
“Ya sudah, kalau tidak ada yang mau mengaku maka saya punya cara lain untuk mengetahuinya. Kelas ini dilengkapi dengan kamera CCTV dan kalian semua juga sudah tahu, jadi siapapun orang yang diketahui melakukan perbuatan ini maka bisa saya pastikan akan saya depak dari kelas ini” ancam Ibu Maryam menakut-nakuti karena hanya dengan cara itu pelakunya bisa diketahui.
“It-itu perbuatan sa-saya, Bu.” Rina mengangkat tangannya ke atas mengaku jika dirinyalah yang barusan melemparkan bekas permen karet yang tadi selalu dikunyahnya.
"Rina … Rina, kenapa kamu melemparkan bekas permen karet dari mulutmu itu ke bangkunya Nadia? Memangnya Nadia salah apa sama kamu? Apa kamu sudah kenal dengan Nadia sebelumnya hingga memiliki dendam yang belum terbalaskan? Ingat ya, Nadia! Kamu itu seorang gadis yang cantik tapi kelakuanmu itu sangat tidak baik untuk dicontoh sama siswa lain. Saya tidak akan memberikan hukuman yang berat untukmu tapi segera minta maaf sama Nadia dan keluar dari kelas ini berjemur di lapangan upacara sampai pelajaran saya selesai! " titah Ibu Maryam menggeram marah merasa dirinya benar-benar butuh kesabaran penuh menghadapi lokal yang satu ini.
Rina berjalan mendekati Nadia, mengulurkan tangan untuk minta maaf, "Maaf ya Nadia, Gue hanya nggak suka kalau lo itu duduk dekat Nando karena Nando itu udah lama jadi gebetan gue!" terangnya jujur.
Tentu saja ucapan Rina barusan sontak membuat Nando yang masih dengan santai duduk di kursinya, tiba-tiba saja mendongak dengan wajah tidak suka.
“Gebetan apaan maksud lo? Ingat ya Rina, gue itu nggak ada rasa sama lo, bahkan seujung Kuku aja gue nggak pernah suka sama cewek yang senangnya mengolok-ngolok orang lain, apalagi lo itu nggak ada pinter-pinternya dalam belajar! Kalau mau suka sama gue, lo kudu harus masuk lima besar baru boleh ngedeketin gue!” ancam Nando yang sebenarnya sangat tahu bagaimana sifat asli Rina, sebab selama ini cewek itu hanya suka berfoya-foya menghamburkan uang orang tuanya tanpa pernah peduli bagaimana susahnya mencari uang di dalam hidup ini.
"Huuuu!" Sorak seluruh siswa dengan riuh mendengar kejujuran Rina yang tanpa tahu malu secara tidak langsung mengatakan bahwa dirinya menyukai Nando dan tidak ingin ada orang lain yang duduk di dekat cowok itu.
Rina terlihat malu sekali bahkan wajahnya sudah berubah semerah tomat yang hampir busuk, menundukkan kepala akibat sorakan teman-temannya.
"Kamu tenang aja, aku ke sekolah bukan untuk mencari cowok kok, apalagi punya niat untuk merebut cowok yang kamu suka! Aku juga sudah memaafkanmu," sahut Nadia dengan senyum tulus sembari menerima uluran tangan Rina.
__ADS_1
Rina kembali mendongakkan kepala, memberikan senyum karena tidak menyangka cewek kampung yang dianggapnya udik tersebut mau memaafkannya begitu saja tanpa ada syarat apapun juga, padahal ketika dirinya melakukan kesalahan pada salah satu teman gaulnya, Rina pasti akan dimintai pertanggungjawaban paling tidak memberikan salah satu barang yang disukai.
“Makasih karena lo udah maafin gue, tapi apa kita boleh tukeran bangku aja? Sorry, anggap aja gue lagi belajar tanggung jawab soalnya bangku lo udah ada bekas permen karet dari mulut gue,” pinta Rina semakin tidak tahu malu.
Begitulah terkadang yang terjadi sama anak muda zaman sekarang, kurang ada rasa malu setelah melakukan perbuatan tak baik tapi malah semakin percaya diri dengan kesalahan yang diperbuat. Miris!
“Aku nggak masalah juga kalau memang harus pindah ke bangku belakang kok,” jawab Nadia sembari memperbaiki letak kacamatanya.
Gadis itu meraih tas ransel sekolahnya yang ada di atas meja lalu membawanya ke bangku yang Rina tempati sebelumnya. Bangku yang berada persis di barisan depan Renaldo.
