
Nadia melangkah agak ke tengah kelas dengan jantung berdegup kencang akibat rasa gugup yang mendera. Matanya mengelilingi seisi kelas sebelum memulai bicara. Bahkan gadis itu sampai menghela napas dan menghembuskannya.
Suasana langsung hening seketika karena mereka semua menunggu sang siswa baru untuk memperkenalkan diri, ada yang penasaran tapi ada juga yang sibuk membaca layar ponselnya dengan sedikit menyembunyikan hp agar tidak ketahuan Ibu Maryam.
Renaldo terlihat dengan sengaja melirik calon anak baru itu. Dia melihat gadis yang berdiri di tengah kelas itu, memancarkan aura yang berbeda dari cewek-cewek yang selama ini mendekatinya. Gadis itu di matanya sangat cupu dan kampungan tapi juga menarik.
‘Astaga, ngapain gue mikirin tuh cewek? Kenal juga kagak!’ batinnya kesal sendiri.
“Assalamu’alaikum semua, perkenalkan namaku Nadia Humaira. Aku baru pindah ke kota ini beberapa hari yang lalu untuk ikut tinggal dengan pamanku,” terangnya sebelum kembali melirik pada sang wali kelas.
“Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,” jawab mereka semua termasuk Ibu Maryam.
Tidak lama kemudian mulai terdengar suara riuh bisikan-bisikan yang tidak enak didengar, membuat Nadia harus menahan dan menambah rasa sabar.
“Oh … anak kampung numpang sama pamannya toh!” celetuk salah seorang siswi yang tak lain adalah Cynthia Salsabila.
Nada kalimatnya terdengar sangat sinis seolah mengejek sang gadis yang baru saja memperkenalkan diri. Nadia memang harus punya kesabaran lebih rupanya kalau sekolah di tempat favorit seperti Tunas Bangsa.
“Pantesan aja penampilannya udik banget, ternyata pindahan dari kampung. Mana hidup numpang lagi sama pamannya, hahaha. Jangan-jangan di kampung dia udah biasa temenan dengan monyet,” timpal Yuli – teman sebangku Cynthia.
“Yuli, jaga ucapan kamu!” hardik sang guru hingga membuat Yuli langsung diam.
“Namanya juga kolot begindang, apalagi orangnya ya, hehehe,” lanjut siswa yang duduk bersebelahan dengan Renaldo.
Nadia gadis yang memiliki pendengaran lumayan tajam, bahkan dia mampu menelinga percakapan beberapa siswi di bangku barisan ketiga dan paling belakang dari tempatnya berdiri. Tapi sayangnya dia tak mungkin membalas ucapan menyakitkan itu sekarang, kan?
__ADS_1
“Cynthia, Yuli, Rina! Apa kalian bisa diam atau saya akan menyuruh kalian berdua berdiri di depan kelas dengan satu kaki seperti bebek!” ancam Ibu Maryam dengan tatapan tajam.
‘Jadi begini adab dari SMA favorit yang dikatakan sama Om Bagas? Benar-benar sangat disayangkan. Padahal mereka sekolah di sini membayar mahal. Tenanglah Nadia, kamu harus menjadi gadis yang sangat kuat, kalau bisa kalahkan mereka semua dengan prestasimu!’ lirih Nadia hanya di dalam hati untuk menyemangati diri.
Gadis itu memberikan semangat untuk dirinya sendiri agar bisa bertahan dan menjadi wanita sukses di masa depan sesuai dengan permintaan kedua orang tuanya sebelum meninggal.
“Kira-kira ada yang mau bertanya dengan Nadia nggak sebelum kita melanjutkan pelajaran hari ini?” tanya ibu Maryam sebelum mempersilakan Nadia Humaira untuk duduk di bangku yang masih kosong.
Seorang siswa laki-laki langsung berdiri, ”Saya bu!” serunya dengan senyum.
Cowok dengan tampilan wajah yang sangat tampan tetapi memiliki sifat slenge’an dan juga sering melakukan kekonyolan karena memang Nando merupakan salah seorang siswa yang selalu mendapatkan tiga besar di dalam kelas selama ini.
“Silakan, Nando! Memangnya apa yang mau kamu tanyakan sama Nadia?” tanya Ibu Maryam mempersilakan siswa cowoknya untuk melanjutkan pertanyaan.
“Apa Nadia pindah ke sekolah kita ini karena prestasinya di desa? Saya lihat kamu anak yang pintar dari penampilanmu, apa tebakan saya benar?” tanya Nando yang merasa penasaran karena dirinya melihat aura kepintaran dari wajah seorang gadis yang hanya tersenyum tipis padanya.
