
Mobil yang dikendarai Bagas terus saja melaju ke sekolah Tunas Bangsa. Ferdi mengirimkan pesan pada sang adik karena dirinya lupa mengambil file yang harus dikerjakannya malam ini di apartemen miliknya, sementara dirinya tidak akan punya waktu lagi kalau harus balik lagi ke kantor setelah meeting nanti.
[Rei, kamu dimana? Setelah pulang sekolah ambil map warna merah di kabinet sebelah kiri meja kerja abang! Antarkan ke apartemen abang ya!]
send
Tak lama pesan itu pun terlihat centang dua dan berubah warna biru. Fendi sudah tersenyum-senyum sendiri saat membayangkan bagaimana kesalnya sang adik ketika membuka ponsel dan membaca pesan darinya.
[Abang kebiasaan banget deh, gue lagi ngelakuin hal penting gini malah disuruh-suruh, Gue lagi mau ngintai cewek ini, Bang! Ya elaah, abang bikin gue kesal aja!] protes Renaldo dengan memberikan emoticon cemberut di akhir kalimatnya.
[Kalau file map merah itu saat Abang Pulang ke apartemen gak ada maka lo nggak bakal Abang kasih uang jajan bulan depan!] ancam Ferdi sembari tersenyum lagi membayangkan kekesalan sang adik saat membaca pesan keduanya.
Ferdi memang kerap sekali membuat adik kesayangannya itu menjadi orang yang kesusahan akibat perintahnya, apalagi Ferdi memberikan perintah tidak melihat waktu maupun tempat yang penting semua keinginannya dilakukan oleh sang adik.
[Iya Abang bawel yang mulutnya lebih parah daripada Mama di rumah, Abang itu harusnya minum vitamin dari minyak ikan biar nggak keseringan lupa! Punya otak dibilang pintar tapi pikunnya nggak ketulungan] balas Renaldo yang disambut Ferdi hanya dengan gelengan kepala saja ketika membaca balasan Renaldo.
15 menit kemudian Bagas telah sampai di pekarangan sekolah Tunas Bangsa, melihat ke sekelilingnya tapi sang keponakan belum menampakkan batang hidungnya hingga pria itu merogoh ponsel untuk menghubungi Nadia.
“Assalamualaikum Sayang, kamu di mana? Om udah sampai di dekat gerbang sekolahmu, buruan ke sini. Soalnya Om harus pergi mengantarkan Bos untuk meeting!”
Sebenarnya Bagas masih bertanya-tanya untuk apa Sang atasan menyuruh keponakannya itu duduk di bagian jok belakang, padahal mereka belum saling kenal kecuali waktu pergi datang ke rumahnya dan melihat Nadia sesaat saja.
‘Apa jangan-jangan mereka berbicara saat Ferdi di dalam kamar Nadia? Astaghfirullah aku ini mikirin apa sih sama ponakan sendiri? Nadia itu anak yang sangat baik dan penurut jadi mana mungkin dia mau macam-macam sama pria matang kayak Ferdi, apalagi umur mereka terbentang jauh!’ gumam Bagas di dalam hati berusaha mengenyahkan pikiran-pikiran yang tidak mungkin dilakukan oleh keponakannya.
Tidak sampai dua menit kemudian, terlihat Nadia berjalan dengan wajah ceria tersenyum sumringah mengulurkan tangan pada Bagas. Gadis dengan rambut berkepang dua Itu mengulurkan tangan dan mencium punggung tangan sang paman. Dia sama sekali tidak mengetahui kalau di dalam mobil pamannya saat ini ada bos besar tempat menggantungkan nafkah sang paman.
__ADS_1
“Ayo masuk!” suruh Bagas sembari membukakan pintu mobil bagian belakang, membuat Nadia langsung saja mengerutkan dahinya.
“Kok Nadia disuruh duduk di belakang sih Om? Emangnya Nadia ini penumpang taksi, apa?” tanya Nadia dengan wajah cemberut sembari menggerutu.
Bagas hanya mengusap-usap pucuk kepala keponakannya, berusaha menenangkan Nadia agar tidak memperlihatkan manja yang berlebihan sementara ada atasannya di dalam mobil yang sudah pasti memperhatikan apapun yang mereka lakukan sekarang.
“Di dalam ada bosnya Om, jadi nggak enak dibiarkan duduk sendirian di belakang, tolong kamu temenin ya!” pinta Bagas dengan sengaja menyembunyikan permintaan Ferdi yang menyuruh keponakannya itu untuk duduk bersama di bagian jok belakang.
“Idih emangnya bosnya Om Bagas itu anak kecil apa pakai ditemenin segala?” protes Nadia yang sebenarnya sangat keberatan dengan perintah sang paman.
“Hust! Nggak boleh ngomong kayak gitu! Ayo buruan masuk, nggak enak juga nanti om malah dimarahin sama atasan,” ucapnya dengan suara berbisik yang membuat Nadia mau tak mau mengikuti perintah sang Paman untuk masuk dan duduk di samping Ferdi.
Setelah masuk ke dalam mobil, Bagas menutup kembali pintu mobil serta berjalan setengah lingkaran untuk menjadi sopir sang bos dan juga keponakannya sendiri. Pria itu mulai menyalakan mesin mobil hingga melajukan roda empat itu pulang ke rumahnya demi mengantarkan Nadia terlebih dahulu.
“Selamat sore om Ferdi,” sapa Nadia berbasa-basi agar terlihat lebih sopan karena menumpang atasan pamannya saat mereka akan pergi meeting.