‘Wow … Nadia malah duduk depan gue nih, hehehe. Bisa gue deketin gak ya?’ tanya Rei di dalam hati, mengharap sesuatu yang selama ini belum pernah muncul di dalam jiwa mudanya. Apa Renaldo sedang jatuh cinta? Entahlah, yang penting cowok itu merasa senang karena anak baru itu duduk persis di depannya.
“Baik, Bu,” sahut Rina dengan nada sendu karena sudah pasti dirinya akan menjadi tontonan gratis siswa lain selama menjalankan hukuman di lapangan, mana cuaca panas lagi.
Rina ke luar kelas, ada yang merasa kasihan ada juga yang ikut senang karena tidak suka dengan sifat Rina yang selalu saja ingin menang sendiri tapi saat berhadapan dengan guru kelas dirinya tak bisa berkutik.
‘Baru kali ini Rina dapat hukuman berjemur di tengah panas hehehe, gue seneng banget rasanya kena selama ini tuh cewek mulutnya kayak cabe setan!’ bisik salah seorang siswi yang duduk beda satu bangku dengan Nadia.
__ADS_1
‘Lo bener banget, gue juga nggak suka sama si Rina! Cewek itu terlalu sok kaya, padahal seluruh siswa yang ada di sekolah Tunas Bangsa emang rata-rata Sultan kan, tapi gayanya selalu selangit, seolah-olah dia itu adalah anak terkaya di sekolah ini! Moga aja nanti ada petir yang nyambar tuh cewek sampe gosong, hehehe,’ sahut gadis yang duduk berdekatan dengan gadis yang berbisik tadi.
Nadia yang mendengar hanya bisa menggelengkan kepala, mengeluarkan buku yang ada di dalam tasnya serta pena yang akan digunakannya untuk menulis lalu menyimpan tas itu ke dalam laci yang ada di bawah meja. Gadis berkepang dua itu mulai fokus mengarahkan wajah ke depan untuk memperhatikan apa yang akan disampaikan guru serta wali kelas barunya di kota dan sekolah ini.
“Ok semua anak-anak, sekarang sudah tidak ada lagi masalah, bukan? Kalau begitu mari kita lanjutkan pelajaran hari ini!” Ibu Maryam mulai serius dalam menerangkan materi yang sedang disampaikan sementara Renaldo malah sibuk mengamati rambut kepang dua yang terlihat rapi menghiasi kepala Nadia.
‘Coba aja rambut Nadia digerai … gue yakin nih cewek cantik banget, apalagi kalo kacamatanya dilepas ganti dengan kontak lens, beeeh … gue yakin bakal langsung jatuh cinta,’ gumamnya kembali menghalu ria saat guru sibuk bicara, dia pun sibuk dengan khayalannya.
Renaldo menyangga sebelah pipinya dengan satu tangan kiri, matanya tak berkedip memandangi punggung Nadia.
‘Andai aja gue jadi pacarnya, pasti bakal gue bikin Nadia makin cantik dan mengubah penampilannya biar kagak cupu lagi. Semua orang pasti bakal terpesona dan tergila-gila sama dia, tapi nggak jadi deh! Kalo gue ubah penampilannya yang ada Nadia malah dibawa kabur sama cowok lain ding!’ pikirnya tanpa mengetahui kalau Ibu Maryam sudah berada di samping kursi belajarnya.
Wali kelas itu sengaja berjalan ke arah bangku yang diduduki sang ketua kelas karena melihat tatapan kosong dari Pancaran mata seorang Renaldo siswa yang selama ini terkenal melakukan sesuatu dengan suka-suka di sekolah yang memang milik kakeknya sendiri. Siswa yang tak bisa diberikan hukuman berat karena dia merupakan salah satu pewaris yang bisa saja menjadi pemilik sekolah Tunas Bangsa walau masih ada kakaknya.
Ekhem!
Ibu Maryam sengaja mendehem untuk mengingatkan Renaldo agar segera keluar dari lamunannya tapi sayang cowok itu mengira Romi ;ah yang sedang berbuat jahil padanya. Padahal Romi sudah berusaha menyikut pinggang cowok itu supaya lekas bangun dari halu-nya.
__ADS_1
“Apaan sih lo pakai mendehem segala, Rom? Jangan ganggu gue yang lagi menikmati kecantikannya, napa! Coba aja lo bayangin kalau gue bisa melepas kepang rambutnya dan membelai surai hitamnya, beeeh … pasti nikmat banget noh jari gue mengelusnya!” ungkapnya tanpa saringan yang membuat Ibu Maryam langsung naik pitam.
“RENALDO!!”