Tuan Muda Penjaga Hati

Tuan Muda Penjaga Hati
Bab 38. Pria Menyebalkan


__ADS_3

Ferdi baru saja selesai makan siang dengan Kevin saat ponselnya menampilkan adanya notifikasi pesan masuk dari aplikasi warna hijau. Terlihat nama Roger mengirimkan nya pesan. Pria itu memang semalam memberikan ancaman akan mengadukan pada kedua orang tua bocah itu, kalau Roger sempat dibantunya membebaskan sahabat dari adiknya dari kantor kepolisian akibat tertangkap sedang berpesta barang haram.


Namun, Roger memohon belas kasihan sama Ferdi dan dia berjanji akan melakukan apa saja asalkan kedua orang tuanya yang gila kerja tersebut, tidak sampai mengetahui perbuatannya yang mencari kesenangan di luar rumah dengan cara mencoba serbuk haram yang selalu diburu sama POLRI itu.


Buru-buru CEO muda itu membukanya karena merasa sangat penasaran tapi saat matanya membaca pesan yang diterima, matanya membola tak percaya.


Rahang pria itu mengeras kuat, tatapan matanya menyipit menahan amarah, bagaimana mungkin adik kesayangannya itu bisa menipu dengan dalih menjaga Nadia – gadis incarannya? Tidak mungkin Rei menikungnya dari belakang, apa sebenarnya tujuan adiknya melakukan itu semua, bahkan Nadia dipulangkan lebih cepat pun sang adik belum memberikan kabarnya.


“Ada apa, Bos? Apakah terjadi sesuatu?” tanya Kevin merasa penasaran melihat raut wajah atasan dan sahabatnya itu berubah murka.


Sepertinya akan ada pekerjaan tambahan jika melihat kegelisahan dan juga raut panik pada wajah Ferdi. Kevin sangat hafal betul bagaimana karakter seorang Ferdi karena mereka sudah dekat sejak sama-sama kuliah dulu, jadi dirinya bisa paham tanpa diberitahu terlebih dahulu.


“Kevin, saya ada keperluan mendadak jadi urus kerjaan kantor selama saya tak ada dan kamu persiapkan seluruh bahan untuk meeting jam tiga nanti sore!” titahnya tanpa menjawab pertanyaan yang diajukan Kevin, bahkan Ferdi langsung berlalu pergi tanpa menunggu sahutan dari sang asisten, meninggalkan ruang khusus direksi di kantin kantor kaki panjangnya yang melangkah begitu tergesa.


Singgalang Group memang menyediakan kantin khusus karyawan sebagai bentuk kepedulian pihak perusahaan demi kesejahteraan mereka semua dan itu juga merupakan salah satu bentuk tanggung jawab perusahaan yang jarang disediakan perusahaan lain.


Saat pria itu masuk ke dalam mobil, dirinya kembali mengecek ponsel dan ternyata kali ini Renaldo malah yang mengirimkannya pesan suara berupa rekaman tapi sebelum membuka audio itu, Ferdi terlebih dahulu membaca isi pesan dari adiknya.

__ADS_1


[Sorry, Bang, gue terpaksa pura-pura punya hubungan dekat sama Nadia di sekolah biar semua orang gak ada lagi yang nyatain cinta ama dia! Kalau lo gak percaya, liat dan dengarkan si ketos tampan itu nyatain cinta ama Nadia bahkan Rangga mau mengganti biaya rumah sakit yang udah lo kasih buat bang Bagas, keren gak tuh? Jadi sebelum lo nyesel Nadia diselip motor yang lebih elit … buruan bilang cinta ama Nadia, jan bikin malu gue karena punya kakak BERMENTAL KERUPUK! Satu lagi, kalau lo gak datang dalam lima belas menit ke sekolah maka gue yang bakal nganterin Nadia pulang tapi Nadia bakal gue sayang-sayang!]


Setelah membaca semua itu, Ferdi langsung mengumpat banyolan adiknya walau sekarang dirinya bisa bernapas lega, karena apa yang dikirimkan Roger ternyata hanya salah paham semata. Hampir saja dirinya terhasut dengan pesan yang dikirimkan sama Roger, rupanya semua itu memang bagian dari rencana adiknya sendiri, tapi dia kesal kenapa Rei harus melakukan hal seperti itu segala?


Ferdi membalas pesan adiknya [Awas kalau lo macam-macam sama kakak ipar lo, gue gorok leher lo! Gue otw ke sana!]


