Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 19. Aku Bukan Anak Kecil Lagi


__ADS_3

Tanpa sadar pria yang sudah matang itu bercerita panjang lebar padahal dirinya saat ini sedang berhadapan dengan gadis polos yang masih remaja – keponakan dari asisten pribadinya. Dirinya begitu lancar bercerita seolah sedang bercerita dengan seseorang yang seumuran dengannya.


“Terus, apa yang ingin Om lakukan?” tanya Nadia.


“Saya sudah lama rasanya ingin kabur dari rumah tetapi bingung mau pergi ke mana karena Papa saya itu orang yang sangat berkuasa dan mampu melakukan apa saja demi ambisinya. Saya dipaksa menikah dengan wanita menjijikkan bernama Firda tanpa tau perangai wanita itu di luaran sana,” lanjutnya bicara dengan wajah yang terlihat begitu menyedihkan, membuat Nadia ikutan merasa apa yang saat ini berada di dalam pikiran seorang Ferdi.


Ferdi sendiri belum menyadari, jika dirinya sudah sangat banyak bercerita tentang kisah hidup pada gadis yang ada di hadapannya. Entah mengapa dirinya begitu merasa nyaman saat menceritakan rasa sakit yang selama ini selalu terpendam tanpa ada teman untuk melampiaskan sekedar menceritakan kisah pahit hidupnya. Memang dirinya sering bercerita pada Bagas ataupun Bibi Upi tetapi dirinya belum bisa serileks ini menceritakan masalah yang ia miliki terhadap seseorang. Ada apa dengannya?


“Menurut Nadia nih ya, tapi sebelum bicara aku minta maaf dulu sama Om Ferdi. Mungkin Nadia masih terlalu kecil untuk memberi sedikit masukan, tapi menurutku sebagai seorang pemimpin seharusnya Om mulai belajar untuk mengikuti kata hati sendiri, bukan lagi selalu menerima perintah begitu saja dari orang tua jika yang mereka katakan bertentangan dengan hati nurani Om Ferdi. Bukankah Om sudah sangat dewasa dan bisa menentukan mana yang baik dan mana yang buruk untuk kehidupan Om Ferdi ke depannya!” Gadis itu menjeda kalimatnya, mengambil napas sebelum kembali melanjutkan pendapatnya.

__ADS_1


“Kalau Nadia lebih baik memberontak dan dibenci saat ini daripada menerima pernikahan tetapi malah akan disesali sampai Mati! Mana yang bakal lebih tersiksa?” tanya Nadia memandangi wajah Ferdi yang terlihat begitu fokus menatapnya hingga netra mereka berdua saling beradu.


Beberapa detik kemudian Gadis itu malah dengan santai bertanya hingga membuat degupan jantung Ferdi semakin bertalu-talu, “Om Ferdi kok ngeliat Nadia kayak gitu banget? Awas loh nanti kalau sampai jatuh cinta dan naksir sama Nadia hehehe.” Gadis itu tidak mengetahui jika Ferdi sedang susah payah menelan berat salivanya gara-gara ucapannya barusan.


Ferdi sama sekali belum memutus kontak matanya yang sejak tadi memandang wajah Nadia dengan begitu intens hingga akhirnya tersadar ketika mendengar pertanyaan Gadis Remaja itu, ‘Sayangnya yang kamu katakan itu sepertinya benar-benar terjadi padaku, apa salah kalau aku jatuh cinta sama gadis belia seperti Nadia?’


“Ihhh, Om Ferdi nyebelin deh, masa kepalaku diacak-acak kayak gini, jadi kusut kan jadinya rambut Nadia!” Nadia berdecak lidah dengan sedikit mencebikkan bibirnya.


Sebenarnya Nadia mulai merasa senang berbincang dengan bos dari pamannya itu walaupun dirinya terkesan berteman dengan seorang om-om tetapi ketika Nadia mencoba menatap lagi wajah seorang Ferdi, dirinya merasa jika laki-laki yang menjabat sebagai CEO Singgalang grup tersebut sama sekali tidak memperlihatkan wajah lelaki yang seumuran dengan pamannya.

__ADS_1


“Om Ferdi suka perawatan wajah ya? Kok bisa kinclong banget kayak Oppa Korea gitu, pasti banyak cewek-cewek tuh yang ngantri buat jadi istrinya,” celoteh Nadia tanpa dosa.


Gadis itu benar-benar tidak peka sama sekali dengan apa yang sedang dirasakan Ferdi saat ini, pria itu tersenyum entah sudah ke berapa kali semenjak berada di ruang tamu bersama Nadia, padahal biasanya bibirnya sangat pelit untuk tersungging walau sedikit.


“Anak kecil nggak boleh kepo!” Ferdi dengan sengaja menggoda Gadis Remaja itu sembari menaikkan sebelah alisnya, lalu jari telunjuknya sedikit mendorong dahi Nadia hingga perempuan itu mengerucutkan bibirnya menahan kesal.


“Aku sebentar lagi udah 17 tahun kok, berarti bukan gadis kecil dong, karena sebentar lagi aku bakalan dapat KTP dan juga bisa membuat surat izin mengendara. Nanti aku mau menabung biar bisa beli motor matic sendiri … terus nggak perlu lagi diantar jemput sama Om Bagas ke sekolah! Jadi Om jangan pernah manggil Nadia lagi dengan sebutan anak kecil!”


“Oh ya, apakah itu berarti kamu juga udah bisa untuk diajak menikah?”

__ADS_1


__ADS_2