Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 40. First kiss


__ADS_3

Suasana Kantor tiba-tiba saja berubah menjadi riuh ketika melihat kedatangan sang CEO bersama seorang gadis lugu yang masih polos dengan pakain seragam putih abu-abu. Nadia hanya bisa tersenyum manis setiap melihat ada karyawan yang melihat ke arahnya. Terkadang Gadis itu malah tersenyum dengan iringan sedikit anggukan kepala menghormati Setiap karyawan yang tersenyum padanya.


“Honey, Kamu harus belajar mengangkat kepalamu dan jangan terlalu baik hati sama orang lain, seperti yang barusan kamu lakukan karena itu hanya akan membuat mereka semua menganggapmu terlalu lembut!” Ferdi dengan sengaja menghentikan langkah kakinya, menangkup kedua pipi sang gadis hanya untuk mengatakan kalimat yang dianggap Nadia sungguh tak penting.


Bahkan gadis itu tidak tau sama sekali apa tujuan Ferdi seolah sedang dengan sengaja mengumbar kedekatan mereka di depan para karyawan Singgalang Group.


‘Ini Om Ferdi sedang bersandiwara kah?’ batinnya penuh tanya.


“Hey, kok malah bengong? Kamu mendengar apa yang ku katakan gak sih, Honey?” Ferdi dengan sengaja lebih mendekatkan wajah nya pada sang gadis, mengikis jarak di antara mereka berdua hingga beberapa karyawan sampai menganga tak percaya dengan apa yang sedang mereka lihat.

__ADS_1


“Apa yang mau om eh Mas lakukan, ini di kantor,” ucap Nadia mengingatkan.


Wajah gadis itu terlihat merona merah yang dengan cepat ditunjukkannya akibatnya sebab dari sudut matanya bisa melihat beberapa orang yang sedang membicarakan mereka berdua. Entah apa yang sedang dialami seorang CEO Singgalang group sehingga dirinya seperti kehilangan rasa malu ketika berada di dekat Nadia.


Ferdi mendekatkan bibirnya ke arah telinga sang gadis hanya untuk membisikkan sedikit guncangan agar Nadia tidak memporak-porandakan rencananya, “Kalau aku mendengarmu masih memanggilku dengan sebutan Om, maka bersiaplah untuk selalu mendapatkan hukuman terindah dariku!” ancamnya.


Ferdi memperlihatkan seringaian licik, bahkan pria itu sempat-sempatnya mengedipkan sebelah mata pada Nadia yang hanya mampu menggigit bibir dengan bulu Kuduk yang meremang.


Bisikan-bisikan sesama antar karyawan pun mulai terdengar setelah melihat bagaimana perlakuan Ferdi yang tanpa tau mau tidak melepas genggaman tangan sang gadis sedikit pun hingga keduanya hilang di balik pintu ruang kerja sang CEO.

__ADS_1


“Gilaya, pantas aja Pak Ferdi sama sekali gak mau ngelirik kita-kita, ternyata sukanya sama gadis polos kayak gitu. Gue sama sekali gak pernah kebayang kalau selera Pak Ferdi bukan gadis seksi kayak bu Firda yang sok kecantikan dan sombong itu,” celetuk seorang Karyawan perempuan dengan rambut sebahu.


“Bener juga ya, padahal aku dengar pertunangan Pak Ferdi dengan ibu Firda itu malah dipercepat, tapi kenapa kayaknya bos kita sesantai itu ya membawa cewek yang masih berseragam SMA ke kantor ini? Apa mungkin pak Ferdi dengan sengaja melakukan ini semua agar ayahnya Kembali berpikir ulang untuk menjodohkan Pak Ferdi dengan ibu Firda?” tanya seorang karyawan berbadan kurus yang mengenakan rok di bawah lutut dengan high heels sekitar lima cm.


“Bisa jadi juga sih. Sepertinya kalau dilihat-lihat gadis SMA tadi tak kalah cantik dengan ibu Firda, hanya saja dari wajahnya menyiratkan jika gadis yang dibawa sama Pak Ferdi barusan terlihat sangat masih polos dan juga kelihatan sekali orangnya masih lugu.” Karyawan yang lain juga ikut menimpali.


Sementara itu di ruang kerja Ferdi, Nadia sedang duduk di atas sofa panjang dengan suguhan minuman kaleng soft drink di atas meja. Ferdi juga ikut duduk di sampinglah dia sembari membuka salah satu minuman dingin yang sudah disediakan sekretaris kantor barusan.


“Kamu tunggu aku sekitar satu setengah jam di ruangan ini dan jangan pernah kemana-mana! Kalau merasa capek, Kamu bisa masuk ke kamar tempat beristirahatku setiap hari!” Ferdi mengarahkan jari telunjuknya pada salah satu pintu yang ada di ruang kerjanya sebagai tempat dirinya beristirahat ketika tubuhnya sudah tak kuat untuk dipaksa bekerja dan terkadang ruangan itu digunakannya untuk tidur setelah melakukan lembur malam.

__ADS_1


“Baiklah, Om, aku akan–” belum sempat kalimat yang ingin diucapkannya itu selesai, tiba-tiba saja daging kenyal terasa begitu lembut dan hangat mendarat di bibirnya.


Kedua bola mata. Nadia terbelalak seketika karena Ferdi benar-benar memberlakukan ancamannya. Pria itu telah lancang mencuri ciumann pertamanya.


__ADS_2