
Ferdi kembali ke apartemen setelah mobilnya dibawa pulang sama Kevin, pria itu mengajak sang asisten untuk menginap tapi Kevin menolaknya dengan alasan masih ada yang harus dikerjakannya.
Setelah kepergian Kevin, Ferdi pun langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dirinya merasa jauh lebih tenang setelah tubuhnya diguyur air dingin. Pikirannya kembali teringat akan kelebat pernyataan Nadia yang mengatakan kalau gadis itu punya janji dengan cowok bernama Pras.
“Kenapa juga sih cowok itu harus datang saat kami baru mau bahagia? Kenapa nasib asmaraku sangat payah? Apa kami memang akan berjodoh atau malah bakal dipisahkan karena kedatangan bocah tengil itu?” Ferdi menggeleng cepat, merasa tidak sanggup kalau sampai Nadia benar-benar meninggalkannya dingin cowok yang jauh lebih muda dan juga lebih tampan dari dirinya.
Tidak, seorang Ferdi tak akan pernah membiarkan sesuatu yang sudah dipatenkan sebagai miliknya diambil paksa oleh orang lain, itu sangat pantang dalam prinsipnya karena dia pasti akan mempertahankan kepunyaannya.
Ferdi keluar dari dalam kamar mandi, mengganti pakaian lalu menyisir rambutnya dan menghempaskan tubuh di atas ranjang King size yang begitu nyaman untuk ditiduri. Rasanya jiwa Ferdi hari ini benar-benar sangat lelah. Bukan hanya karena pengusiran orang tuanya tetapi lebih pada hatinya yang merasa was-was atas kedatangan Prasetyo dari desa yang sama dengan Nadia.
__ADS_1
Merasa hatinya masih saja dilanda kebimbangan dan juga ketakutan yang tak jelas, pria itu pun akhirnya meraih ponsel untuk meredakan rasa bimbang yang melanda jiwanya.
Panggilan pertama diabaikan hingga nada dering sampai berhenti. Ferdi kembali mengulang untuk menghubungi Nadia tapi panggilan yang dilakukannya tetap sama, teleponnya masuk tapi sayang masih tak diangkat.
“Kamu kemana sih, Nadia? Apa jangan-jangan setelah aku pulang kamu bertemu dengan pemuda itu?” Ferdi memegangi pangkal hidungnya, merasa kepala mulai berdenyut akibat kecemasan yang dibuat sendiri. Seharusnya dia mulai bisa belajar untuk mempercayai gadis yang memang sudah dilamarnya untuk menjadi istri.
[Halo Mas, assalamu’alaikum, apa Mas Ferdi udah sampai di apartemen?]
Ferdi langsung menyunggingkan senyum saat sapaan dari perempuan yang sudah dipatenkan akan menjadi istri satu-satunya di dunia ini, terdengar begitu ramah dan lembut. Hatinya langsung lega, hilang sudah prasangka yang tadi hinggap di dalam kepalanya.
__ADS_1
“Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh. Ini aku sengaja menelpon mu untuk memberitahukan kalau aku baru aja selesai mandi. Kok lama baru angkat teleponnya? Hampir saja aku datang lagi ke tempatmu karena cemas,” lanjutnya jujur.
Nadia tergelak, [Aku telat ngangkat teleponmu karena baru selesai shalat isya] Gadis itu memutar bola matanya malas, walau Ferdi sama sekali tak bisa melihatnya tetapi Nadia benar-benar merasa sifat lelaki dewasa itu sangat tak sesuai dengan karakternya selama ini, sungguh kekanak-kanakan.
[Kok mau datang ke sini lagi sih? Bukannya kita baru bertemu? Bahkan belum nyampe satu jam yang lalu, jangan kekanak-kanakan deh, ini benar-benar bukan sifat Mas Ferdi yang aku kenal]
Ferdi hanya terkekeh kecil mendengar pengakuan Nadia ketika menilai sifatnya saat ini, apa memang dirinya sekarang benar-benar sedang mengalami yang namanya demam bucin? Pria itu pun kembali tertawa sendiri hingga membuat Nadia di seberang sana merasa bingung dengan dahi yang berkerut karena tak mengerti entah apa yang sedang dipikirkan laki-laki itu sekarang.
“Apa mungkin kalau jatuh cinta bisa membuat orang berubah jadi kekanakan? Apa menurutmu aku ini sedang demam cinta?”
__ADS_1