
Saat ini keduanya sedang berada di dalam mobil menuju ke Sekolah Tunas Bangsa, tak ada yang mengeluarkan suara kecuali alunan musik yang terdengar sedang melantunkan suara merdu dari salah satu grup band Indonesia.
Namun, ternyata Ferdi tak bisa berdiam diri tanpa mendengarkan suara merdu milik Nadia, pria itu pun akhirnya kembali mematikan musik yang sudah memperdengarkan dua lagu itu.
“Kita sarapan dulu, sepertinya kamu masih sempat dan gak bakalan telat,” ajaknya lebih ke memaksa.
Nadia menoleh ke samping, “Memangnya mau sarapan dimana?” lanjutnya penasaran.
“Tentu saja di kantin sekolahmu, agar ketika bel tanda masuk berbunyi nanti maka kamu nggak perlu takut untuk terlambat masuk ke dalam kelas.” Ferdi kembali fokus pada jalanan kota yang harus meleka lewati sebelum sampai pada Sekolah Tunas Bangsa.
__ADS_1
Ada rasa bahagia menyelinap ke dalam jiwanya saat melakukan sesuatu yang sebelumnya tidak pernah dikerjakan. ‘Harusnya Aku melakukan hal seperti ini sejak jauh hari bahkan sebelum mengenal gadis belia bernama dia, ternyata aku benar-benar tidak pernah merasakan jatuh cinta sekalipun padahal seharusnya aku ini normal tapi kenapa sejak dulu ada gadis ataupun yang aku sukai?’
Ferdi menoleh lagi ke samping, tersenyum sesaat lalu menggelengkan kepala dengan tetap fokus menjalankan kuda besinya ke arah Sekolah Tunas Bangsa yang berdiri megah di pusat kota.
“Mas Ferdi Kenapa senyum-senyum sendiri seperti itu?” heran Nadia merasa bingung melihat pria yang di balik setir kendali tersebut seperti ABG yang tersipu malu.
“Oh ya? Kalau memang lagi kepikiran sama seorang gadis, Kenapa nggak samperin aja gadis itu?” Nadia membuang muka, merasa kesal karena Ferdi dengan seenak jidatnya menjawab pertanyaan di hadapannya sendiri tanpa perasaan. Akan secara terang-terangan mengatakan sedang memikirkan seorang gadis, bukankah dia itu sangat kelewatan? Pikir Nadia.
“Dahulu aku pernah dikira menjadi seorang gay dan ada affair dengan pamanmu sendiri! Kami seringkali dianggap asisten dan bos yang saling menyukai karena memang di antara kami sama-sama belum menemukan tambatan hati. Namun, tak lama dari isu itu berkembang, Bagas bertemu dengan Rossa dan jadilah mereka sepasang kekasih sehingga aku tinggal sendirian dan rumor itu pun hilang begitu saja.” Ferdi terlihat diam sesaat lalu menoleh ke samping, memperhatikan wajah Nadia yang masih ditekuk tak enak dilihat.
__ADS_1
“Aku ternyata hidup sendirian begitu lama bahkan aku merasa sebagai laki-laki yang paling suci tak pernah menyentuh perempuan mana pun juga dan untuk yang pertama kalinya, aku benar-benar merasa jatuh cinta padamu.” Wajah pria itu kembali memerah sementara Nadia sontak menoleh ke samping merasa tak percaya jika gadis yang tadi dipikirkan Ferdi ternyata dirinya sendiri.
“Kamu pasti tak pernah menyangka kan, kalau kamu itu adalah cinta pertamaku. Dulu sebelum aku bertemu dengan Bagas, aku memang pernah memiliki seorang sahabat yang sangat baik dari kalangan rakyat biasa, tetapi kedua orang tuaku salah paham padanya hingga mengira kami berpacaran. Suatu hari Papa mengirim seseorang dan menjebak sahabatku itu hingga dia tidur dengan seorang pria berandalan dan mengirimkan videonya padaku, di sana seolah-olah sahabat baikku itu sedang melakukan perbuatan yang sangat hina, padahal dalangnya adalah Papaku sendiri! Sofia melakukan bunuh diri karena mengetahui dirinya hamil. Dia depresi hingga tak bisa lagi menggunakan mana yang baik dan mana yang buruk dan juga merasa sangat hina sekali menjadi seorang perempuan yang hamil tanpa suami, padahal Gadis itu sama sekali tidak melakukan kesalahan apa pun selain hanya karena berteman denganku. Itulah yang membuatku merasa terpuruk dan merasa sangat bersalah hingga kabur dari rumah begitu lama. Aku pergi untuk menenangkan diri.”
Mendengar sepenggal kisah pahit yang pernah dialami Ferdi, secara naluriah Nadia langsung menepuk-nepuk pundak bagian kiri Ferdi agar lelaki itu sedikit merasa terhibur.
“Kita hidup di masa sekarang untuk memperjuangkan masa yang akan datang tanpa harus melupakan masa lalu. Mas Ferdi adalah sahabat yang sangat baik, Semoga saja wanita yang bernama Sofia itu diampuni dosanya.” Nadia memang tidak tahu harus mengucapkan kata yang pas untuk pergi saat ini padahal tadinya mereka dalam keadaan baik bagi saja.
“Maaf, aku malah membuka lukaku sendiri agar kamu tahu bahwa aku tak memiliki satu orang pun perempuan di dalam hidupku kecuali mamaku sendiri dan wanita kedua di dalam hidupku adalah kamu, Nadia. I love you forever.”
__ADS_1