
Ferdi menatap keponakan sahabatnya itu lebih lama, memindai netra indah yang terlihat begitu bulat dengan bulu mata nan lentik.
“Oh ya, apakah itu berarti kamu juga udah bisa untuk diajak menikah?” tanya Ferdi yang langsung membuat Nadia tersedak minuman coklat.
Uhuk!
Melihat gadis yang terbatuk-batuk akibat pertanyaannya, membuat Ferdi dengan cepat meraih segelas Aqua instan yang ada di atas meja lalu menyerahkannya, “Maaf kalau pertanyaan saya membuatmu kurang nyaman,” sesal Ferdi mengusap pucuk kepala Nadia.
Nadia meneguk air mineral yang ada di dalam gelas instan tersebut hingga habis setelah, meletakkan kembali ke atas meja lalu menatap pada wajah teman dari pamannya itu.
‘Jangan bilang kalau Om Ferdi ini beneran suka sama aku, apa kata teman-temanku masa disukai sama om-om sih?’ gumamnya di dalam hati penuh tanya dan menerka tentang apa yang ada di dalam pikiran Ferdi saat ini.
“Om Ferdi ini ngomong apaan sih, mana mungkin aku mau menikah yang masih berumur sekecil ini? Yang benar saja … aku akan menikah kalau nanti sudah berhasil jadi orang sukses dan bisa membuat Om Bagas bangga padaku!” sahutnya bersemangat pura-pura tidak mengerti ada perasaan yang terluka dengan jawabannya.
Walaupun Nadia mengakui jika sahabat dari pamannya itu memiliki wajah yang sangat tampan tetapi dirinya sama sekali tidak pernah memikirkan tentang perasaan atau sekedar rasa suka terhadap lelaki dewasa itu walau mungkin para Gadis Remaja usianya pasti akan merasa senang jika bisa berduaan bersama seorang CEO tampan, muda dan juga kaya raya.
“Kalau sekarang aku hanya ingin belajar dan selalu belajar biar bisa membuat Om Bagas merasa senang, dan aku akan membuktikan kalau prestasi yang selama ini kudapatkan di kampung, bakalan tetap ku raih walau berbeda tempat seperti Sekolah Tunas Bangsa. Nadia nggak mau bikin Om Bagas merasa kecewa karena dia udah susah-susah nyari duit untuk biaya sekolah Nadia, makanya aku sama sekali nggak pernah kepikiran untuk pacaran, apalagi sampai menikah, Om,” lanjut Gadis itu menceritakan apa yang sedang menjadi rencananya di masa depan.
__ADS_1
Ferdi hanya bisa tersenyum pasrah dengan sedikit kecewa karena ternyata Gadis itu benar-benar tidak akan pernah goyah walau apapun yang bakal ditawarkannya sekedar bekerja sama menjadi pacar pura-puranya.
‘Kalau gue nawarin duit, kira-kira bocah ini mau nggak ya?’ batin Ferdi menerka.
“Kalau misalnya saya mau minta tolong sama kamu, kira-kira apa kamu bersedia?” tanya Ferdi lagi yang sudah mantap dengan rencananya ingin menjadikan gadis polos itu sebagai pacar pura-puranya.
Nadia tersenyum, “Jika Om Ferdi butuh bantuan, in syaa Allah Nadia bakal membantu asalkan yang Om minta itu masih bisa aku lakukan,” sahut Nadia tanpa ada rasa curiga sama sekali. Gadis itu bahkan tersenyum begitu manis di mata Ferdi.
“Jika saya menawarkan kerjasama mutualisme … apa kira-kira kamu mau menerimanya? Anggap saja kamu melakukan suatu pekerjaan dengan imbalan uang tambahan demi biaya sekolahmu dan saya akan memberimu gaji tiap bulan sebesar 10 juta rupiah jika mau menjadi kekasih saya, bagaimana?” Ferdi menelan ludah dengan berat berusaha tenang menunggu reaksi yang akan diperlihatkan gadis kecil itu.
“Se-sepuluh juta?” ulang Nadia membeo.
“Ya, sepuluh juta, bahkan kalau kamu pintar dan berhasil membuat semua mereka percaya … maka bayarannya akan saya tambah,” lanjut Ferdi berusaha membujuk Nadia.
“Kalau gajinya sebesar itu, Nadia mau Om tapi ada syaratnya, Om Bagas nggak boleh tahu karena nanti dia pasti nggak bakalan setuju. Satu lagi, Om Ferdi harus tau batasan karena Nadia masih kecil,” jawab gadis itu tanpa memikirkan resiko apa yang bakal menyongsongnya setelah tawaran dari seorang CEO tampan seperti Ferdi diterimanya.
“Deal?” tanya Ferdi mengulurkan tangan.
__ADS_1
Nadia tidak langsung menjabat tangan Ferdi sepertinya Gadis itu sedikit ragu.
“Nadia?” panggil Ferdi yang akhirnya membuat tangan gadis itu terulur ke depan berjabat tangan sebagai tanda telah mengesahkan kerjasama berpura-pura menjadi seorang kekasih dari Ferdi Fernando yang tak lain adalah sahabat pamannya sendiri.
“Deal!” sahut Nadia pasti.
“Mulai sekarang panggil saya dengan sebutan Mas Ferdi!” titahnya.
“Loh kan belum mulai, masa udah manggil om dengan sebutan mas? Hehehe, rasanya aneh, Om.” Gadis itu tersenyum canggung.
“Untuk latihan,” kilah Ferdi.
Saat Nadia ingin protes lagi, tiba-tiba saja ponsel milik Nadia bergetar, memperlihatkan nomor asing sedang memanggilnya.
“Halo, assalamu’alaikum,” sapa Nadia sopan.
“Waalaikumsalam, maaf selamat malam, apa betul ini saudari Nadia?” tanya seorang pria yang sedang melakukan panggilan telepon padanya.
__ADS_1
“Ya betul, saya sendiri adalah Nadia. Memangnya ini siapa?” tanya gadis itu dengan perasaan langsung fokus terhadap Bagas.
“Saya dari pihak Kepolisian ingin memberitahukan kalau Paman anda baru saja mengalami kecelakaan!”