
“Kamu mau kan, menikah dengan pria arogan dan kaku sepertiku? Pria yang tak punya rasa cinta pada orang lain tapi sedang tergila-gila padamu ini? Aku janji akan selalu membuatmu tersenyum dan bahagia.” Ferdi turun dari bibir ranjang dan berlutut di hadapan Nadia sembari tangannya tak mau melepas genggaman jemari sang gadis.
“Mas, aku ini masih sekolah dan aku belum pernah punya rasa padamu,” sahutnya jujur.
Memang gadis itu sama sekali belum berpikir untuk menikah di usia muda tapi dirinya tak menampik ketampanan dan juga pesona seorang CEO Singgalang.
“Apa itu artinya aku sudah ditolak dan harus bersiap untuk patah hati?” tanya Ferdi dengan raut wajah kecewa.
Belum apa-apa saja dirinya sudah merasa minder duluan karena memang laki-laki itu merasa kurang pantas hanya dari segi umurnya yang sudah terlalu tua, tetapi untuk urusan yang lainnya dia masih merasa sangat lebih di atas rata-rata.
“Beri aku waktu, Nadia akan menjawabnya saat usiaku 17 tahun karena kata Om Bagas, aku gak boleh pacaran sebelum beranjak usia dewasa.” Nadia tersenyum dengan jawaban menggantung status yang diharapkan Ferdi.
Gadis itu sebenarnya bisa saja langsung menolak atau menerima Ferdi saat itu juga mengingat dirinya sekarang sudah tidak punya penopang hidup setelah Bagas meninggalkannya sendirian di dunia ini. Namun, dirinya tidak ingin tergesa dalam memutuskan sesuatu yang bisa saja membuatnya menyesal seumur hidup.
“Baiklah, aku akan menunggu jawaban darimu dua bulan lagi. Aku harap kamu tidak membuat ku kecewa. Oh ya, apa yang bakal kamu lakukan setelah ini?” lanjut Ferdi bertanya.
Sebenarnya Ferdi ingin sekali agar Nadia menerima tawarannya untuk bekerja di Singgalan Group tapi sayangnya waktu itu Nadia pernah menolaknya karena tidak ingin mendapatkan gosip dari karyawan lain. Apalagi waktu itu mereka masih menjalani hubungan pura-pura pacaran tapi entahlah untuk sekarang karena Nadia sepertinya akan mengurung diri untuk beberapa saat ke depannya.
“Sebenarnya kemarin itu aku kan sudah bilang mau bekerja tapi kalau kerja sama Mas Ferdi kayaknya aku masih dengan jawaban yang sama, aku gak bisa. Tolong hargai keputusan Nadia ya, Mas,” sahutnya pelan.
Sungguh kalau bukan untuk menambah biaya perawatan Sampangan yang waktu itu terbaring di rumah sakit, tentu saja uang sebesar gaji yang diberikan Ferdi sebagai pacar pura-puranya sangatlah cukup untuk hidupnya sendiri bahkan bisa berlebih kalau dia pindah sekolah SMA Tunas Bangsa.
__ADS_1
“Ya sudah kalau kamu belum siap, aku keluar dulu. Mandilah dan tidur!” titahnya yang hanya diangguki Nadia dengan patuh.
Ferdi berlalu keluar dari kamar Nadia. Pria itu mencari keberadaan bi Upi. Dia ingin mengatakan sesuatu agar pelayan yang sudah dipercaya sahabatnya tetap bekerja di rumah Bagas untuk menemani Nadia.
“Nah ini Bibi yang kucari,” ujarnya saat menemukan sang pelayan di ruang tengah sedang menata minuman untuk teman-temannya yang masih betah di rumah Bagas.
Mereka memang sudah sepakat akan menginap malam ini di rumah Bagas bersama-sama, selain mau ikut meramaikan pengajian untuk almarhum, juga ingin membicarakan sesuatu berkaitan kehidupan Nadia kedepannya karena sama-sama merasa punya tanggung jawab sebagai para sahabat dari Bagas.
“Ada apa ya, Den Ferdi? Kok lagi nyari bibi? Apa Non Nadia baik-baik saja?” Dahi wanita paruh baya itu mengernyit.
