Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 59. Viral 2


__ADS_3

Tubuh jangkung tuan Winata ambruk di lantai rumah Tuan Regan, membuat mereka yang ada di sana langsung saja panik seketika. Firda tidak mengetahui apa sebenarnya yang sedang terjadi dan baru saja dilihat Papanya lewat Ponsel yang masih menyala terjatuh ke atas kursi sofa.


Sementara Renaldo yang sudah tahu situasi ini pasti akan terjadi langsung saja mengambil ponsel yang masih menyala itu dan melihat adegan tak pantas untuk ditontonnya tetapi matanya benar-benar sangat terbelalak melihat siapa aktris perempuan yang sedang bergoyang liar di atas ranjang.


“Astagfirullah … ternyata kak Firda benar-benar perempuan yang sangat hot!” serunya dengan gelengan tapi masih saja menikmati beberapa detik adegan yang sedang ditontonnya.


Dasar mulut Renaldo sungguh munnafik, membaca istighfar tetapi bibir dan lidahnya masih tetap saja berkata lain yang tidak sesuai dengan apa yang dilihatnya. Cowok itu pasti sedikit banyaknya ikut menikmati tontonan film gratis milik Firda.


Renaldo tahu kalau video itu sudah pasti kerjaan asisten sang kakak karena tadi dirinya sempat melihat jika Ferdi menghubungi seseorang sebelum menaiki anak tangga untuk mengambil pakaiannya jelang pergi dari rumah ini. Pemuda yang masih duduk di bangku SMA itu pun akhirnya menyerahkan ponsel itu kepada tuan Regan.


“Inilah adegan viral calon menantu idaman, Papa. Rei nggak pernah menyangka kalau Papa rela mengusir anak kandung sendiri demi seorang wanita yang begitu menjijikkan, padahal seharusnya dibuang ke tempat sampah yang begitu bau!” ucap Renaldo dengan nada penuh cemooh.


Renaldo berlalu pergi meninggalkan ruang tamu yang sedang gaduh akibat ambruknya Tuan Winata. Cowok itu pergi ke luar rumah membiarkan papanya yang sesaat lagi pasti akan merasa menyesal seumur hidup karena telah melakukan kesalahan fatal dengan mengusir Ferdi dari rumah.


“Om Regan, tolong cepat Om … tolong bawa papa ke rumah sakit!” teriak Firda yang berusaha menepuk-nepuk pipi Papanya agar segera bangun tetapi pria paruh baya itu tidak menggubris sama sekali dan tetap tidur dalam kekecewaan yang panjang.


Tuan Regan merasa penasaran dengan apa yang dilihat sahabatnya sebelum ambruk tadi. Lelaki paruh baya itu memperhatikan layar ponsel milik Winata yang sudah diberikan Putra bungsunya, melihat adegan tak pantas itu dengan mata terbelalak kaget seolah tidak percaya dengan penglihatannya, apa ini yang dimaksudkan oleh Putra sulungnya tadi? Regan benar-benar hanya bisa menggelengkan kepala dengan tangan yang mulai mengepal, merasa sakit hati karena ditipu keluarga Winata dan juga penyesalan yang bertubi-tubi karena telah mengusir Putra kandungnya hanya demi mempertahankan perempuan murahan seperti Firda.


“Bangun, Pa! Kenapa Papa sampai bisa seperti ini? Apa sebenarnya yang sedang Papa rasakan dan apa sebenarnya yang tadi Papa lihat di ponsel itu?” Firda tak sanggup lagi melihat laki-laki yang sangat menyayangi itu semenjak lahir ke dunia tak sadarkan diri, menyaksikan bagaimana Tuan Winata yang sepertinya sebelum pingsan menyebut namanya dengan penuh kecewa.


Sementara Tuan Regan sendiri bergeming di tempatnya dan luluh terduduk di atas kursi sofa, memandang nanar dengan tatapan kosong di mana Firda sejak tadi memanggil namanya, meminta tolong tapi telinganya seolah-olah tidak bisa mendengarkan apa yang sedang diucapkan Firda barusan. Pikirannya melayang pada waktu beberapa menit yang lalu di mana sang putra sulung diusirnya, serta melihat luka dan kecewa terpatri jelas dari kedua bola mata anaknya.


