
Malam harinya saat acara makan setelah selesai shalat isya, Bagas mengatakan pada Nadia kalau besok keponakannya itu sudah harus masuk ke sekolah baru. Itu artinya Nadia harus menyiapkan mental untuk bertemu dengan teman-teman barunya.
“Nadia, mulai besok kamu sudah bisa masuk ke sekolah yang baru dan kamu harus bisa jaga diri baik-baik karena sekolah itu merupakan sekolah yang kebanyakan diisi sama anak-anak pengusaha. Nadia nggak boleh ikut pergaulan seperti mereka karena om nggak mau kamu sampai terjerumus ke dalam pergaulan bebas.” Bagas mengambil tisu lalu mengusap bibirnya, membersihkan sisa-sisa minyak yang masih melekat di sana.
“Nadia akan selalu mengingat pesan Om kok. Lagian Om pasti tau kalau Nadia hanya banyak tingkah saat berada di rumah dan bermanja dengan keluarga sendiri,” sahut Nadia tersenyum.
“Bibi merasa senang karena akhirnya Nona Nadia bisa segera sekolah dan bertemu dengan teman-teman baru, jadi nggak perlu bersedih lagi ya!” ucap Bibi Upi ikut menimpali.
“Iya, Bi. Semoga saja Nadia betah, tolong ikut do’ain ya, Bi! Satu hal lagi Bagas minta tolong sama bibi Upi, kalau seandainya suatu saat nanti saya tidak ada di rumah ini tolong bibi jangan pernah meninggalkan Nadia sendirian walau apapun yang terjadi!” pinta Bagas sembari tersenyum pada pelayannya itu.
Bagas sudah menganggap Bibi Upi seperti keluarganya sendiri karena Ibu paruh baya itu hidup Sebatang Kara di kota Jakarta setelah suaminya meninggal dan dirinya pun tidak memiliki keturunan sama sekali. Jadi dengan adanya Bagas menjadi sang majikan, membuat Bibi Upi merasakan punya keluarga kembali walau Bagas hanya sebatas seorang majikan tetapi memperlakukannya seperti ibu kandungnya sendiri.
__ADS_1
“Itu sudah pasti Den, bibi in syaa Allah pasti mendo’akan Non Nadia biar selalu betah sekolah di sana. Mudah-mudahan Non Nadia bisa berbaur dengan baik sama teman-temannya di sekolah baru, terus semua teman Non Nadia juga pada baik ya.” Pelayan itu terlihat mengambil gelas yang sudah berisi air minum dan langsung menenggaknya hingga tandas untuk membasahi kerongkongan yang terasa kering saat mendengar perkataan terakhir dari sang majikan, karena wanita paruh baya itu merasa sedikit ngeri seolah-olah Bagas akan pergi untuk selamanya.
“Deng Bagas jangan bicara kayak begitu seolah-olah kayak orang mau meninggalkan sifat aja! Bibi janji akan selalu menjaga Nona dia Apapun yang terjadi nanti tapi Den Bagas juga harus janji akan selalu sehat dan semangat untuk bekerja demi masa depan dan Bagas sendiri dan juga Nona Nadia. Bibi hanya bisa berdoa, semoga dan Bagas nanti mendapatkan istri yang baik hati dan non Nadia bisa mencapai cita-citanya sesuai dengan yang diinginkan sama almarhumah ibunya.” Bibi Upi mulai berdiri dan mengambil piring kotor bekas makan malam mereka bersama untuk di bawa ke belakang.
“Aamiin,” ucap Bagas serempak dengan Nadia.
Melihat Bibi Upi mulai mengangkat peralatan kotor yang ada di atas meja makan, membuat Nadia pun ikut melakukan hal yang sama untuk membantu pelayan itu. Memang Nadia tidak ingin sebenarnya dipanggil Nona oleh pelayan itu tetapi Bagas dengan sengaja menyuruh Bibi Upi tetap memanggil keponakannya dengan sebutan Nona hanya karena ingin membuat Sang keponakan merasa sebagai majikan dari Bibi Upi itu sendiri.
“Besok pagi om akan mengantarkanmu ke sekolah dan pulangnya juga pasti bakalan Om jemput, jadi kamu nggak boleh pulang sendirian naik angkutan umum apapun naik taksi. Seandainya Om terlambat untuk menjemputmu sewaktu pulang dari sekolah, Om pasti akan menelponmu terlebih dahulu atau mengirimkan pesan. Kamu mengerti, Nadia?” Bagas meraih sebuah apel yang memang sudah terletak di dalam keranjang buah persisnya di tengah-tengah meja makan, mengambil apel itu tanpa mengupas kulitnya lalu memakannya.
“Nadia janji akan menjadi keponakan yang bisa membanggakan Om Bagas suatu saat nanti! Aku juga nggak ada kepikiran kok untuk pacaran segala, lagian nyari duit aja belum pandai mau sok-sokan pacaran! Emangnya Om pernah dengar kalau Nadia punya pacar waktu di kampung dari bunda? Nggak pernah kan, karena Nadia ingin jadi orang sukses dulu, masalah pacaran itu mah soal kesekian karena Nadia ingin jadi wanita yang sukses dulu!” sahut Nadia meyakinkan Bagas agar jangan pernah mengkhawatirkan tentang pergaulannya yang akan terjerumus lewat pergaulan bebas.
__ADS_1
Bibi Upi terlihat kembali ke arah meja makan karena ternyata wanita paruh baya itu ingin menawarkan minuman penghantar malam.
“Den Bagas sama Non Nadia Mau minum jus nggak? Kebetulan di dalam kulkas masih ada beberapa buah yang bisa dijadikan jus.” Bibi Upi menatap satu persatu majikannya tetapi Nadia dan Bagas sama-sama menggelengkan kepala.
“Bibi duduk aja di sini kayak biasa, bukankah Saya sudah menganggap Bibi seperti keluarga sendiri? Bibi Upi di sini nggak usah terlalu sungkan, kalau ada yang diinginkan ngomong saja sama saya atau kalau merasa malu bisa sampaikan lewat Nadia!” ucap Bagas.
Selama ini Bagas selalu menganggap pelayannya yang memang hanya satu-satunya itu, sama seperti keluarganya sendiri makanya sejak Bibi Upi bekerja di rumah itu selalu diajak makan bersama di meja yang sama. Bagas bukanlah seseorang yang membedakan strata manusia, apalagi dirinya pun bisa sukses seperti sekarang hanya karena kebaikan dari wanita yang telah melahirkan Nadia alias Kakak perempuannya yang telah meninggal dunia.
“Nggak usah Den Bagas, kalau begitu bibi mau lanjut ke dapur lagi mau lihat-lihat mana tahu masih ada yang bisa dikerjain!” pamit Bibi Upi segera membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan dua majikannya yang terlihat sedang berdiskusi.
“Nadia, Ayo ikut ke kamar om sebentar!” ajak Bagas sembari berdiri dari kursinya dan langsung berjalan meninggalkan meja makan.
__ADS_1
Nadia sedikit bingung dengan permintaan sang paman karena kalau hanya ingin bicara, bukankah mereka bisa berdiskusi di meja makan saja? Namun, gadis itu tetap mengikuti ajakan sang paman yang menyuruhnya ikut masuk ke dalam kamar Bagas, walau di dalam hati timbul berbagai pertanyaan.
‘Kenapa Om Bagas mengajakku bicara di dalam kamarnya? Ada apa ini?’ batinnya ingin tau.