
Bel tanda pulang sekolah baru saja berbunyi, semua siswa berhamburan keluar dari kelasnya masing-masing, berburu ingin menjadi yang terdepan sampai di gerbang sekolah untuk segera pulang ke rumah. Rata-rata siswa-siswi yang ada di Sekolah Menengah Atas Tunas Bangsa memiliki sopir pribadi yang siap antar jemput, ada juga yang sudah membawa mobil sendiri pulang pergi ke sekolahnya.
Semua itu tentu saja berbanding terbalik dengan kehidupan seorang Nadia yang kemungkinan besar awal-awal kehidupan sekolahnya akan diantar jemput oleh sang paman, tetapi mungkin tidak akan selamanya seperti itu. Sebab Nadia sangat mengerti bagaimana kesibukan seorang Bagas di kantornya yang menjadi asisten pribadi dari CEO Singgalang Group.
Nadia mengecek ponsel miliknya, melihat ada pesan masuk dari sang paman jika Bagas akan telat menjemputnya sebab dirinya harus mengantar sang atasan terlebih dahulu ke suatu tempat.
[Sayang, om telat jemput ya, soalnya pak Ferdi harus pergi ke suatu tempat untuk bertemu klien]
[Ya, Om, gak apa kok. Nadia duduk di kelas aja dulu sambil nunggu] balas Nadia dan langsung mengirimnya.
Dengan terpaksa Nadia diam di dalam kelas untuk menunggu kedatangan sang Paman daripada berdiri di pintu gerbang yang tidak jelas. Entah berapa lama dirinya harus menunggu kedatangan sang paman.
Renaldo yang sengaja memperhatikan Nadia sedari tadi merasa sedikit heran sebab cewek itu belum juga beranjak dari bangkunya. Cowok itu sedikit bingung kenapa Nadia dengan santai malah bermain ponsel tanpa menghiraukan orang yang telah berlalu lalang di samping kiri kanannya untuk keluar kelas dan pulang ke rumah masing-masing.
‘Nih Cewek ngapain masih di dalam kelas ya? Apa jangan-jangan dia malah sengaja nungguin gue lagi!’ pikir Renaldo mengira Nadia sengaja menunggunya, padahal sama sekali tidak.
‘Mungkin sebaiknya gue samperin aja kali!’ cowok itu pun mengambil tas ransel yang biasa di bawahnya lalu meletakkannya di atas meja di samping Nadia, cowok itu pun langsung duduk dengan santai di sana.
“Lo kok nggak pulang Nadia? Apa ada yang mau lo lakuin lagi di sini? Atau lo lagi nunggu seseorang?” tanya Renaldo berbasa-basi.
Remaja itu juga tidak mau terlihat terlalu sok akrab karena mereka baru saja kenal, menjaga gengsi tetap harus diutamakan, pikir Renaldo.
“Eh ketua kelas, aku belum bisa pulang soalnya masih nungguin om ku untuk jemput,” jawab Nadia lembut.
Gadis itu menoleh ke samping, memperhatikan sang ketua kelas yang malah menyangga pipinya dengan meletakkan siku di atas meja serta mengarahkan wajah terhadapnya sehingga mereka saling bertatapan mata. Dengan cepat Seruni membuang muka, merasa malu sendiri akibat ditatap begitu Intens oleh laki-laki yang baru saja dikenalnya.
__ADS_1
“Emangnya lo tinggal di mana, biar gue yang antar lo pulang sampai rumah? Daripada nungguin Om lo yang belum tentu kapan datangnya, bukankah lebih baik gue antar aja lo pulang, biar bisa langsung istirahat?” lanjut Renaldo kali ini bertanya dengan serius karena mana tahu cewek itu bisa diajaknya tanpa harus berlama-lama untuk melakukan pdkt segala, seperti kebanyakan teman-temannya.
Nadia menggeleng perlahan lalu kembali menolehkan wajah pada Renaldo, “nggak usah deh, makasih banyak karena kamu udah baik banget sama aku!” jawab Nadia menolak dengan halus.