‘Astaga, apa yang sudah aku lakukan pada anak kandungku sendiri? Ferdi adalah kebanggaan keluarga ini yang sudah memperjuangkan perusahaan hingga berkembang pesat sampai sekarang tapi aku malah mengusirnya tanpa mendengarkan penjelasan darinya Kenapa dia begitu kekeh tidak ingin dijodohkan dengan Firda!’ sesal tuan Regan di dalam hati.


Renaldo ternyata tadi pergi memanggil satpam yang menjaga rumahnya untuk membantu Tuan Winata agar segera diantarkan ke rumah sakit karena saat ini sang supir baru saja minta izin pulang kampung hingga tidak akan ada orang yang mau mengantarkan Firda beserta Papanya ke rumah sakit. Apalagi Renaldo sangat hafal dengan karakter papanya sendiri, pria paruh baya itu merupakan orang yang paling pendendam dikenal Rei selama ini, jadi sudah bisa dipastikan jika Papanya tidak akan mau lagi peduli dengan apapun yang terjadi pada keluarga Winata.

__ADS_1


“Tolong tuan binasa eh salah, maksud Rei tuan Winata buruan diangkat ke mobil Mbak Firda, ya bang Rory!” pinta Renaldo menyuruh satpam rumahnya untuk mengangkat tubuh Jangkung Tuan Winata ke mobil gadis yang sudah membuat kakaknya terusir dari rumah.


Satpam itu sempat membekap mulutnya menahan tawa karena dia sangat yakin kalau tuan bungsunya itu pasti dengan sengaja memplesetkan nama Tuan Winata sebagai bahan ejekan. Namun, sebagai orang yang hanya bekerja sebagai penjaga rumah, tentu saja dirinya harus bisa menempatkan diri sesuai kadarnya.


“Baik, Tuan Rei,” sahut Rory dengan patuh, lalu mengangkat tubuh pria paruh baya itu dengan gesit ke arah mobil yang sudah dibukakan Firda pintunya di bagian belakang. Firda memangku kepala papanya lalu menatap penuh permohonan pada satpam rumah Renaldo itu.


“Tolong ya Pak Rory, antarkan saya ke rumah sakit sekarang juga karena saya tak mungkin menyetir dalam keadaan seperti ini! Kasian papa kalau tak ada yang memegangnya,” pinta Firda tanpa memikirkan kalau ponsel miliknya masih berada di tangan Tuan Regan.


Satpam itu menoleh sesaat pada Renaldo, dan cowok yang masih duduk di kelas 11 Sekolah Tunas Bangsa itu hanya menganggukkan kepala, memberi izin pada satpamnya untuk berbuat kebaikan pada orang lain yang sedang tertimpa musibah.


Sebenarnya kalau disuruh jujur, Rei ingin tertawa melihat balasan dari abangnya baru saja dimulai, bahkan video itu baru berjalan beberapa menit saja. Entah apa yang akan terjadi pada keluarga Winata esok harinya karena Renaldo sangat yakin, jika esok hari mungkin berita tentang bangkrutnya perusahaan Winata bisa saja mengaung di dunia dalam berita bisnis.


***


Nando duduk melongo melihat adegan yang terlihat romantis di meja yang sama dengannya setelah tadi membawakan Nadia beberapa bongkahan batu es. Pemuda itu kembali dengan iseng menyalakan kamera ponselnya untuk mendapatkan video cantik penuh sensasi mengharu biru dari sepasang kekasih yang terlihat saling melengkapi.


“Astagfirullah, mana mungkin aku sengaja! Lagian Mas pasti hanya pura-pura merasa sakit ‘kan, ayo ngaku!” ucap Nadia dengan sengaja menekan agak keras sudut bibir Ferdi yang sedikit pecah serta memperlihatkan bekas darah yang sudah tak ada kecuali hanya sedikit lebam saja.


“Ya elah Bang … gak usah lebay juga kali depan gue! Mana ada sakit buat lo hal kecil kayak begituan? Bilang aja nyari perhatian ama Nadia!” ketus Nando berdecak lidah.


