
Nadia baru saja selesai lomba bersama Nando. Wajah mereka tampak sumringah karena SMA nya meraih peringkat pertama hingga mendapatkan medali emas plus uang tunai masing masing sepuluh juta dalam bentuk tabungan pendidikan. Untuk kalangan orang kaya, nilai segitu bukanlah hal yang fantastis tetapi buat seorang Nadia, uang sepuluh juta bisa digunakan untuk banyak hal, bahkan bisa dijadikan sebagai modal usaha dagang makanan.
“Selamat ya Nadia, Mas turut senang dan bangga melihatmu naik ke podium menerima piala itu kalau sebenarnya Mas nggak suka sama temanmu itu,” ucap Ferdi yang menunggu sang kekasih ketika baru saja Gadis itu keluar dari gedung.
Mereka memang tidak bisa saling tegur sapa saat acara itu selesai. Akhirnya pengumuman tentang sekolah mana yang jadi pemenang dari final olimpiade sains yang diikuti selama tiga hari berturut-turut, Benar-benar membuat keluarga Regan ikut terharu dan bangga.
“Sekalian sayang … kenalkan, ini mama dan papaku,” lanjut Ferdi memperkenalkan lah dia pada sosok Regan dan juga istrinya.
Nadia menyalami mamanya Ferdi — wanita hebat yang telah melahirkan sosok pria dewasa di mana sebentar lagi akan berubah menjadi suaminya. Sebenarnya Nadia sungguh banyak memiliki pertanyaan Kenapa Ferdi begitu ngotot untuk segera menikahinya bahkan saat dirinya belum tamat dari pakaian putih abu-abu.
__ADS_1
“Kamu hebat Sayang, Mama ikut bangga melihatmu berjalan dengan menegakkan tubuh menatap ke depan, saat menaiki tangga podium karena itu terlihat sungguh luar biasa!” Wanita paruh baya yang terlihat masih begitu cantik dengan sedikit garis kerutan di bagian area matanya memberikan pelukan hangat untuk seorang Nadia Gadis itu merasa benar-benar memiliki keluarga baru bahkan sebelum dirinya sah menjadi anggota di dalam keluarga besar Tuan Regan.
“Terima kasih banyak atas pujiannya, Tante. Mas Ferdi juga ada andil kok, dia tak henti-henti memberikan support dan juga ikut mengajariku biar terus belajar beberapa hal sebagai kemungkinan besar soal apa saja yang akan kami hadapi!” sahut Nadia dengan bijak dan juga terdengar merendah.
Wanita paruh baya itu mengurai pelukan mereka berdua, mengusap lembut pucuk kepala Nadia lalu mendaratkan kecupan di kening gadis yatim piatu itu.
“Jangan panggil dengan sebutan tante, mulai sekarang kamu sudah memiliki mama sama seperti Ferdi memanggil mama. Mama yang akan menjagamu mulai dari saat ini karena kamu juga bakal pindah ke rumah mama, sebab mama tak akan memberikan restu untuk Ferdi menikahi mu kalau kalian berada jauh dari mama!” ucap wanita itu, bicara dengan sudut mata yang berkaca-kaca membuat hati Nadia semakin terasa menghangat saat berada di antara keluarga itu.
Sungguh Nadia tidak pernah menyangka jika berakhir memiliki keluarga sempurna seperti ini walau dirinya belum tahu rencana apa yang telah diberikan Tuhan untuknya ke depan. Paling tidak dia kembali merasakan memiliki keluarga yang hangat dan lengkap walaupun saat ini keluarga yang ia miliki bukan berasal dari hubungan darah yang menurut pepatah sangat kental.
__ADS_1
“Congratulation, Nadia! Akhirnya lo benar-benar bikin harum nama sekolah kita-kita, sebenarnya banyak teman-teman pada mau ikut datang kemari tapi pihak kepala sekolah tidak mengizinkan. Alasannya ternyata hanya satu, seluruh guru dan pihak sekolah yang ikut datang memberi dukungan buat lo yang ngikutin olimpiade sains, ternyata diundang sama Bang Ferdi untuk mengikuti acara pernikahan lo nanti malam!” jelas Renaldo tanpa dosa yang sontak saja membuat mata Nadia melotot ke arah Ferdi.
“Ini bohong kan, Mas? Kamu udah janji loh kalau kita akan merahasiakan pernikahan ini sampai aku tamat SMA. Apa Mas Ferdi nggak mikirin apa yang bakal aku terima di sekolah nanti jika Sampai berita ini merebak dan diketahui semua siswa Sekolah Tunas Bangsa?” Gadis itu terlihat frustasi tetapi berusaha tersenyum karena ada kedua orang tua Ferdi.
Tuan Regan dan Ferdi langsung saja terkekeh geli melihat raut wajah Nadia yang pucat segitiga.
Plak!
“Dasar adik jail lo!”
__ADS_1
“Nadia, saya sebenarnya merasa malu untuk bertemu denganmu tapi maukah kamu juga memberikan saya satu kesempatan agar bisa ikut mendapatkan panggilan papa darimu?”