
“Kirimkan semua tangkapan kamera CCTV setiap Firda beraksi pada Tuan Winata!” perintah Ferdi pada seseorang yang baru saja dihubunginya.
[Siap 86 bos!] sahut seorang pria di ujung telepon sana.
Walaupun suara Ferdi sedikit pelan tapi Firda masih bisa mendengarnya dengan jelas tentang kalimat apa yang diperintahkan Ferdi barusan pada seseorang yang baru saja dihubunginya. Wajah Firda langsung terlihat pucat saat mendengar perintah Ferdi pada seseorang itu. Kepala Firda menggeleng dengan cepat setelah membayangkan apa yang diprediksikannya tentang kepintaran seorang Ferdi dalam melakukan penyelidikan terhadap latar belakang dirinya dan juga menyelidiki lawan-lawan bisnisnya.
“Ap-apa yang mau kamu kirimkan sama papaku, Ferdi? Kau jangan coba-coba mempengaruhi papa karena kamu adalah tersangka utama yang tak mau bertanggung jawab atas anak yang aku kandung!” egasnya walau di dalam hati sudah mulai ketar ketir akibat rasa khawatir, bahkan wajah pucatnya semakin terlihat saja dengan tubuh sedikit gemetar. Firda dengan berani mencoba meraih tangan Ferdi, berusaha menarik empati hati laki-laki yang sedang marah itu.
Sayangnya Ferdi dengan cepat menepis pergelangan tangan Firda, “Selamat menikmati hasil dari sandiwara yang kau buat sendiri! Bukankah tadi saya sudah menyuruhmu untuk berkata jujur tapi kau memilih untuk menantang seorang Ferdi Fernando … jadi apa pun yang akan terjadi setelah ini merupakan buah dari kesuksesan akting yang kau lakukan!” Setelah bicara seperti itu, Ferdi pun melangkah pergi menuju kamarnya dengan menaiki undakan anak tangga tanpa berbicara lagi, karena bukti sedang dalam perjalanan memperlihatkan wajah asli gadis sok baik yang pura-pura jadi korban bernama Firda.
“Beruntung semua gajiku sebagai seorang CEO telah ku pindahkan ke ATM pribadi dan aku yakin pasti bisa membahagiakan Nadia dari seluruh tabungan yang ada!” monolog Ferdi sembari menyusun pakaian ke dalam koper besar dan pria itu sudah bersiap untuk tinggal selama-lamanya di apartemen dari hasil keringatnya sendiri.
Paling tidak dari jauh hari sebenarnya Ferdi sudah bisa memprediksikan tentang apa yang dilakukan Papanya sudah sampai menolak perjodohan. Oleh sebab itulah Ferdi dengan sengaja selalu memindahkan semua hasil jerih payahnya dari perusahaan keluarga ke rekening pribadinya karena memang gaji itu merupakan haknya sendiri secara utuh.
“Aku harus cepat-cepat pergi dari rumah ini sebelum bukti itu dilihat sama papa dan Firda akhirnya akan pura-pura minta maaf dan kembali menahanku! Lebih baik aku segera menemui Nadia saja karena aku yakin Gadis itu seribu kali lebih baik untuk menjadi pendamping hidupku, walau umurnya sangat jauh di bawah Firda!” Dengan cepat Ferdi menyelesaikan memindahkan apa yang dibutuhkannya masuk ke dalam koper miliknya. Tersenyum getir tatkala menutup lemari yang sudah lebih dari dua dekade menemaninya. Lemari kayu nan kokoh sebagai saksi dirinya menempati kamar ini bahkan sejak seragam yang dikenakannya berwarna putih dongker.
Ferdi ke luar dari kamarnya dengan koper yang berisi Dokumen penting milik pribadinya, serta beberapa pakaian yang dibutuhkan karena memang pakaiannya sudah banyak berada di apartemen tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Apartemen yang dia beli dengan hasil keringatnya sendiri dari gaji sebagai seorang CEO pada Singgalang group. Ferdi sama sekali tidak merasa gentar ketika ayahnya kembali mengucapkan kalimat menyakitkan.
“Selangkah saja kamu ke luar dari rumah ini maka seumur hidup jangan pernah bermimpi untuk kembali! Tinggalkan apa yang pernah Papa berikan padamu, jangan pernah mengambil sedikit saja benda yang bukan hakmu!” teriak Tuan Regan tanpa lagi menahan rasa malu terhadap keluarga Winata.