“Aww, sakit loh, Honey!” ujar Ferdi semakin menjadi-jadi saja manjanya, membuat Nando ingin sekali muntah melihat tingkah dari kakak temannya itu.


“Kalian berdua masih nyadar gak sih kalau masih ada anak di bawah umur duduk di sini?” cibir Nando dengan wajah kesal tapi video itu masih saja tidak dihentikannya karena yang terekam di dalam kamera hanya wajah Ferdi dan terkadang terlihat tangan Nadia yang mengompres luka bekas pukulan di sudut bibir serta pipi lelaki itu.


“Kalau kamu sadar kenapa gak langsung pulang untuk bobok, Dek Bocah? Anak di bawah umur itu gak boleh tidur terlalu malam, emangnya kamu mau ngantuk nanti saat sedang belajar di sekolah?” tanya Ferdi kembali berbuat ulah yang langsung saja mendapatkan cubitan dari gadis yang mengompresnya.

__ADS_1


“Oh iya, Nad … kayaknya aku harus lebih ekstra lagi nih, biar bisa nyuri waktu belajar berdua denganmu demi pertandingan di Bandung nanti,” lanjut Nando.


“Mulai sekarang Nadia gak perlu belajar berdua lagi sama kamu, Bocah … saya yang akan mengajarinya karena mulai dari sekarang kami akan lebih banyak menghabiskan waktu bersama.” Ferdi bicara dengan mata yang terpejam.


“Mas, kamu belum memberitahukan apa sebenarnya yang sedang terjadi? Kenapa wajah Mas Ferdi jadi kayak begini sih?” tanya Nadia kembali mengungkit penyebab bibir pria itu jadi pecah.


Gadis itu meletakkan sisa batu es yang tadi digunakannya ke dalam baskom. Menunggu jawaban pria itu dengan menatap pada wajah Ferdi.


Pria itu tersenyum, “Apa kamu udah selesai? Kalau sudah, kita langsung pulang saja, ya?” tanyanya yang sama sekali belum mau menjawab pertanyaan Nadia, “Nanti sesampai di rumah, mas akan menceritakan segalanya, tapi sekarang kita sebaiknya pulang dulu! Kasian bibi Upi udah ngantuk nungguin kamu kelamaan belajar dinner dengan bocah ini!” Ferdi mulai berdiri.


Nadia menoleh pada sahabatnya, meminta izin lewat sorotan mata.


“Kamu emang kayaknya lebih baik pulang deh, daripada di sini hanya bikin aku sakit mata ngeliat kemesraan kalian berdua,” usir Nando hanya berniat dengan candaan.


Nadia sebenarnya merasa tidak enak karena kedatangan Ferdi ke cafe milik Nando hingga pemecahan soal-soal fisika yang seharusnya mereka lakukan bersama malah jadi tertunda.


“Sorry banget ya, Nando. Nanti kita cari waktu lagi untuk mendiskusikan pemecahan soal-soal yang sudah direkomendasikan sekolah tadi!” Nadia memasukkan perlengkapan belajarnya ke dalam tas ransel lalu ikut berdiri di samping Ferdi.


“Tenang aja, aku nggak apa-apa kok,” sahut Nando singkat walau di dalam hatinya sungguh kecewa dan kesal dengan kedatangan Ferdi sebagai makhluk pengganggu acar belajarnya bersama Nadia.


“Ya sudah, makasih banyak ya! Aku pamit dulu, assalamu’alaikum,” ucap Nadia sembari membalikkan tubuhnya dengan jemari yang sudah digenggam Ferdi, mengajak Gadis itu ke luar dari cafe milik kakaknya Nando.


“Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh.” Nando hanya terpaksa tersenyum getir melihat punggung Nadia yang semakin jauh hingga hilang dari pandangan.


‘Ternyata aku sangat terlambat mendekatimu karena bang Ferdi seorang CEO yang nggak mungkin bisa aku saingi untuk merebutmu, semoga kamu bahagia selamanya …!’ lirih Nando dengan nada sedih.

__ADS_1


“Apa kamu mencintai gadis itu?” tanya seseorang yang sejak tadi memperhatikannya.


__ADS_2