Mana mungkin dia mau menerima tawaran dari orang yang baru saja dikenalnya hingga mengantarnya pulang ke rumah, apalagi Nadia tidak ingin membuat sang Paman merasa kepikiran sebab diantar pulang oleh cowok yang tidak dikenal sama Bagas.
“Lo takut kalo gue bakal macam-macam ama lo, ya? Gue gak mungkin ngelakuin hal buruk ama lo, kita kan satu sekolah, masa gue berani berbuat yang enggak-enggak ama lo! Sekarang lo kirim pesan aja ama Om lo, bilang ama dia kalau ketua kelas yang nganter lo pulang ke rumah!” pinta Renaldo dengan sedikit memaksa, memberikan argumentasinya sendiri dengan dalih ingin membantu Nadia.
Gadis itu terlihat kikuk karena sebenarnya Nadia sendiri belum tau nama daerah kecil tempat tinggalnya bersama Bagas.
“Beneran gak usah deh, aku mau nunggu om Bagas aja,” jawab Nadia merasa sedikit tak enak hati karena dia tau jika sang ketua kelas tulus ingin membantunya.
‘Bagas …? Kenapa nama om Nadia sama persis dengan nama asisten pribadi bang Ferdi, ya?’ batin Renaldo sedikit berpikir tapi cowok itu berusaha mengenyahkan pikirannya tentang Bagas yang dimaksud merupakan orang yang sama.
Namanya juga usaha tentu saja cowok itu melakukan segala cara yang baik agar Nadia mau dibujuknya untuk pulang bersama. Sayangnya Nadia tetap kekeh ingin menunggu sang paman.
“Maaf, ya, Ketua … aku nggak berani. Kamu duluan aja pulang, nggak apa kok, lagian kalau nanti om ku liat aku berdua sama cowok takutnya beliau malah salah paham,” tolak Nadia lagi memberi alasan.
“Ya sudah kalau lo maunya kayak gitu, jadi gue pulang duluan!” ucap Renaldo berpamitan dengan sedikit menepuk pelan pundak Nadia.
Sayangnya Renaldo tidak benar-benar pulang duluan meninggalkan Nadia seorang diri di dalam kelas, cowok itu hanya pergi ke kelas sebelah. Renaldo meletakkan satu kursi di atas meja agar bisa melihat ke arah luar untuk memantau kapan cewek itu bakalan keluar dari lokal dan ingin mengikutinya hanya sekedar memastikan, jika Bagas yang menjadi pamannya Nadia bukanlah Bagas sang asisten pribadi kakaknya.
Sementara itu di tempat yang berbeda, Bagas masih berada di kantor dengan Ferdi yang terlihat sudah mulai bersiap untuk pergi bertemu klien. Ferdi sebenarnya mengetahui jika keponakannya Bagas sekolah di tempat yang sama dengan adiknya – Renaldo tetapi pria itu tidak mau mengatakan pada Bagas, jika adik kandungnya sebenarnya bersekolah di tempat yang sama bersama Nadia.
Entah apa tujuan Ferdi melakukan semua itu karena seharusnya CEO itu bisa menyuruh sang adik untuk menjaga Nadia selama sekolah di tempat yang sama dengan Renaldo, tapi nyatanya Ferdi hanya diam tanpa memberitahukannya pada Bagas sang asisten. Ketika mereka sudah berada di dalam mobil, Ferdi yang duduk di belakang sengaja memancing dengan bertanya pada Bagas.
__ADS_1
“Ponakan lo jam berapa pulang sekolah?” tanya Ferdi berbasa-basi, padahal dia sudah tahu persis jadwal adiknya setiap pulang sekolah karena ketika remaja itu terlambat pulang ke rumah, sudah pasti motor kesayangan Renaldo akan disita oleh sang papa.