Bibi Upi memang melihat kalau akhir-akhir ini gadis itu sedikit pucat karena sering begadang menjaga pamannya di rumah sakit hingga kurang istirahat, belum lagi siangnya dia harus belajar ke sekolah.
“Bibi duduk dulu deh di sini,” pinta Farel yang langsung diikuti sang pelayan.
“Begini, Bi Upi … mengingat kalau Bagas sudah tidak ada bersama Nadia, jadi sebaiknya Bibi tet–” Belum sempat Ferdi menyelesaikan perkataannya, sang pelayan langsung saja menyela.
“Tolong jangan pecat bibi, Den. Bibi gak masalah kalau ikut sama non Nadia tanpa digaji karena Den Bagas itu sudah bibi anggap seperti anak sendiri. Tolong biarkan bibi tetap tinggal sama Non Nadia, karena bibi sudah jatuh sayang sama ponakannya den Bagas. Kalau bisa biar Nadia mulai sekarang jadi tanggung jawab bibi saja sebab selama ini Den Bagas udah sangat baik sama bibi. Lagian bibi gak mungkin ninggalin anak yatim piatu sendirian di rumah ini,” jelasnya panjang lebar tanpa tau kenapa seluruh teman dekat Bagas berkumpul dan mengajaknya bicara.
Kevin terlihat menganggukkan kepalanya, merasa tidak pernah menyangka jika pembantu sahabatnya itu bisa setia sampai mau berkorban tidak digaji sama sekali asalkan tetap tinggal dengan Nadia.
“Bibi juga akan mencari kerja di luar biar Non Nadia tetap bisa sekolah tapi mungkin bibi akan menyuruh nya pindah ke sekolah yang negeri saja biar biayanya agak murah,” lanjutnya berusaha meyakinkan mereka agar mau memberi izin mengasuh Nadia.
__ADS_1
“Terimakasih banyak ya, Bi. Sayangnya yang mau kami bicarakan itu bukan masalah ingin memecat Bibi tapi mau minta tolong agar Bibi tetap menjaga Nadia hingga dewasa nanti. Tetaplah kerja di rumah ini karena kami yang akan membayarkan gaji Bibi,” timpal Endro dengan senyuman hangat.
“Benar, Bi,” timpal Kevin.
“Eh, gak usah digaji, Den. Bibi dibolehin tinggal sama Non Nadia saja bibi sudah senang. Biarkan bibi yang jadi pengganti Den Bagas mengurus Non Nadia,” pinta Bibi Upi dengan penuh harap.
“Bibi jangan khawatir sama biaya hidup Nadia karena saya yang akan mengambil tanggung jawab Bagas untuk membiayai Nadia ke depannya,” tegas Ferdi meyakinkan pelayan itu hingga membuat teman-temannya yang lain jadi saling pandang.
‘Karena aku akan segera menikahinya untuk menjaga Nadia sesuai dengan wasiat Bagas, walau tanpa surat itu pun aku memang sudah jatuh cinta sama Nadia,’ lanjutnya di dalam hati.
‘Ini Ferdi maksudnya apa coba?’ tanya Rafael di dalam hati.
‘Ferdi kok jadi begini sih? Apa dia suka sama Nadia? Atau mungkin merasa bersalah karena Bagas meninggal karena pulang setelah lembur malam,’ batin Farel menatap wajah Ferdi mencari kebenaran dugaannya.
Bibi Upi menatap Ferdi tak berkedip, “Apa benar, Den? Jangan bilang kalau apa yang dikatakan sama Den Bagas waktu itu emang beneran?” Bibi Upi berusaha melihat keseriusan yang ada di mata Ferdi.
“Emangnya apa yang dikatakan sama almarhum, Bi?” desak Farel merasa penasaran.
Lelaki itu memang sedikit curiga dengan sikap Ferdi yang sedikit berbeda dengan mereka sebagai sahabat Bagas karena Ferdi seolah selalu berusaha ingin menjadi pahlawan di hadapan Nadia. Bahkan CEO itu tak segan-segan mengeluarkan begitu banyak biaya untuk membantu Bagas agar bisa bangun dari konya tapi sayang Tuhan telah berkehendak lain.
“Den Bagas pernah bilang kalau Den Ferdi sebenarnya suk–”
__ADS_1
“Bibi Upi!!”