
Suasana haru biru benar-benar sangat terasa di Rooftop hotel yang menjadi saksi bisu acara sakral pernikahan Nadia dan juga Ferdi. Pasangan pengantin baru yang hanya menginginkan pernikahan sederhana itu benar-benar terlihat sumringah bahagia, bahkan semua teman-teman Ferdi yang berada dalam satu grup chat para sahabat Jomblo itu, saling bergantian mengucapkan kata selamat buat kedua mempelai.
"Ini hadiah dari gue mudah-mudahan lo suka tapi satu permintaan gue, kalau kalian berdua benar-benar pergi berbulan madu gue harap tunda dulu untuk mendapatkan momongan karena kasihan aja Nadia belum tamat SMA, " bisik Rafael di dekat telinga Ferdi membuat mempelai laki-laki yang mengenakan tuxedo warna hitam itu, menjadikan jari telunjuknya untuk mendorong dahi Rafael yang memberikan godaan garing tapi mampu membuat hatinya semakin berdebar.
"Sialan omongan lo, tanpa dibilangin gue juga tahu apa yang mesti gue lakukan buat bini gue. Lagian gue sangat menyayangi Nadia dan nggak mungkin bikin dia sengsara sementara dia merupakan siswa yang sangat hebat, kalau perlu gue bakal nunda momongan sampai Nadia tamat kuliah minimal sarjana terlebih dahulu!" jawab Ferdi setelah menarik tangannya yang hanya ditimpali Rafael dengan kekehan.
Nadia yang mendengar terpaksa memalingkan wajah merasa tidak suka atau lebih tepatnya merasa malu dengan perbincangan dua sahabat baik itu yang tidak tahu tempat mengobrolkan hal yang tidak seharusnya, walau mungkin saat ini statusnya sudah menjadi seorang istri. Namun, sepertinya perbincangan yang mereka bicarakan benar-benar belum pantas ia dengarkan, membuat Gadis itu merasa begitu malu seakan-akan seluruh wajahnya ikut terasa panas.
"Selamat ya Nadia, kalau sampai laki lo ini macam-macam, tinggal kau tendang aja, terus biar Bang Rafael yang menjaga Nadia," ucap Rafael dengan sengaja mengedipkan sebelah mata menggoda Nadia, tetapi sayang laki-laki yang berdiri di sebelah Nadia dengan cepat memukul pergelangan tangan Rafael yang terlalu lama berjabatan tangan untuk memberikan ucapan selamat terhadap istrinya.
__ADS_1
"Lo kira bini gue kayak mantan lo? Ingat ya baik-baik, Nadia ini nggak bakalan pernah ninggalin gue karena kami itu saling cinta dan berjanji sehidup semati bukan cuman di mulut doang. Emangnya kayak lo pacaran sama si Linda, lo nggak punya uang dia udah terbang melayang sama pria lain hahaha!" ledek Ferdi begitu puas melihat wajah Rafael langsung saja terlihat masam, mengingat kasus terakhir percintaannya yang ditinggal pergi gara-gara perempuan itu mengetahui Rafael dipecat. Padahal itu hanya sekedar ingin mengetes pacarnya saja yang ternyata takut hidup dengan laki-laki miskin.
"Kalau kalian berdua ngomong terus, kapan giliran gue nih ngucapin selamat ama ngasih doa restu buat Nadia, kalau Ferdi kagak perlu dikasih doa segala karena kayaknya dia bakalan dapat jabatan CEO lagi dari bokapnya tuh! Tadi gue udah sempat ngomong sama Tuan Regan, papa lo bilang, bini lo mau diboyong ke rumah dia tuh. Apa benar?" Kevin menyela perbincangan Rafael dan Ferdi yang jika dibiarkan tidak akan pernah selesai.
“Gue udah tau. Semalam papa juga udah nyuruh gue balik lagi ke perusahaan dan papa nyuruh Nadia gak usah nunda momongan karena mereka pengen cepet-cepet nimang cucu. Papa juga minta biar NAdia ikut homeschooling aja,” jujur Ferdi bercerita.
“Wadidaw, yang bener aja lo! Kasian Nadia dong kecepetan kalo langsung jadi ibu. Lo pikirin juga perasaan dia!” sambung Kevin lagi.
“Lepaskan tanganmu, Sayang! Mulai sekarang nggak boleh megang lelaki selain mas,” ucapnya dengan sengaja memegang pergelangan tangan Kevin menggunakan tenaga.
__ADS_1
“Gue udah baik-baik aja, lo lepas dong! Mau matahin tangan gue lo?” Kevin yakin kalau Ferdi pasti cemburu dan itu membuat wajahnya berbinar senang.
Kedua orang tua Ferdi terlihat sangat bahagia, begitu pun dengan bibi Upi yang selalu mengulas senyum.
Begitulah keceriaan yang terjadi di dekat pelaminan di mana sepasang pengantin itu sama sekali tidak mempertontonkan seperti dua manusia yang menjadi raja dan ratu sehari, karena memang sebenarnya acara pernikahan ini benar-benar terkesan begitu tertutup dengan hanya menghadirkan puluhan orang saja. Mereka yang datang sebagian merupakan teman bisnis Ferdi yang berada di kota Bandung, serta beberapa mitra kerja Tuan Regan yang kebetulan memberikan undangan lewat chat aplikasi warna hijau secara dadakan tadi malam. Beruntung karena nama Tuan Regan begitu disegani hingga membuat acara pesta itu terasa lumayan meriah walau tidak ada live musik yang biasanya dilakukan oleh setiap orang mengadakan pesta pernikahan karena itu semua permintaan Nadia sendiri.
"terima kasih ya Mas Ferdi karena kamu akhirnya menjadi Imamku dan terima kasih untuk semuanya! Aku akan berusaha menjadi istri sekaligus ibu yang baik untuk anak-anak kita nanti. Tentu saja sebagai seorang perempuan yang telah Mas Ferdi nikahi maka aku akan mengikuti apa saja permintaan mu selagi semua itu demi kebaikan rumah tangga kita," ucap Nadia ketika pesta kecil nan sederhana itu baru saja selesai dan sekarang mereka berdua sedang berada di salah satu kamar president Suite hotel bintang lima tempat mereka baru saja mengadakan acara sakral pernikahan.
"Akulah yang seharusnya mengucapkan terima kasih untukmu karena bersedia menikahi seorang laki-laki yang lebih pantas menjadi pamanmu seperti Bagas, dan semua takdir yang kita jalani sekarang benar-benar membuatku sangat bahagia hingga ke tulang belulangku. Ingatkan aku ketika sedang melakukan kesalahan. Mari kita menyongsong masa depan untuk kebahagiaan keluarga kecil kita berdua dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim."
__ADS_1
Begitulah akhirnya kebahagiaan itu didapatkan walau dengan begitu banyak rintangan yang dihadapi Ferdi dan Nadia, sesungguhnya takdir yang sudah digariskan dan tercatat di kitab Lauhul Mahfudz tidak akan pernah bisa ditolak oleh seorang manusia.
T A M A T