‘Coba kalau bukan karena dipaksa sama Om Bagas, aku nggak mau duduk sama orang sedingin kulkas kayak beginian! Heran sama Om Bagas, kok mau ya punya atasan yang datar kayak Kanebo begini? Untung aja aku cuma numpang pulang doang hehehe. Nggak kebayang deh kalau sering-sering ketemu sama orang kaku seperti Om Ferdi.’ Nadia membatin di dalam hati sembari melirik sekilas dengan mencuri pandang wajah Ferdi lewat sudut kelopak matanya.
Sementara itu, Ferdi sendiri sedang memikirkan rencana lain di dalam kepalanya agar bisa menggagalkan acara perjodohan yang telah dikatakan kedua orang tuanya. Ferdi merasa Nadia bisa sebagai salah satu kandidat untuk menggagalkan acara pertunangannya bersama Firda.
‘Gadis ini sangat lugu dan polos, aku yakin sekali jika dia merupakan gadis baik-baik sebab selama ini Bagas selalu saja membanggakan keponakannya dan aku juga ada sedikit rasa padanya. Mungkin aku bisa mencobanya dahulu sebelum membicarakan rencanaku padanya,’ gumam Ferdi di dalam hati sembari menatap Intens wajah Nadia dari samping.
‘Cantik!’
Mobil itu tetap melaju sekitar lima menitan, tiba-tiba saja Ferdi menyuruh Bagas untuk mencari restoran terdekat dengan alasan dirinya sedang lapar.
__ADS_1
“Bagas, cari restoran terdekat dari sini karena saya ingin makan terlebih dahulu sebelum bertemu dengan klien!” titah Ferdi tanpa mengalihkan atensinya sedikitpun dari layar ponsel yang sedang dilihatnya. Padahal ponsel itu hanya menampilkan layar utama semata tanpa melihat sesuatu yang penting di sana.
“Baik, Bos,” jawab Bagas cepat tetapi di dalam hatinya kembali mengundang pertanyaan karena Ferdi bukanlah orang yang doyan makan hingga setelah tadi makan siang kembali ingin mengisi perutnya di sore hari. Padahal jelas-jelas mereka akan mengadakan pertemuan di salah satu Cafe nanti bersama klien. Jadi apa tujuan Ferdi mengajak mereka mencari restoran terdekat?
Ferdi selalu ingin makan di restoran mewah dan tidak mau mampir di rumah makan ecek-ecek alias asal menurutnya, makanya Bagas pun membelokkan kuda besi itu pada salah satu hotel bintang lima yang ada restorannya.
Sebelum turun dari mobil, pria itu pun melirik ke samping, “Apa kamu sudah makan?” tanya Ferdi dengan ekspresi datarnya.
“Belum, kan juga baru pulang sekolah, Om.” Nadia ikut menatap lelaki yang baru saja memandang wajahnya, merasa aneh dengan tatapan dan pancaran mata yang diberikan Ferdi padanya barusan. Entahlah Nadia tidak punya pengalaman apapun tentang tatapan lelaki dewasa pada nya.
‘Apa aku setua itu sampai ponakannya Bagas harus manggil aku dengan sapaan Om? Kenapa aku nggak bisa terima ya dipanggil dengan sebutan Om sama gadis itu? Apa Kalau bertemu dengan keponakannya Bagas harus menggunakan setelan anak muda juga Biar terlihat menjadi remaja lagi? Sialan benar, kenapa aku ingin menatap wajahnya terus?’ gerutu Ferdi di dalam hati sembari keluar dari pintu mobil yang baru saja dibukakan Bagas untuknya, meninggalkan Gadis yang masih cengo di jok belakang sendirian.
“Ajak ponakanmu itu untuk makan bersama kita!” perintah Ferdi pada asistennya sebelum pergi meninggalkan mobil menuju restoran.
“Baik, Bos,” jawab Bagas cepat dengan melongokkan kepala ke dalam mobil, melihat Nadia seperti orang yang baru saja memikirkan sesuatu.
“Ayo Nadia, kita makan dulu. Om nggak enak menolak ajakan pimpinan nih,” ujarnya mengajak sang keponakan untuk segera turun. Nadia pun menganggukkan kepala menuruti perkataan sang paman.
Setelah berada di luar mobil, mereka melihat Ferdi baru saja melangkahkan kaki melewati pintu restoran. Sementara keponakan dan paman itu masih berada di dekat mobil yang sama.
“Emang Bosnya Om Bagas selalu baik kayak begini? Kok dia mau sih sampai ngajak kita makan bareng segala? Bukannya tadi Om bilang mau ada meeting, ya?” tanya Nadia merasa heran sebab menurut pesan yang disampaikan sang paman tadi, mereka berburu waktu karena Ferdi ingin melakukan meeting dengan kliennya tapi kenapa di mata Nadia sama sekali itu tidak sesuai kenyataan?
“Om juga nggak tahu. Ayo kita buruan nyusul daripada nanti dimarahin sama bos,” ajak Bagas dengan menarik pergelangan tangan keponakannya untuk ikut masuk ke restoran di mana Ferdi sudah duluan mengambil meja.
Ferdi memang sengaja mengambil momen yang pas ketika Bagas ingin menjemput keponakannya dan mengajaknya makan bersama, semua itu dilakukannya hanya sekedar ingin melihat wajah keponakan Bagas lebih lama lagi.
__ADS_1
‘Sepertinya Nadia jauh lebih baik jika dibandingkan dengan Firda! Apa aku melamar keponakannya bagas aja ya?’
Bantu beri komentar dan like ya biar penulis makin semangat mencari ide cerita ini, terimakasih banyak.