
Ketiga orang beda usia yang sedang menyantap makan di sore hari itu terlihat hanya diam tanpa ada yang bicara sepatah kata pun, termasuk Nadia yang hanya fokus pada piring di depannya, serta sekali-kali menyeruput jus yang disediakan restoran itu untuknya, ditambah segelas air putih kesukaannya.
Gadis itu merasa dirinya tidak diperlukan untuk bicara, kecuali kalau nanti diminta oleh sang Paman atau pun bos dari pamannya itu. Apa yang terpikirkan oleh Nadia sangat berbanding terbalik dengan apa yang ada di dalam benak seorang Ferdi, pria itu sibuk untuk memikirkan apakah dirinya pantas mengajak Nadia melakukan sebuah hubungan kerjasama yang bersifat mutualisme dengan arti kata – saling menguntungkan.
Ferdi adalah orang yang pertama kali selesai makan sore itu, dirinya mengambil sehelai tisu untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang melekat di bibirnya. Memandang sekilas wajah Bagas yang terlihat fokus pada piring di depannya yang juga baru menyelesaikan makannya. Saat Ferdi memandang gadis yang persis duduk di hadapannya, terlihat Nadia tanpa rasa malu sedikit pun hadir apa adanya, mengunyah dengan santai semua makanan yang ada di dalam mulutnya dan melihat ke piring Gadis itu masih tersisa sekitar seperempat isi piring lagi.
‘Gadis ini memang masih terlalu polos untuk tinggal di kota Jakarta bahkan dengan wajah tampanku saja dia sama sekali tidak tertarik dan tetap melanjutkan makan sesuai kebiasaannya tanpa malu-malu sedikitpun! Cara makannya sungguh terlihat menggemaskan sekali, astaga … kenapa aku benar-benar susah sekali untuk tidak menatap wajahnya?’ Pergi terlihat mengkilingkan kepalanya perlahan, beruntung nah dia dan Bagas sama sekali tidak menyadari apa yang dilakukan pria itu.
“Oh ya Bagas, untuk kegiatan minggu depan yang bakal diadakan di daerah Papua, apakah kamu sudah siap untuk berangkat sendirian ke sana?” Ferdi mulai membuka percakapan.
Nadia yang mendengar pertanyaan atasan pamannya itu sontak tanpa sengaja menjatuhkan sendok dan garpu dari tangannya sehingga memperdengarkan bunyi dentingan peraduan sendok garpu dengan piring. Gadis itu langsung menoleh pada sang Paman dengan tatapan tajam penuh tanda tanya.
“Om Bagas mau pergi dinas ke Papua? Kok nggak pernah bilang sama Nadia sih? Nadia kan belum terbiasa tinggal di Jakarta, Om … terus masa mau langsung ditinggal gitu aja sih?” protes gadis itu dengan wajah masam memperlihatkan muka yang cemberut.
Bagaimana Nadia tidak shock ketika mendengar pertanyaan Ferdi terhadap pamannya karena itu tentu saja bakal ada sangkut paut dengan dirinya yang bakal ditinggal sang Paman sendirian di rumah, walaupun rumah itu tidak besar dan juga ditemani seorang pelayan paruh baya. Namun, tetap saja dirinya merasa ketakutan ditinggal sang Paman, apalagi kalau nanti terjadi sesuatu hal buruk terhadap dirinya ataupun terhadap Bagas itu sendiri.
__ADS_1
Bahkan sudut kelopak mata gadis yang berasal dari desa itu sudah mulai berkaca-kaca karena merasa sedih akan ditinggal pergi oleh sang paman, orang yang notabene hanya tinggal keluarga satu-satunya yang dia punya.
