
Kevin menggerutu di dalam mobil karena Ferdi memintanya untuk kembali menjadi sopir sebab pria itu ingin selalu berada di samping Nadia, kalau bisa rasanya mantan CEO tersebut ingin sekali menghabiskan malam bersama gadis belia yang berasal dari desa itu. Ditambah lagi hatinya benar-benar terasa sangat panas ketika melihat seorang pemuda yang jauh lebih tampan darinya. Seorang Pemuda bernama Prasetyo berasal dari desa yang sama dengan Nadia, apa jangan-jangan pemuda itu merupakan saingan cintanya? Ingin sekali rasanya Ferdi menaklukkan tubuh Nadia malam ini juga agar bisa dimiliki seutuhnya tetapi dia sangat yakin kalau perempuan itu tak akan pernah bisa disentuh sebelum adanya ikatan halal di antara mereka berdua, karena Nadia bukanlah gadis murahan yang mudah memberikan tubuhnya pada orang yang belum halal baginya.
“Kita sudah sampai di rumah Nadia, apa bos ingin turun atau kita mau ke mana lagi nih? Pulang ke rumah orang tuamu atau ke apartemen?” Kevin melihat raut wajah malas sang atasan lewat kaca di dalam mobil dan itu membuat lelaki yang berada di belakang kemudi menyunggingkan senyum merasa gemas.
“Makasih ya Om Kevin. Aku turun dulu kalian, lanjut aja pulang, assalamualaikum,” ujar Nadia sembari membuka pintu mobil tetapi tangannya langsung dihentikan sama Ferdi.
__ADS_1
“Tunggu dulu!” seru Ferdi, sementara Kevin tentu saja langsung menjawab salam yang diucapkan Nadia barusan, “Waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh, semoga mimpi yang indah Nadia dan kamu nggak ketemu sama om-om genit di dalam mimpimu hehehe.”
Kevin terkekeh geli melihat wajah Ferdi yang langsung menatap tajam ke arahnya tetapi asisten pribadi yang menggantikan posisi Bags itu cuek bebek seolah tak melihat wajah yang ditekuk milik sang bos.
“Ada apa lagi sih Mas? Kan aku udah menerima lamaranmu, juga udah mau menjadi istrimu walaupun belum tamat SMA asalkan sesuai dengan perjanjian kita. Aku nggak mau pernikahan kita diketahui oleh siapapun juga kecuali hanya teman-temanmu dan Bibi Upi sampai tamat SMA nanti!” Gadis itu menoleh dan menatap Ferdi, merasa semuanya sudah clear tetapi entah kenapa lelaki Ini masih saja menahannya di dalam mobil.
__ADS_1
Nadia sengaja diam tanpa memberikan jawaban seolah sedang menikmati raut wajah Ferdi yang terkesan malah begitu menggemaskan karena gadis itu melihat sisi lain dari rasa cemburu seorang mantan CEO Singgalang Group.
“Bukankah tadi aku udah ngasih tahu Mas ya, kalau Kak Prasetyo itu kakak kelasku waktu di SMA dan –” Nadia mengalihkan wajah ke arah depan, menghindar untuk menatap wajah Ferdi karena ada sesuatu yang tak mungkin didustakannya sebab antara dirinya dan Prasetyo ada janji yang belum terpenuhi tetapi semuanya buyar karena sang Paman meninggal dunia. Di saat yang sama, Ferdi tiba-tiba saja datang menjadi malaikat tak bersayap untuk hidupnya hingga membuat Gadis itu merasa berhutang Budi.
“Dan apa, Nadia? Apa masih ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku?” Ferdi meraih dagu sang gadis agar menoleh padanya.
__ADS_1
“Dan Kami sebenarnya sudah berjanji akan menjadi sepasang kekasih apabila dia lulus menjadi salah satu mahasiswa undangan di Universitas Jakarta agar bisa bertemu denganku,” jawab Nadia dengan membalas tatapan Ferdi yang terlihat langsung berubah.
“Jadi … itu artinya setelah dia datang kamu akan menjadi kekasihnya?”