
“Om Ferdi …!”
Ferdi perlahan memutar lehernya saat mendengar namanya dipanggil, bibirnya tertarik ke atas saat menyadari gadis yang mulai mengisi ruang kosong di dalam hatinya ternyata sedang melangkahkan kaki mendekatinya.
“Hei, Nadia … maaf, saya datang saat Bagas tak ada di rumah.” Lelaki itu tidak membiarkan Nadia sampai meletakkan gelas dengan tadah piring kecil di bawahnya ke atas meja tetapi dengan cepat Ferdi berdiri dan menyambut nampan yang sedang dibawa sama gadis remaja itu.
__ADS_1
Nadia tersenyum biasa saja karena menganggap lelaki yang sudah matang berusia tidak jauh beda dengan pamannya sendiri, tidak ada rasa apapun terhadap pria dewasa yang sekarang sedang bersamanya. Sedangkan perasaan Ferdi malah tidak karuan, merasa jantungnya berdegup kencang ketika melihat wajah polos apa adanya terlihat begitu sempurna di mata, padahal Nadia baru saja mulai beranjak ke arah dewasa alias masih dalam usia remaja.
“Bagaimana rasanya setelah sekolah di tempat baru? Apa kamu mengalami kesulitan dalam beradaptasi di Sekolah Tunas Bangsa?” Ferdi bertanya hanya sekedar berbasa-basi karena bingung harus membicarakan apa dengan gadis seusia Nadia, tidak mungkin dirinya berbincang tentang bisnis ataupun pekerjaan sebab Gadis itu masih sangat belia dengan status seorang pelajar.
Nadia tersenyum tulus sangat indah di mata Ferdi, apalagi ketika matanya tertuju pada bibir berwarna merah jambu yang terlihat begitu mungil membelah dua, “awalnya terasa sangat dikucilkan sama teman-teman yang baru, soalnya Nadia termasuk orang yang agak susah beradaptasi dengan lingkungan dan juga teman baru.”
__ADS_1
“Om Ferdi baik banget ya, sampai mau datang ke rumah anak buah segala, padahal Om Bagas kan cuma sekedar bawahan. Apa dari dulu Om Ferdi udah sahabatan baik sama Om Bagas?” tanya gadis itu sembari mengambil lagi beberapa keping cemilan yang ada di dalam piring dan tanpa ia sadari kalau semua yang sedang dilakukan Nadia tidak luput dari gerakan mata seorang Ferdi.
Ferdi sedikit bingung dengan reaksi dirinya sendiri yang merasa hangat saat bercerita dengan gadis remaja itu.
“Hem … Kami memang sudah berteman sejak masa kuliah dulu dan saya langsung mengangkatnya sebagai asisten pribadi di perusahaan orang tua tetapi mungkin sebentar lagi saya sendiri akan keluar dari rumah dan mencoba melakukan sesuatu yang berbeda. Hanya saja saya masih bingung untuk membuat usaha seperti apa karena selama ini saya hanya tahu menjalankan perusahaan papa. Namun, sepertinya pekerjaan yang saya lakukan demi keluarga besar sudah tidak mungkin lagi untuk dipertahankan sebab Papa memaksa saya untuk menikah dengan wanita yang sama sekali tidak saya cintai!” Ferdi meraih coklat hangat yang barusan disuguhkan Nadia, meniupnya sesaat hingga beberapa asap menguar ke udara lalu mencoba seduhan coklat itu ke bibirnya dengan menyesapnya sedikit saja.
__ADS_1
Tanpa sadar pria yang sudah matang itu bercerita panjang lebar padahal dirinya saat ini sedang berhadapan dengan gadis polos yang masih remaja – keponakan dari asisten pribadinya. Dirinya begitu lancar bercerita seolah sedang bercerita dengan seseorang yang seumuran dengannya.
“Terus, apa yang ingin Om lakukan?” tanya Nadia.