“Nadia, kamu tenang dulu dong, Sayang! Om minta kamu mulai belajar jadi dewasa mulai dari sekarang, biasakan dirimu bisa melakukan segalanya sendiri walaupun ada Bibi di rumah, tapi om akan terus mengawasimu dan nanti biar Om minta tolong pada salah seorang teman dekat om untuk mengantar jemputmu ke sekolah,” tutur Bagas berkata lembut pada keponakannya karena melihat kedua manik hitam gadis itu sudah mulai membendung air mata yang hendak turun melewati pipi.
Nadia menggelengkan kepala seiring wajahnya yang menunduk. Ada gurat kesedihan dan juga ketakutan bercampur jadi satu yang terpancar dari rona mukanya, dan Ferdi bisa membacanya saat itu juga.
“Kalau begini saja bagaimana, biar saya yang bertanggung jawab dengan keponakanmu ini selama kamu bertugas di daerah Papua. Saya berjanji akan menjaga Nadia dengan baik. Jadi dengan begini kamu bisa tetap pergi ke Papua menjalankan tugas dari perusahaan dan saya akan tetap bisa menemani mama berobat serta sekalian menjaga keponakanmu,” beber Ferdi berusaha memberikan ide yang ada di dalam kepalanya karena sebenarnya ide itu sudah tertanam begitu apik di dalam otaknya.
Memang awalnya Ferdi tidak pernah punya rencana sedikit pun menggunakan Nadia untuk dimanfaatkannya sebagai ajang menggagalkan acara pertunangan dirinya dengan Firda yang sudah dijodohkan oleh kedua orang tuanya, terutama sang papa. Perjodohan yang paling dibenci oleh Ferdi begitu pun dengan Renaldo karena kedua adik kakak itu akan menolak tegas apapun yang namanya perjodohan, apalagi dilandasi oleh kata hubungan mutualisme kerjasama perusahaan agar saling menguntungkan.
“Tapi bos, bukankah anda sangat sibuk untuk mengurus keluarga sendiri dan saya tidak mau mengganggu aktivitas anda selama memberikan waktu untuk nyonya besar. Lagian saya sudah minta tolong sama Farel agar dia mau mengantar jemput Nadia selama saya dinas luar kota, dan dia juga sudah menyanggupinya,” terang Bagas dengan sopan karena tidak mungkin dirinya merepotkan seorang pimpinan hanya untuk mengantar jemput keponakannya selama ditinggal bekerja keluar kota. Bahkan terpikirkan sedikit saja tidak pernah ada di dalam kepala Bagas untuk meminta bantuan Atasannya itu, tapi kenapa sepertinya Ferdi ingin sekali mengambil dan mengemban tugasnya sebagai seorang paman selama dirinya dinas ke daerah Papua.
“Saya bisa kok, kamu hubungi Farel dan batalkan permintaan tolongmu yang konyol itu! Biar saya yang menjaga keponakanmu dan juga mengantar jemput Nadia selama kamu pergi, kamu nggak usah khawatir karena saya bisa bertanggung jawab dengan sepenuh hati walau apapun nanti yang akan terjadi!” sela Ferdi malah menyuruh Bagas untuk membatalkan janjinya minta tolong sama Farel.
Bagas menoleh pada Nadia, melihat gadis itu sama sekali tidak menggubris ataupun menyela perkataan dirinya bersama Ferdi. Tentu saja Nadia tidak berani karena gadis itu tidak mungkin memaksakan keinginannya terhadap sang Paman, apalagi pamannya saat ini sedang berbicara dengan bos yang menggaji Bagas setiap bulan, jadi mana berani seorang Nadia yang berasal dari kampung menyela pembicaraan orang dewasa seperti mereka.
__ADS_1
“Apa Bos yakin kalau Nadia nanti tidak akan merepotkan Anda?” tanya Bagas untuk meyakinkannya karena semua itu terasa sangat tidak mungkin baginya. Mana ada seorang atasan mau membantu tugasnya sebagai bawahan yang bakal meninggalkan gadis kecil selama dirinya pergi bekerja?