Suara pria paruh baya itu begitu lantang menggema, membuat Renaldo yang masih berdiri tak jauh dari sana benar-benar tak menyangka dengan kekejaman Papanya.
‘Ternyata papa benar-benar dibutakan sama pengaruh dari anak sahabatnya sendiri, padahal Papa adalah orang yang sangat pintar seharusnya bisa membedakan salah dan mana yang benar!’ sesal Renaldo menyayangkan sikap papanya sendiri yang begitu tega mengusir sang kakak.
Ferdi menoleh, mengangkat bibirnya sebelah, selaras alisnya yang juga terangkat sebelah, merasa miris dengan sikap sang papa yang dianggapnya sebagai orang tua, di mana selama ini dirinya lah yang selalu berusaha memperjuangkan perusahaan tetapi sekarang dianggap hanya sebagai pembuat onar dan membuat malu keluarganya karena tak mau menikahi perempuan pilihan mereka.
__ADS_1
“Ini ATM dan kunci mobil perusahaan, sekarang juga saya kembalikan sama Tuan Regan. Semoga anda benar-benar merasa bahagia setelah kepergian saya. Ckckc jangan mengira saya sedih … saya malah sangat berterima kasih telah diusir dari rumah yang lebih mirip dengan neraka dunia ini, dan satu hal lagi yang perlu tuan Regan ingat, jangan pernah menyakiti Mama saya atau anda akan berurusan dengan seorang Ferdi Fernando!” ancam Ferdi sembari melemparkan kunci mobil dan juga benda pipih yang berupa kartu ATM itu ke wajah sang papa.
Bohong jika lelaki itu tidak merasa sedih karena sudut matanya sempat berkaca-kaca ketika mengalihkan pandang pada wanita yang telah melahirkannya. Satu-satunya yang membuat Ferdi ingin selalu pulang ke rumah hanyalah mamanya seorang dan juga Adik nakal yang terlalu disayanginya. Namun, kali ini dia harus membuktikan bahwa dirinya mampu berdiri di atas kakinya sendiri tanpa harus mendapat bantuan dari kedua orang tuanya, apalagi dirinya tidak akan pernah menikahi wanita yang bukan pilihannya.
“Jangan tinggalkan Mama, Ferdi. Ini rumahmu juga, Nak. Papa hanya sedang emosi sesaat saja … nanti juga pasti akan baikan, jadi jangan pergi dengan membawa koper segala seperti ini, apa kamu nggak kasihan sama mama, Nak?” tanya wanita paruh baya yang telah melahirkannya itu dengan derai air mata.
Ferdi memberikan pelukan pada mamanya, mengusap lembut kedua pipi yang semakin terlihat tirus. “Ridhoi Ferdi untuk berdiri di atas kaki sendiri, Ma, agar Papa bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri kalau anaknya ini mampu hidup di luar sana tanpa bantuannya sepeser pun! Mama harus janji untuk selalu sehat dan bahagia karena kalau mama sakit maka Ferdi akan merasa sedih dan tak bisa mencari pekerjaan baru untuk menyadarkan papa dari kesalahannya memilihkan jodoh tak pantas untuk Ferdi!” ucap pria itu sambil melepaskan pelukannya lalu mengalihkan pandang pada Renaldo yang ikut menggelengkan kepalanya.
Ferdi memberikan isyarat agar sang adik lebih mendekat padanya karena ada sesuatu yang harus diucapkannya pada cowok yang begitu dimanjakannya dengan apa saja yang dibutuhkan Rei selama ini.
“Lo jaga mama baik-baik karena gue nggak bisa lagi punya waktu seperti biasa, sebab tempat ini bukan rumah gue lagi!” Ferdi menarik tubuh adiknya lalu mereka berpelukan terus membisikkan sesuatu di telinga Renaldo, “Jangan pernah ngasih tahu ke siapa pun tentang di mana apartemen Abang berada! Cukup yang tahu hanya kita berdua, abang sayang sama lo dan mama,” lanjutnya mengusap kepala Renaldo.
“Abang tenang aja, gue pasti bakal ngejagain Mama kita! Lo harus bisa ngebuktiin sama papa, jika keputusan yang udah Abang ambil ini merupakan keputusan terbaik untuk masa depan lo, Bang! Ayo gue antar ke luar!” Renaldo mengambil alih koper yang dipegang kakaknya lalu kakak beradik itu keluar dari rumah.
