
“Eh maaf, Tuan Ferdi, kalau tadi perkataan saya ada yang mengusik perasaan Anda,” ucapnya lalu mengalihkan pandang pada Nadia, “Sebenarnya saya hanya ingin mengatakan kalau ada surat untuk Nadia tapi kamu udah pengen cepat-cepat saja menemui tuan Ferdi,” sambungnya tersenyum.
Ibu kantin meraih sepucuk surat yang ada di dalam saku daster yang dikenakannya, memberikan surat itu pada gadis yang memang sudah ditunggunya sejak tadi pagi.
“Kemarin setelah kamu pulang sekolah ada seseorang yang datang ke sini dan menyerahkan surat ini. Dia bertanya apakah ibu mengenal gadis pindahan sekolah dari kampung bernama Nadia, lalu ibu jawab saja kalau ibu memang kenal.”
Surat itu telah berada di atas meja yang langsung membuat hati Ferdi merasa tak nyaman. Tentu saja dirinya memiliki ketakutan tersendiri kalau sampai ada pria lain yang masih berusaha mendekati Nadia.
“Surat dari siapa?” Pertanyaan itu langsung meluncur begitu saja dari bibir Ferdi yang melirik tak suka ada surat yang baru saja diserahkan ibu kantin untuk sosok gadis yang sudah di hak paten menjadi miliknya walau belum dihalalkan.
__ADS_1
“Gak tau,” jawab Nadia singkat karena memang dirinya merasa belum melihat nama orang yang mengirimkan surat itu.
Namun, bibir Ferdi terlihat mencebik kesal mengira Nadia dengan sengaja menyembunyikan apa isi surat yang dikirimkan dari seseorang itu. Tentu saja hal itu membuat Ferdi semakin merasa curiga dan parahnya cemburu itu mengikuti aliran darahnya. Menyadari sikap Ferdi yang berubah, membuat Nadia tersenyum kecil. ‘Dia pasti cemburu hehehe,’ kekehnya di dalam hati.
Gadis itu tahu persis sifat posesif yang diperlihatkan Ferdi akhir-akhir ini. Nadia sangat yakin jika surat itu pasti berasal dari Prasetyo karena hanya lelaki itu yang tahu di mana persis tempat sekolahnya.
“Makan dulu sarapanmu, Mas!” suruh Nadia lembut bahkan Gadis itu dengan sengaja meraih sendok yang sejak tadi hanya tergeletak di atas mangkuk dan menyuapkannya pada Ferdi.
“Nah, sekarang Mas bisa membuka surat itu dan membacanya! Aku gak masalah kalau Mas Ferdi membaca isi surat itu karena aku percaya kalau Mas orang yang bijaksana.” Nadia beralih ke mangkuknya sendiri, memulai menyendok sarapannya sendiri hingga habis.
__ADS_1
“Apa kamu nggak marah kalau misalnya surat ini kubaca tapi ternyata surat ini berasal dari seorang lelaki?” tanya Ferdi sedikit was-was.
Pria itu ingin Nadia menjawab ‘tidak’ dan jawaban yang diharapkan sudah sesuai dengan ekspektasinya.
“Loh, memangnya kenapa aku harus marah padamu, Mas? Bukankah kita itu sebentar lagi akan menjadi satu … kamu dan aku akan berubah menjadi kita.” Nadia tersenyum lalu kembali menggeserkan sepucuk surat yang masih terbungkus dengan amplop berwarna putih tanpa nama pengirim ke depan Ferdi.
“Yakin?” ulang Ferdi memastikan karena dia sebenarnya begitu penasaran tentang apa isi surat yang ada di dalam amplop, serta dari siapa sebenarnya surat yang diterima kekasihnya.
“Astagfirullah, kalau Mas Ferdi sendiri yang merasa tidak yakin maka lebih baik suratnya buang saja ke dalam tong sampah! Kenapa harus merasa ribet sih? Toh aku juga tak kenal dengan si pengirimnya kan?” Nadia sungguh mulai merasa gemas dengan sikap Ferdi yang sedikit kekanak-kanakan, justru di dalam hati merasa jika wajah sang pria sekarang terlihat begitu lucu.
__ADS_1
‘Aku juga sudah bisa menebak kalau surat itu pasti dari Kak Pras dan juga sudah bisa menebak apa isinya, yang aku takutkan sekarang malah kamu bakalan marah setelah membaca dan mengetahui apa isinya,’ sambung Nadia di dalam hati.