Ferdi pun akhirnya melajukan mobilnya ke Sekolah Tunas Bangsa dengan senyum yang mengembang. Dirinya sudah tak sabar untuk bertemu dengan Nadia – keponakan Bagas yang sudah mampu mencuri hatinya dan membuat sifat beku di dalam hatinya berubah jadi meleleh.


Tidak lama kemudian, mobil yang dikendarainya telah sampai di depan gerbang sekolah. Pria itu memasang kaca mata hitam miliknya sebelum keluar dari mobil. Matanya memindai sekeliling untuk mencari keberadaan sang adik dengan gadis pacar pura-pura yang suatu saat nanti akan dibuatnya jadi istri sungguhan.


“Eh Rei, tuh kakak lo ko datang ke sini?” tanya Yuli yang mengarahkan dagu pada sosok pria tampan dengan penampilan masih mengenakan pakaian formal kantornya.


“Kenapa emangnya? Lo naksir ama abang gue?” tanya Rei menaikkan sebelah alisnya.


Renaldo sangat yakin dengan pesona sang kakak yang mampu membuat para gadis menjerit ingin didekati atau mungkin juga bersedia dijamah kakaknya dengan gratis, karena Rei hafal betul mana tatapan penuh damba dari gadis-gadis menjijikkan seperti mereka.


“Siapa sih yang gak bakalan suka ama cowok seperfect kakak lo, cuma cewek bodo aja yang gak bakal jatuh cinta ama dia! Udah tampan, tajir melintir lagi, gue yakin semua cewek juga bakal sependapat sama gue!” sahut Yuli dengan mata tak berkedip menatap sosok jangkung nan tampan berjalan santai ke arah mereka.

__ADS_1


“Sayangnya cewek yang diincar abang gue malah bukan cewek yang tergoda dengan ketampanan atau pun ketajiran abang gue tapi bang Ferdi kayak gak mau nyerah sebelum bisa ngedapetin dan nakhlukin hatinya. Apa menurut lo cewek itu juga bodo?” ejek Rei merasa sangat puas.


“Lo kayak gak tau aja, Rei … cewek bodo yang dikatain ama Yuli itu kan dia sendiri, hahaha!” celetuk Nando yang mendapatkan pelototan dari gadis itu.


Enak saja dirinya dikatakan sebagai cewek bodo, padahal semua itu memang nyata karena Yuli selama ini hanya menjadi seorang siswa penuh kelicikan dalam meraih nilai. Namun dirinya tak akan pernah membocorkan apa saja yang sudah dilakukannya agar tetap bisa sekolah di tempat favorit itu.


Ferdi berjalan ke dekat Renaldo, teman geng adiknya itu menyangka kalau sang kakak akan datang menyambangi adiknya tapi mereka langsung melongo dengan mulut terbuka saat mendengar sebutan Ferdi memanggil nama Nadia.


“Honey, kamu udah pulang?” tanya Ferdi santai sembari mengusap kepala Nadia yang memang sudah menjadi kebiasaan baru baginya.


Nadia terlihat kikuk, wajahnya merona merah bukan karena tersipu tapi merasa malu dipanggil semesra itu di depan teman-temannya. Nadia juga tidak tau kenapa tiba-tiba saja Ferdi sampai datang hingga masuk ke kantin dan memanggilnya dengan panggilan sayang ‘honey’, padahal biasanya lelaki itu hanya akan menunggunya di dekat gerbang sekolah. Ferdi benar-benar membuatnya kesal.


“Mas Ferdi sungguh menyebalkan!” sahutnya menutup wajah dengan kedua tangannya, sementara Ferdi malah terkekeh geli melihat wajah Nadia yang merona merah karena di matanya sangat menggemaskan.


"Kenapa kamu kesal, Honey? Apakah ada yang mengganggumu di sini? Katakan padaku maka aku akan mematahkan lehernya! Tak ada satu orang pun yang bisa mengganggu gadisnya seorang Ferdi” tegasnya langsung menggendong tubuh Nadia hingga gadis itu terpekik seketika.


Nadia langsung menutup wajah dengan kedua tagannya karena merasa sangat malu. Ferdi sungguh mulai memperlihatkan keseriusannya di depan siapa saja. Pria itu bukannya berhenti saat dikatai Nadia menyebalkan tapi malah semakin memperlihatkan kekuasaannya atas sang gadis.

__ADS_1


__ADS_2