Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 49. Mengosongkan Isi Kulkas


__ADS_3

Ferdi benar-benar melakukan apa yang diucapkannya. Lelaki itu memasak untuk gadis pujaan yang masih menggantung cintanya karena hingga sekarang Nadia masih belum memberikan jawaban pasti. Bibi Upi sampai terkejut melihat sang CEO yang berkutat di dapur tapi bibirnya tersenyum karena ulah Ferdi malah membuatnya teringat akan sosok almarhum Bagas.


“Dulu den Bagas Juga senang memasak di dapur bahkan bibi aja pernah dimasakin sama beliau. Sepertinya itu adalah kenangan terindah yang almarhum berikan sama bibi. Soalnya mana ada seorang tuan yang rela ke dapur masakin pelayannya, dia bilang lagi rindu sama ibunya,” kenang bibi Upi bercerita tentang sosok Bagas yang baik hati dengan kedua mata yang berkaca-kaca.


Nadia mengelus punggung wanita yang sudah mengabdi pada pamannya itu, “Makasih ya, Bi … selama ini udah jagain om Bagas dengan baik. Sekarang malah jagain Nadia segala. Padahal kalau bibi mau bisa pulang ke kampung kok, Nadia bisa jaga diri sendiri di rumah ini,” ucap Nadia meletakkan kepala di pundak sang pelayan perempuan itu.


Beberapa saat keduanya hening tanpa ada yang bicara ,hampir sekitar lima menit lamanya tak ada satu pun yang mengeluarkan suara, Sampai akhirnya Bibi Upi bertanya pada Nadia tentang sosok yang sedang memasak di dapur rumah itu.


“Non Nadia kenapa nggak nyoba aja dulu menerima den Ferdi buat jadi anu … maksud bibi kayak anak sekolah lain yang pada punya pasangan itu loh. Pacaran ya namanya?” Bibi Upi bertanya seolah-olah dirinya sama sekali tidak mengerti Dengan istilah yang dipakai oleh para anak muda tentang sebuah hubungan yang sebenarnya tidak memiliki ikatan apapun juga selain hanya sekedar status di dunia semata.


“Nadia harus berpikir seribu kali sebelum memberikan jawaban pada Om Ferdi, eh maksudku Mas Ferdi. Bagaimanapun juga perbedaan antara kami berdua terlalu jauh. Bukan hanya sekedar perbedaan usia yang terpaut jauh saja karena buat Nadia itu nggak jadi masalah, bahkan mungkin dia lebih bisa mengayomi jika kami benar-benar menikah … tapi sebelum memasuki jenjang ke sana, terlalu banyak hambatan terutama perbedaan kehidupan bagai langit dan bumi.” Nadia melongok pada pintu penyambung antara dirinya berada dengan dapur karena tidak ingin kalau sampai Ferdi mendengar perbincangannya dengan sang pelayan.


“Memang apa lagi yang bikin Non Nadia merasa ragu? Den Ferdi itu sudah mapan, ganteng, punya pekerjaan bagus terus apalagi kurangnya?” Bibi Upi menatap gadis belia yang duduk di dekatnya itu, memberikan senyum penuh keyakinan kalau pilihan atas Ferdi bukanlah hal yang buruk.

__ADS_1


“Justru karena dia itu terlalu sempurna Bi, makanya Nadia merasa terlalu jauh berada di bawahnya dan sangat tak pantas untuk berdiri di sampingnya! Nadia juga pernah diancam sama Tuan Regan, kalau sampai Nadia masih tetap bersama mas Ferdi maka orang itu bisa saja akan mel–” Belum selesai gadis polos itu mengucapkan hal yang membuatnya ketakutan, tiba-tiba suara bariton yang tadi sedang memasak di dapur mengagetkan keduanya.


Nadia dengan cepat berdiri karena merasa takut jika lelaki itu mendengar semua yang dikatakannya tadi bersama bibi Upi.


“Siapa yang tak suka dengan kebersamaan kita, Nadia? Jadi kamu menolakku bukan karena umurmu yang belum genap 17 tahun tapi karena diancam oleh seseorang? Tolong jawab Nadia!” Ferdi berjalan semakin mendekat dan juga semakin mengikis jarak di antara mereka.


Bibi Upi yang melihat bakal ada drama siarang langsung, dengan sengaja berlalu dari sana karena tidak ingin ikut campur masalah majikannya.


“Aku laper,” ucap Nadia dengan sengaja mengalihkan pembicaraan.


“Ck … kau utang penjelasan padaku! Sekarang ayo kita makan,” ajaknya terpaksa mengalah karena Ferdi juga tahu jika gadis itu menahan lapar sejak tadi akibat dirinya yang sok kelewat bersih.


Sebenarnya Ferdi hanya tidak mau Nadia makan di tempat sembarangan karena bisa saja gadis itu tiba-tiba sakit.

__ADS_1


Ferdi dan Nadia berjalan beriringan menuju meja makan, harum masakan pria itu sungguh membuat siapa pun yang lewat bakalan ingin mencicipinya. Apalagi Nadia benar-benar sudah sangat merasa lapar. Namun, ketika matanya menatap meja makan, ternyata begitu banyak menu makanan.


‘Kenapa malah jadi seperti ini?’ Ferdi membatin.


Ternyata harapannya tidak sesuai dengan ekspektasi sebabkan ya sama sekali tidak memberikan pujian sedikitpun padanya.


“Semua masakan ini, Mas Ferdi yang buat?” tanya Nadia menatap lelaki yang duduk dibatasi meja makan dengannya.


“Yap,” jawabnya enteng, “Kamu pasti suka kan dan juga nggak pernah nyangka kalau calon suamimu ini merupakan orang yang jago memasak!” Pria itu sama sekali tidak melihat tatapan horor yang diberikan Nadia.


“Pantas saja aku merasa seluruh isi yang ada di dalam kulkas di rumah ini jadi pindah ke meja makan semua!” sewot Nadia memeberikan tatapan horornya.


“Ehh.”

__ADS_1


__ADS_2