan udah lama banget! Beneran loh Non kalau den Ferdi itu orangnya baik dan nggak pelit lagi!” kekeh Bibi Upi membela Ferdy.

__ADS_1


Pelayan itu kembali ke arah meja mengambil jeruk yang tadi di bawahnya ke arah wastafel dan mulai mencucinya satu persatu.


“Idiiih, Bibi kok kayak lagi promosiin temannya Om Bagas sih? Masa iya orangnya baik gitu? Nadia liat om itu malah kayak manusia yang memiliki temperamen yang diragukan hehehe. Sayang ya Bi, Om itu tampan kalau Nadia liat kayaknya om Bagas lebih tua deh daripada Om yang namanya Ferdy itu tapi sayang, mukanya datar kayak Kanebo hehehe” Gadis itu berdiri lalu mengambil jeruk yang sudah dicuci bibi, mengupasnya dan mulai dimasukkan ke dalam mulutnya.


Nadia malah meragukan keterangan dari sang bibi karena dia sendiri melihat karakter pria teman sang paman, seperti orang yang tidak akan mudah bergaul dengan rakyat biasa, apalagi dengan jabatan yang begitu tinggi di perusahaan tempat pamannya bekerja.


Tanpa Nadia sadari ternyata Ferdy masih setia mengintip di dekat pintu yang menghubungkan antara dapur dengan ruang keluarga. Sepertinya seorang bos mulai kekurangan pekerjaan hingga melakukan sesuatu yang apabila terdengar oleh orang lain akan membuat mereka jadi tertawa, karena ini merupakan kejadian pertama didalam hidup seorang Ferdi Fernando melakukan hal bodo seperti itu.


‘Enak saja Bilangin gue memiliki temperamen yang diragukan, lihat aja nanti, gue bakal nyuruh Om lo itu dinas ke luar kota biar gue yang ngawasin lo selama sekolah di Jakarta hehehe.’ Ferdy menaikkan sebelah alisnya dengan tersenyum sendiri seperti seorang Pedofil beneran sembari memikirkan ide berlian yang sudah ada di dalam kepalanya.


Setelah mendapatkan ide yang pas dan pasti akan dilakukannya, Ferdy pun kembali ke ruang tamu. Memang ide itu sangat kebetulan sesuai dengan apa yang diinginkannya terutama waktu kunjungannya ke Papua hanya tinggal beberapa hari lagi. Dengan adanya kunjungan itu, dia akan langsung menyuruh sang asisten menggantikannya ke sana karena secara tidak langsung dia pasti bisa mendekati Nadia, gadis manis yang terlihat masih sangat polos, apalagi pikirannya terlalu polos saat melihat bagian punggung Nadia yang sempat terlihat olehnya saat mengintip di balik lemari pakaian.


“Uluh-uluh, Non Nadia nggak percaya sama Bibi. Padahal Bibi kasihan bener sama dia, soalnya den Ferdy itu dijodohkan orang tuanya sama perempuan yang sama sekali tidak disukainya. Padahal menurut Bibi perempuan itu cantik banget loh, seksi lagi hehehe … tapi sayang den Ferdy katanya nggak suka sedikit pun!” Bibi Upi sudah selesai mencuci jeruk. Dia mengambil gelas lalu mengisinya dengan air sepertinya pelayan itu merasa haus lalu duduk di kursi dekat meja dan menyesap air yang ada di dalam gelas hingga tandas.


“Ngomong-ngomong Non Nadia kapan mulai sekolah?” tanya Bibi Upi lagi.


“Om Bagas bilang kayaknya besok deh, tapi Nadia pasti susah nanti tuh Bi, soalnya harus adaptasi lagi sama teman-teman yang baru … apalagi kata Om Bagas, sekolah itu sebenarnya khusus untuk anak-anak orang kaya aja. Sebenarnya Nadia agak ragu untuk sekolah di sana setelah mendengar cerita dari Om Bagas tapi mau gimana lagi … Nadia nggak mau ngecewain Om Bagas karena menurutnya itu adalah salah satu sekolah terbaik di kota ini,” jawab Nadia dengan melipat bibirnya.


Sementara Ferdy memperlihatkan wajah datarnya saat kembali lagi ke ruang tamu.


“Gimana tadi Bos acaranya di dalam lemari, hem? Seronok kah?” goda Kevin menirukan suara upin dan ipin dengan sengaja menaik turunkan kedua alisnya, membuat sang atasan langsung melotot hingga Kevin pun akhirnya bungkam.


“Hahaha, lagian lo ini, Vin … Emangnya apa yang bakal dikerjain sama Ferdy di dalam lemari? Nyari kecoa, hahaha!” timpal Farel ikut menggoda dengan wajah tanpa dosa.

__ADS_1


“Kalian ini masa membully sang bos, padahal palingan tadi bos kita hanya sekedar ngintipin kecoa berwajah cantik dengan berat badan sekitar 40 sampai 45 kg plus rambut hitam bergelombang hahaha!” Endro pun tak mau kalah menggoda atasannya.


“Apa kalian semua mau saya mutasi ke Kalimantan?!”


__ADS_2