“Pokoknya abang harus serius untuk melakukan sesuatu yang baru untuk masa depan jika memang abang ingin menikahi Nadia … atau biar gue aja yang nikahin dia hehehe!” goda Renaldo ketika mereka sudah berada di garasi rumah itu.
Tentu saja Ferdi harus kembali menggunakan mobil kualitas menengah miliknya yang juga merupakan hasil keringatnya sendiri dan tak akan pernah kembali lagi ke rumah ini sesuai permintaan Papanya. Renaldo membantu memasukkan koper milik kakaknya ke dalam bagasi sebuah mobil Avanza yang harganya berkali-kali lipat di bawah mobil sport milik Perusahaan papanya.
“Tuan muda benar-benar mau meninggalkan nyonya? Memangnya Tuan nggak kasihan sama nyonya, beliau pasti akan kembali sakit-sakitan seperti dulu waktu tuan pergi dari rumah ini! Tolong pikirkan lagi Tuan … kapan perlu jika tuan nggak jadi pergi dari rumah ini, Bibi bersedia nggak usah digaji sama sekali asalkan nyonya bahagia,” ucap seorang pelayan yang sudah paruh baya bahkan perempuan itu ikut merawat Ferdi dan Renaldo dari bayinya.
“Kali ini Ferdi benar-benar harus pergi, Bi Marni! Tolong jagain mama untuk saya karena nanti ketika Mama kontrol ke rumah sakit, saya akan mengusahakan bertemu dengan beliau asalkan tak ada apa-apa bersamanya! Ferdi berangkat dulu Bi, assalamualaikum,” pungkas lelaki itu memasukkan tubuh kekarnya yang sedang rapuh duduk di belakang setir kendali.
“Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab Bibi Marni dan juga Renaldo secara bersamaan.
Ferdi mulai menyalakan mesin mobil roda empatnya menoleh ke arah kanan di mana Ferdi dan sang pelayan yang merawatnya dari kecil itu berdiri dengan tatapan sendu seolah tak rela membiarkannya pergi.
__ADS_1
“Hati-hati di jalan, Tuan ….”
“Gue yakin kalau lo pasti sukses Bang tanpa bantuan papa! Lo harus semangat, ok!”
Ferdi hanya menganggukkan kepala merespon ucapan terakhir dari dua orang terdekat di rumahnya, mulai melajukan mobil menuju jalan raya dan tujuan pertamanya adalah rumah almarhum Bagas untuk menemui Nadia.
Saat dirinya tiba di halaman rumah Bagas, pintu rumah itu terlihat ditutup begitu rapi dan angka di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB senja. Ternyata pria itu hampir saja melewatkan salat fardhu maghrib, gegas dirinya turun dan mengetuk pintu rumah mantan asistennya.
Tok! Tok! Tok!
“Assalamualaikum,” ucapnya setelah beberapa kali menutup pintu rumah Nadia.
Telinganya mendengar langkah kaki seseorang yang begitu tergesa-gesa menghampiri pintu yang baru saja diketuknya, “ Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, sebentar!”
Ceklek!
“Loh, Den Ferdi …?” Kening wanita paruh baya itu terlihat berlipat merasa heran dengan kedatangan pria yang baru tadi sore kembali dari rumah ini setelah memasak di dapur rumah majikannya.
“Maaf Bi, Ferdi balik lagi ke sini boleh numpang shalat?” Ferdi sengaja berbasa-basi yang tentu saja langsung membuat Bibi Upi membuka pintu rumah itu lebih lebar.
“Silakan masuk, Den, kayak biasa shalatnya di kamar Den Bagas aja!” ucap bibi Upi ramah dengan mantan atasan sang almarhum majikannya.
“Makasih banyak Bi, ngomong-ngomong Nadia ke mana kok nggak ada kelihatan?” tanya Ferdi sedikit celingak celinguk mencari keberadaan sang pujaan hati.
“Non Nadia baru saja pergi dijemput sama teman sekolahnya. Kalau nggak salah namanya Nando,” sahut Bi Upi.
__ADS_1
Kalimat yang diucapkan sama pelayan itu sontak membuat langkah kakinya seketika terhenti sebelum memasuki kamar Bagas.