“Gini aja deh, Gas, gue udah capek dengerin lo ngomong formal dari tadi … toh saat ini cuman ada gue, lo dan juga ponakan lo ini! Gue janji demi Tuhan bakal jagain ponakanmu ini sampe lo balik ke Jakarta. Kapan perlu kalau nanti ada masalah yang sangat besar dan mengharuskan gue berada di depan demi melindungi nyawa Nadia, maka Gue bakal ngelakuinnya! Udah puas lo dengernya sekarang? Ribet amat jadi orang, tinggal berangkat pergi aja ke Papua selama seminggu, terus balik ke sini, kan lo bisa ketemu lagi sama ponakan lo ini! Gue juga nggak bakalan ngejual keponakan lo kok!” cecar Ferdi sedikit menaikkan nada suaranya.
Bagas benar-benar merasa sangat heran dengan atensi atasannya saat ini, karena yang mereka bahas sekarang adalah keponakan kandungannya yang bakal ditinggalkan, tapi kenapa CEO Singgalang Group itu seperti orang yang sedang marah tanpa alasan terhadapnya. Bukankah wajar jika Bagas meminta tolong pada salah seorang teman yang dia percaya? Apa jangan-jangan atasannya itu cemburu karena punya rasa terhadap keponakannya? Rasanya tidak mungkin.
‘Nggak mungkin kan, kalau Ferdi suka sama Nadia. Bukankah kalau itu beneran terjadi akan terlihat seperti seorang Pedofil? Astaghfirullahal ’adziim, kenapa aku sampai berpikiran jelek seperti ini sama sahabat baikku sendiri, apalagi Ferdi selama ini benar-benar menjaga dirinya dari makhluk yang namanya perempuan. Sialnya wanita bernama Firda itu memang tidak punya akhlak yang baik sedikit pun! Apa jangan-jangan Ferdi sengaja ingin mendekati Nadia agar Firda bisa menjauh dan menggagalkan acara tunangan mereka dengan dalih kalau Ferdi sudah punya kekasih? Masa Ferdi menjatuhkan pilihan sama Nadia sih? Keponakanku masih terlalu kecil untuk ukuran seorang Ferdi, bukankah keluarga kami bagai langit dan bumi dengan keluarga Singgalan Group?’ gumam Bagas di dalam hati penuh tanya, tetapi firasatnya mengatakan jika apa yang dia pikirkan itu sudah pasti benar sebab Ferdi benar-benar sangat membenci perjodohan yang dilakukan orang tuanya.
“Kalau bos emang udah ngomong kayak gitu, Gue malah seneng banget nitipin Nadia sama Bos! Tapi ingat, ponakan gue jangan diapa-apain dia masih kecil, masih polos umurnya aja masih belasan tahun jadi Bos jangan pernah macam-macam sama ponakan gue!” pungkas Bagas akhirnya tak bisa menolak tawaran pertolongan dari sahabat baiknya yang juga sekaligus sebagai atasannya sendiri.
‘Ya Allah, akhirnya aku malah seperti sebuah barang yang sangat berharga dititipkan pada orang lain sama Pamanku sendiri demi menjaga hidupku agar tetap baik-baik saja. Hamba memohon kepada Mu ya Allah, lindungilah Om Bagas dari segala marabahaya hingga Pamanku kembali ke sisiku dan tak akan pernah dipisahkan lagi, Aamiin,’ gumam Nadia berdo’a penuh harap kepada yang maha kuasa agar senantiasa menjaga pamannya di manapun berada.
“Berarti masalah lo yang bakalan pergi dinas luar daerah sudah tak ada lagi, tinggal seminggu lagi Lo berangkat dari Jakarta terlebih dahulu ke Surabaya untuk mengambil berkas-berkas yang ada di unit sana, baru setelah itu lo naik pesawat dari sana ke Papua!” titah Ferdi yang langsung diangguki asisten pribadinya itu.
“Maaf ya Om Ferdi, kenapa Om nggak menyuruh orang lain saja untuk menggantikan Pamanku pergi ke Papua?”
__ADS_1