Nadia memberikan anggukan kecil sebelum menjawab pertanyaan Nando tetapi Gadis itu terlihat sedikit ragu untuk menjawabnya, mungkin ada rasa minder menyelinap ke dalam jiwanya, ketika menghadapi anak-anak yang menurut pamannya merupakan anak miliarder semua.
“Saya terpaksa pindah ke sekolah ini hanya karena ikut sama paman saja, bukan karena prestasi saya selama di kampung,” jawab Nadia yang tidak ingin mengungkapkan alasannya kenapa harus pindah ke kota Jakarta dan meninggalkan tempat kelahirannya.
Gadis itu juga merasa tidak perlu mengatakan kalau dirinya memang merupakan siswa unggul yang sangat hebat di kampungnya karena selalu mendapatkan juara umum satu semenjak dirinya masuk ke bangku sekolah, bahkan sejak dari sekolah dasar hingga dirinya sampai ke sekolah menengah atas sekarang masih selalu menjadi yang pertama.
“Apa waktu kamu sekolah di desa pernah mendapatkan juara?” Nando kembali bertanya karena merasa belum puas dengan jawaban cewek yang persis berada di hadapannya sebab Nando duduk di barisan pertama ruang kelas.
Cowok itu hanya melihat dari wajah dan kaca mata yang dikenakan Nadia, Nando merasa jika aura anak pintar terpapar jelas di matanya karena Nando hanya merasa bakal mendapat saingan mulai sekarang.
__ADS_1
“Sepertinya Nadia tidak perlu menjawabnya jika memang merasa keberatan,” sela Ibu Maryam karena tidak ingin siswa barunya merasa tertekan dengan pertanyaan Nando yang memang terkenal anak pintar di dalam kelas itu.
“Pasti dia sudah biasa ranking terakhir, Bu!” celoteh Yuli dengan sok taunya.
Gadis kaya raya yang paling suka merendahkan orang itu memang terkenal bermulut lemes dan sangat suka cari masalah sehingga dirinya hanya memiliki teman gengnya saja.
“Atau bisa jadi di sekolahnya yang lama, dia tidak naik kelas makanya dipindahkan ke sini sama pamannya!” timpal siswa yang bernama Nanda – cowok tampan dengan hidung mancung berdarah campuran Indonesia Jerman.
Nadia hanya diam saja tidak mau menanggapi suara-suara menyebalkan yang menurutnya tidak penting juga untuk diladeni, tapi matanya sedikit tertarik melihat Nando yang sama-sama mengenakan kacamata persis bulat seperti yang bertengger di atas batang hidungnya. Nando tersenyum dan Nadia pun membalas senyuman itu dengan sedikit anggukan kepala, seolah keduanya sedang berbicara lewat pancaran mata dan Nando mengatakan ‘tak usah mendengarkan orang-orang yang hanya seperti Tong Kosong’.
“Pasti dia pindah ke sini karena keluarganya miskin terus numpang hidup sama pamannya!” celetuk yang lain lagi.
“Apa lo pindah ke sekolah kami biar dapat cowok tampan?” tanya Rina – si cewek seksi.
“Gue rasa pertanyaan kalian semua gak ada yang berbobot deh. Apa kamu ke sini mau jadi pacarku, Nadia?” sela Revan dengan sengaja mengerling nakal.
Nadia masih terdiam karena menurutnya tidak ada pertanyaan yang harus dijawab. Semuanya hanyalah hinaan dan juga ejekan yang sengaja dilontarkan untuk memojokkannya. Ingin sekali rasanya gadis itu menampar satu persatu siswa yang tidak sopan tetapi dirinya masih menghormati Ibu Maryam.
Renaldo yang sedari tadi hanya diam, tiba-tiba saja merasa kesal mendengar celotehan teman-temannya yang tidak bermutu. Pemuda itu mengambil tong sampah ukuran kecil yang ada persis di belakang bangkunya. Awalnya hanya berniat melempar ke arah Ravan yang tidak sopan dengan pertanyaannya.
Prak!
“Aww!” rintih Nadia saat benda plastik itu mengenai kepalanya.
Hahaha!
__ADS_1
Nadia merasa dirinya benar-benar tidak akan sanggup sekolah di tempat ini, karena baru hari pertama saja dirinya sudah dibuat sedemikian menyedihkan hingga ada rasa tidak nyaman sebab selama di kampungnya belum pernah mendapatkan perlakuan seperti para siswa yang ada di sini.
“Diam semua! Apa kalian kira ini acara Stand Up Comedy?!”