“Sebenarnya Nadia sudah pulang beberapa menit yang lalu, Bo tapi saya sudah mengirim pesan agar dia menunggu sebentar. Nanti saya akan langsung menjemput Nadia setelah saya mengantarkan Anda bertemu dengan klien,” jawab Bagas dengan tetap fokus mengendarai mobilnya ke arah tempat meeting yang sudah disetujui bersama klien.
“Loh, kalua gitu ngapain malah ke tempat meeting dulu. Ingat, Gas, ponakan lo itu seorang perempuan, nggak baik kalau ditinggal lama-lama sendirian di sekolah yang sudah pasti sekarang telah sepi karena semua murid sudah pada pulang. Kita berbalik arah saja dan jemput dulu keponakan lo itu, baru ntar lo mengantarkan gue ke tempat meeting!” pinta Ferdi tanpa menoleh.
Pria matang itu tentu saja merasa sangat senang jika Bagas menuruti perintahnya kali ini untuk menjemput Nadia sampai ke sekolah, Jika perlu dirinya bersedia membatalkan meeting agar bisa lebih dekat dengan keponakan sahabatnya itu.
“Tapi bos, nanti anda bisa terlambat untuk menghadiri meetingnya,” sergah Bagas tidak enak hati karena dia tidak ingin atasannya itu menjadi terlambat untuk bertemu klien hanya gara-gara menjemput keponakannya.
“Di sini gue yang mereka butuhin, Jadi kalau mereka ingin bekerja sama dengan perusahaan Singgalang Group maka mereka harus bersabar untuk menunggu sebentar! Sekarang kita balik arah dan jemput Nadia terlebih dahulu lalu kamu antarkan pulang barulah kita ke tempat meeting!” lanjut Ferdi memberikan perintah yang tidak mampu diganggu gugat lagi sama asistennya.
“Baik, Bos, terima kasih atas pengertian anda!” ucap Bagas dengan menyunggingkan senyum lewat kaca spion bagian dalam, melihat ke arah Ferdi yang duduk asyik memainkan ponselnya.
“Lo kayak orang lain aja ama gue, padahal sekarang kan tinggal kita berdua doang di dalam mobil, jadi nyantai aja lah nggak usah formal begitu ngomongnya!” perintah Ferdi lagi dengan tetap bermain ponsel.
“Maaf, tapi sekarang masih dalam suasana jam kerja, Bos. Saya hanya tidak mau melupakan tugas saya sebagai asisten pribadi anda, apalagi nanti malah jadi terbiasa dan lupa akan waktu jam kerja. Lagian sebentar lagi akan bertemu dengan Nadia, jadi saya tidak ingin keponakan saya itu menilai kedekatan kita terlalu berlebihan hingga dia juga kurang menghormati Anda sebagai pimpinan saya,” sahut Bagas dengan elegan.
Bagas mengakui sifat Ferdi sangat peduli terhadapnya dan juga Nadia karena memang Ferdi merupakan orang pertama yang pernah diceritakan Bagas ketika ibunya Nadia sudah mulai sakit-sakitan saat berada di kampung. Mungkin itu juga lah yang membuat padi merasa begitu perhatian terhadap keponakannya – seperti itulah pikiran seorang Bagas terhadap atasannya yang sangat baik terhadap dirinya dan juga Nadia.
“Serah lo dah! Yang penting selagi kita cuman berdua doang, gue kagak perlu lo hormatin kayak seorang atasan segala, kita ini sahabatan bukan sehari dua hari atau sejam dua jam … tapi kita temenan udah sampai karatan saking lamanya hahaha!” Ferdi menyimpan ponsel yang tadi sempat dimainkannya dan memasukkan benda pipih itu ke dalam saku.
“Nanti suruh keponakan lo itu duduk di belakang bareng gue, ya! Gue ada perlu sesuatu sama ponakan lo itu!” titahnya membuat dahi Bagas langsung berkerut heran.
'Ngapain Ferdi mau duduk dekat Nadia segala?' batin Bagas tidak mengerti.
__ADS_1